Kuat Ekonomi, Kuat Militer
Kamis, 19 Januari 2012 | 11:49
Kuat secara ekonomi saja tidak cukup bagi sebuah negara
berdaulat. Makmur saja belum cukup bagi suatu bangsa bila tidak disertai rasa aman. Tanpa diimbangi kekuatan
militer, negara takkan mampu menjaga
tanah tumpah darah dan melindungi segenap bangsanya. Itu sebabnya,
negara-negara maju membangun kekuatan militernya lewat pengembangan industri
dalam negeri. Pembangunan ekonomi dan peningkatan kekuatan militer berjalan
seiring.
Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah mengalokasikan
dana Rp 150 triliun selama lima tahun, 2009-2014, untuk memperkuat persenjataan
Indonesia, di antaranya Rp 50 triliun untuk pengadaan alat utama sistem
pertahanan (alutsista) di dalam negeri. Jauh sebelum Jokowi -Joko Widodo, Wali
Kota Solo- mempromosikan mobil Esemka, Kementerian Pertahanan sudah menetapkan
kebijakan untuk meningkatkan kekuatan militer Indonesia lewat pengadaan
alutsista di dalam negeri.
Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk nomor empat di
dunia-setelah RRT, India, dan AS-, sewajarnya Indonesia mampu memproduksi
sendiri senjata. Mengandalkan senjata impor hanya memposisikan Indonesia
sebagai ayam sayur. Negara eksportir senjata dengan mudah mematahkan kekuatan
Indonesia lewat embargo. Menghentikan pengiriman suku cadang dan bantuan
perawatan saja, Indonesia sudah pasti kewalahan. Memiliki industri alutsista
dan keahlian di bidang industri persenjataan adalah cara terbaik mempertahankan
diri dan menjaga kedaulatan bangsa.
Kita memberikan apresiasi kepada kebijakan Kementerian
Pertahanan dalam memperkuat pertahanan nasional lewat pengadaan alutsista di
dalam negeri dan kerjasama produksi alutsista dengan sejumlah negara. Indonesia
kini, antara lain, sedang memproduksi pesawat tempur yang lebih canggih dari
F-16 di Korsel. Dengan kepemilikan 20%, pada tahun 2020, RI akan memiliki 50
pesawat tempur canggih. Pada saatnya, pesawat
tempur itu akan diproduksi di Indonesia dan negeri ini akan menjadi
eksportir pesawat tempur canggih.
Salah satu komitmen produksi alutsista di dalam negeri
ditunjuk Kementerian Pertahanan lewat order Rp 10 triliun kepada PT Dirgantara
Indonesia (DI), sebuah BUMN strategis yang sempat berjaya di masa Orde Baru,
tapi kemudian nyaris bangkrut karena kekuatannya dipreteli pemerintah atas
desakan International Monetary Fund (IMF).
Selain PT DI, BUMN strategis
lainnya-PT Pindad, PT PAL, PT Inka, PT Inti, PT Barata, PT Dahana, Bhoma Bisma, dan PT Krakatau Steel-dikerdilkan. Pemerintah
menghentikan dukungan pendanaan dan terutama berbagai kebijakan yang
mendukung.
Dukungan paling penting terhadap industri nasional selain
pendanaan adalah komitmen pemerintah untuk membeli. Jika semua kementerian dan
BUMN, pemerintah pusat hingga daerah, memproritaskan produksi dalam negeri
setiap pengadaan barang, industri dalam negeri akan bertumbuh pesat. Jika setiap pemda yang memiliki laut memesan kapal dari PT PAL, maju pesatlah BUMN itu.
Begitu pula dengan PT DI, PT Inka, BUMN strategis lainnya dan perusahaan
swasta. Langkah itulah yang dilakukan Korsel dan negara-negara maju saat
pertama kali mengembangkan industri mereka.
