Selamat Ulang Tahun Jakarta
Jumat, 22 Juni 2012 | 14:48
Jakarta yang pada 22 Juni 2012 genap berusia 485 tahun masih
berkutat dengan persoalan klasik yakni kemacetan, banjir, urbanisasi,
kekumuhan, kriminalitas, krisis air bersih, konflik horizontal, dan penurunan
kualitas lingkungan. Berbagai persoalan ini tidak bisa dijawab dengan
janji-janji. Tindakan nyata dari para pemangku kepentingan di Jakarta serta
pemerintah pusat lebih dibutuhkan. Kalaupun ada janji maka harus ada target
yang dipatok, kemudian diikuti oleh evaluasi. Bila perlu, ada punishment
kepada penanggung jawabnya bila target tidak terpenuhi karena kelalaian.
Ulang tahun Jakarta kali ini bertepatan dengan pemilihan
gubernur DKI Jakarta. Banyak janji diumbar oleh para calon gubernur dan wakil
gubernur. Ada yang mencanangkan target, namun ada juga yang sekadar melontarkan
ide perbaikan. Yang perlu digarisbawahi dan harus menjadi acuan bersama adalah
pernyataan salah satu cagub yang berjanji akan mundur dari posisi gubernur
terpilih bila target yang dicanangkannya saat kampanye, meleset. Sikap seperti
ini seharusnya ada pada semua calon gubernur dan wakil gubernur.
Ada baiknya semua gubernur terpilih memiliki target terukur
dari program yang dikampanyekan sehingga suatu saat nanti akan mudah
mengevaluasinya. Beban tanggung jawab memenuhi janji ini akan membuat gubernur
terpilih memberikan target-target pula kepada bawahannya yakni kepala dinas dan
seterusnya, sampai ke jajaran terbawah. Perbaikan sikap birokrat ini diharapkan
akan membuat solusi persoalan Jakarta tidak berhenti sebatas wacana.
Jakarta butuh mass rapid transit (MRT) dan
transportasi masal berbasis rel lainnya.
Moda ini mempunyai daya angkut sangat besar dan tidak memakan ruang
jalan raya, murah, dan irit bahan bakar, serta paling ramah lingkungan di
banding angkutan umum lain. Kita berharap MRT sebagai salah satu jawaban, harus
dikawal. Jangan sampai macet di tengah jalan sejak pembangunan hingga
operasional. Proyek MRT secara menyeluruh tidak akan selesai dibangun lima atau
sepuluh tahun mendatang. Sambung menyambung koridor hingga semua titik vital
Jabodetabek terjangkau MRT, memerlukan waktu lebih dari 20 tahun. Itu berarti
akan terjadi lebih kurang empat atau lima pemilihan kepala daerah di Jakarta
dan sekitarnya. Karena itu tongkat estafet visi transportasi Jabodetabek ini
harus terus bergulir.
Selain itu perlu dipikirkan pembangunan jalur kereta lingkar
luar yang dapat mengakomodasi pergerakan warga dari Bodetabek tanpa harus ke
Jakarta. Dengan demikian Jakarta tidak akan penuh sesak manusia, terutama pada
siang hari. Warga Jabodetabek pun memiliki alternatif angkutan selain angkutan
umum jalan raya.
Jakarta bersama pemerintah pusat dan swasta bisa
melakukannya bila memang mempunyai niat. Pembebasan tanah yang akan membuat
biaya membengkak bisa diatasi dengan pembangunan rel layang. Diperkirakan butuh
sekitar Rp 7 triliun untuk rute meliputi Penjaringan, Kebon Jeruk, Ulujami,
Pondok Pinang, Taman Mini, Jatiwarna, Cakung, Cilincing, hingga Tanjung Priok
yang panjangnya sekitar 70 km.
Logikanya biaya tersebut terjangkau mengingat Pemprov DKI
berani mewacanakan adanya penghematan energi dengan penggunaan tenaga surya
dengan biaya sekitar Rp 3 triliun untuk merealisasikannya. Kunci dari
penyelesaian ini adalah bagaimana mengatur prioritas penanganan dan alokasi
dana.
Mengenai persoalan banjir, Jakarta sudah membangun kanal
banjir timur. Kini, proyek besar lainnya yang menunggu adalah sodetan antara
banjir kanal barat dan timur serta normalisasi kali. Proyek-proyek raksasa itu
tak akan banyak bermanfaat bila masyarakat Jakarta tak mengubah perilakunya
memperlakukan sungai. Gerakan kali bersih yang berkesinambungan harus terus
digalakkan. Gerakan ini sekaligus akan memberikan solusi untuk persoalan air
bersih Jakarta.
Jakarta tak bisa seterusnya bergantung pada Jatiluhur
sebagai sumber pasokan air baku. Sumber air baku lain yang paling masuk akal
adalah 13 sungai yang mengalir di Jakarta. Karena itu menjaga sungai dari
pencemaran terutama oleh limbah rumah tangga akan sangat bermanfaat pada 10
hingga 20 tahun mendatang.
Persoalan ”kumis” atau kekumuhan dan kemiskinan yang
berhubungan dengan penyerobotan lahan dapat diatasi dengan penataan kawasan
yang konsisten. Luas wilayah kumuh di Jakarta 8.000 ha, 35% di antaranya adalah
permukiman liar atau hunian yang berdiri di lahan milik negara. Artinya,
sekitar 2.940 ha permukiman kumuh bisa diambil alih untuk menghijaukan Jakarta
atau digunakan sesuai rencana tata ruang kota.
Dengan demikian sekali dayung dua pulau terlampaui yakni
target ruang terbuka hijau (RTH) Jakarta 13,9% tercapai dan bahkan bisa
terlampaui. Selain itu, kualitas lingkungan pun akan membaik. RTH berupa taman
yang digarap menjadi ruang rekreasi dan sosialisasi, juga akan menjadi wahana
interaksi antarmanusia sehingga dapat mengurangi tekanan psikologis warga
Jakarta. Kondisi ideal ini dipercaya mengurangi tingkat kriminalitas dan
konflik horizontal, persoalan yang juga selama ini membebani Jakarta.
Berbagai solusi ideal itu tidak akan berhenti sebatas
wacana bila gubernur mendatang, mampu mewujudkannya bersama warga Jakarta.
Selamat Ulang Tahun Jakarta.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
