Para Menteri Bermasalah
Selasa, 24 Juli 2012 | 14:42
Pernyataan Presiden SBY pekan lalu tentang kinerja para
menteri dinilai keras, bahkan sangat keras. Ia menegur para menteri yang
bekerja setengah hati dan terlibat masalah korupsi yang sedang diperanginya. Presiden
menegaskan, para menteri yang tidak bisa membagi waktu dan harus menyukseskan
tugas politik parpolnya, dipersilakan mengundurkan diri. Bagi kita, akan jauh
lebih elegan jika para menteri itu mengundurkan diri daripada dipecat.
Pemilu 2014 masih satu setengah tahun lagi. Tapi, suasana
politik saat ini sudah mirip suasana pemilu. Para politisi -- baik yang berada
di parpol, legislatif, maupun di
pemerintahan-- mulai sibuk mempersiapkan pemilu legislatif dan pilpres
2014. Para bupati, wali kota, dan
gubernur sibuk mengelus jago mereka. Ada 18 menteri dari parpol dalam KIB II,
yakni lima dari Demokrat, masing-masing tiga dari Golkar, PAN, dan PKS, serta
masing-masing dua dari PPP dan PKB.
Sangat tidak etis tingkah laku para menteri itu. Kita tidak
rela para menteri menghalalkan semua cara untuk memenangi pemilu 2014. Seketat
apa pun persaingan politik, etika tetap harus dikedepankan. Setiap politisi
yang dipercayakan menjadi menteri harus patuh kepada presiden. Hanya boleh ada
monoloyalitas dalam kabinet. Tidak boleh ada loyalitas ganda: loyal kepada
presiden yang mengangkatnya sebagai menteri, juga loyal kepada pemimpin partai.
Loyalitas seperti ini merugikan rakyat.
Presiden Soekarno pernah menunjuk Frans Seda sebagai menteri
saat politisi itu tengah memimpin Partai Katolik. Frans menolak. Tapi, Bung
Karno mengatakan, “Aku butuh kamu bukan partaimu”. Frans akhirnya menerima dan
melepaskan kegiatan partai kepada orang lain. Sebagai sarjana ekonomi lulusan
Belanda --yang saat itu bisa dihitung dengan jari-- Frans total bekerja sebagai
orang kepercayaan presiden. Pengabdian kepada negara melebihi kepentingan partai dan kelompok.
Sesuai namanya
--Kabinet Indonesia Bersatu
(KIB)-- Presiden SBY hendak membentuk sebuah kabinet yang didukung
mayoritas suara wakil rakyat di parlemen agar dalam perjalanan tidak banyak
guncangan yang menghambat program pemerintah. Dalam benaknya, Presiden tentu
berprasangka positif bahwa semua kekuatan yang diajak masuk pemerintahan akan
mendukung programnya. Bahwa politisi yang ditunjuk sebagai menteri akan bekerja
“all out”
Dalam perjalanan, sejumlah partai pendukung justru
“mentorpedo” kebijakan pemerintah di Senayan. Kasus Bank Century
dan kenaikan harga BBM merupakan dua contoh nyata yang menunjukkan perlawanan partai
koalisi terhadap pemerintah. Keadaan bertambah runyam ketika para menteri dari
parpol lebih banyak bekerja untuk kepentingan partai dengan menggunakan
fasilitas sebagai menteri.
Dengan fasilitas menteri, para politisi itu bisa ke
mana-mana, ke seluruh wilayah Indonesia, mengunjungi konstituen dengan leluasa.
Fasilitas menteri tidak digunakan optimal untuk kepentingan rakyat.
Lewat Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian
Pembangunan (UKP4), Presiden mengetahui kinerja dan kemajuan setiap menteri.
Menyimak pernyataannya pekan lalu, kita yakin bahwa Presiden sungguh kecewa
terhadap kinerja para menterinya. Saat menghadapi krisis ekonomi global yang
dipicu krisis Eropa, juga saat bahaya krisis energi dan krisis pangan di depan
mata, para menteri terkait tidak menunjukkan kemajuan, bahkan justru
sebaliknya. Saat Presiden menghunus pedang dan berdiri paling depan untuk
membasmi korupsi, sejumlah menterinya diterpa isu megakorupsi.
Pertanian, energi, perdagangan, dan industri adalah empat
sektor yang paling tercecer. Anggaran untuk Kementerian Pertanian terus
meningkat setiap tahun, tapi defisit neraca pangan Indonesia terus meningkat.
Sejumlah sumber di Kementerian Pertanian mengakui bahwa produksi gabah
sesunggguhnya terus menurun dan defisit beras membesar. Kondisi ini terjadi karena lahan pertanian
terus menciut, produktivitas padi menurun, lebih dari 50% irigasi hancur,
penangkaran benih tidak jalan, penyuluh pertanian sangat minim, dan petani tidak
mendapatkan modal kerja.
Keadaan paling krusial adalah lahan sawah yang hanya 0,3 ha
per petani. Kondisi ini bisa diatasi dengan perluasan lahan, pembangunan waduk
dan perbaikan irigasi, mekanisasi pertanian untuk meningkatkan rendemen,
diverisifikasi tanaman pangan, bibit unggul,
permodalan, dan pengalihan tenaga kerja sektor pertanian ke sektor
industri. Tapi, Kementerian Pertanian dan instansi terkait tidak
sungguh-sungguh merespons keadaan. Jika keadaan ini terus dibiarkan, defisit
pangan akan semakin besar, ketahanan pangan jebol, harga pangan akan membubung
tinggi tak terkendali, dan nasib petani akan kian merana.
Di bidang energi, kita tidak lagi mendengar upaya
sungguh-sungguh dan sistematis dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) untuk menghemat konsumsi BBM bersubsidi. Gerakan hemat energi dan diversifikasi energi terhenti. Konversi
BBM ke gas tak lagi kedengaran gaungnya. Lifting minyak menurun.
Penambangan di berbagai wilayah tidak terkendali. Pembangunan berwawasan
lingkungan dan konsep green economy tidak jalan. Kementerian ESDM baru
kelihatan bekerja saat harga minyak mentah melonjak, setelah itu sunyi senyap.
Industri dan perdagangan juga menunjukkan kemunduran.
Hilirisasi masih sekadar wacana. Indonesia mengimpor hampir semua produk
industri, mulai dari jarum dan peniti hingga mobil dan pesawat. Sektor industri
belum bisa diandalkan untuk menampung tenaga kerja yang beralih dari sektor
pertanian. Gerak industri dalam negeri semakin terbatas karena Indonesia
meliberalisasi perdagangan semua mata barang. Kementerian Perdagangan seakan
hanya mengurusi produk impor.
Rakyat bisa memahami jika Presiden geram melihat para
menterinya yang tidak tahu diri. Tanpa menunjukkan prestasi, bahkan menggerogoti pemerintahan dari dalam, mereka
tetap bercokol di jabatan menteri. Lebih dahsyat lagi, aktivitas menteri dari
parpol justru lebih banyak mengurusi kepentingan partai untuk memenangi pemilu
2014. Mereka sama sekali tidak memiliki rasa malu. Belum selesai mengemban
tugas kenegaraan, mereka malah memikirkan jabatan untuk periode pemerintahan
akan datang.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