Langkah konkret telah diambil Jokowi. Wong Solo itu
menggantikan Toyota Chamry, mobil dinasnya, dengan mobil buatan siswa SMK
yang belum lulus uji kelayakan hanya dengan maksud untuk mendorong bangsa ini
memiliki mobil nasional (mobnas). Ia
memasang nomor AD-1, plat resmi Wali Kota Solo pada mobil Esemka
sebagai wujud protes terhadap
pemerintah dan elite bisnis yang terlalu berorientasi asing dan cenderung
menyepelekan kemampuan bangsa. Dalam benaknya, jika siswa SMK saja bisa membuat
mobil, bagaimana mahasiswa dan para ahli dari ITB, ITS, dan berbagai fakultas
teknik di Tanah Air? Bagaimana BPPT dan sejumlah industri strategis nasional?
Langkah Jokowi bagai bigbang yang meledakkan pengaruh
positif ke seluruh penjuru Tanah Air.
Para pejabat, politisi, artis, dan sejumlah
komponen masyarakat beramai-ramai memesan mobil Esemka. Jokowi Effect
ikut memperkuat semangat pembuatan alutsista di dalam negeri. Menteri BUMN
Dahlan Iskan menyiagakan semua BUMN strategis untuk mendukung produksi berbagai jenis otomotif dan alutsista.
Langkah konkret sudah ditunjukkan Kementerian Pertahanan.
Selama ini, diam-diam, sudah banyak alutsista diproduksi di dalam negeri.
PT
Pindad, antara lain, sudah memproduksi
pistol, senjata laras panjang, dan panser. Ketiga produk ini pun sudah
diekspor setelah terbukti unggul dalam berbagai perlombaan senjata di level
Asia. PT PAL memproduksi kapal perang dan kapal selam. Bersama Rusia dan RRT,
PT PAL memproduksi kapal perang
berukuran 60 meter untuk mengangkut roket-roket dengan jangkauan 120 km.
Kementerian Pertahanan sudah mengorder alutsista senilai Rp
10 triliun kepada PT DI. Ditambah kredit dari PT BRI Tbk senilai Rp 1,5
triliun, BUMN yang awalnya bernama PT Nurtanio ini memproduksi helikopter, pesawat, dan roket. PT Inka yang pernah memproduksi mobil Gea
akan didorong untuk memproduksi mobil di samping gerbong kereta api.
PT DI tidak saja pernah terbukti memproduksi
pesawat CN-235 dan CN-250, melainkan juga meluncurkan dua jenis mobil
penumpang, Komodo dan Maleo.
Baru sedikit pembenahan, kekuatan militer Indonesia sudah
membuat negara tetangga gentar. Singapura dan Malaysia adalah dua negara jiran
yang sangat khawatir dengan kekuatan militer Indonesia. Mereka tahu persis,
personel TNI Indonesia jauh lebih banyak. Jika para prajurit berani mati ini
dibekali peralatan canggih, betapa dahsyat kekuatan militer RI.
Dengan membenahi kekuatan pertahanan, Indonesia memberikan sinyal kepada dunia
bahwa negeri ini punya gengsi, bangsa ini punya martabat. Selain pengadaan alutsista dalam negeri, Indonesia
menambah pesawat tempur F-16, kapal perang, tank canggih, dan berbagai jenis
alutsista.
Peningkatan kekuatan militer Indonesia bukan untuk
menakut-nakuti tetangga, melainkan untuk menjaga kepentingan Indonesia dan
wilayah Nusantara yang amat luas.
Selama ini, sekitar Rp 150 triliun per tahun
kekayaan laut Indonesia dicuri kapal ikan asing yang canggih. Penyelundupan BBM
dan berbagai produk lewat laut lepas dan pulau-pulau yang amat banyak sulit dideteksi akibat minimnya kapal dan
pesawat canggih.
Kekuatan ekonomi dan militer saling mendukung. Ekonomi yang
baik meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memperkuat pertahanan, menjaga
setiap jengkal wilayah dan melindungi setiap warga negara dari ancaman musuh.
Belanja militer akan terus dinaikkan seiring dengan peningkatan kemampuan
ekonomi. Dengan pertahanan yang baik,
militer Indonesia bisa menjaga semua kepentingan ekonomi negara. Dengan militer
yang kuat, bangsa ini tidak perlu merunduk-runduk pada negara adikuasa dan
mengalah dalam setiap perundingan yang merugikan dan membahayakan kepentingan
bangsa dan negara.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
