SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Kuat Ekonomi, Kuat Militer
Kamis, 19 Januari 2012 | 11:49

Kuat secara ekonomi saja tidak cukup bagi sebuah negara berdaulat. Makmur saja belum cukup bagi suatu bangsa  bila tidak disertai rasa aman. Tanpa diimbangi kekuatan militer,  negara takkan mampu menjaga tanah tumpah darah dan melindungi segenap bangsanya. Itu sebabnya, negara-negara maju membangun kekuatan militernya lewat pengembangan industri dalam negeri. Pembangunan ekonomi dan peningkatan kekuatan militer berjalan seiring.

Kesadaran inilah yang mendorong pemerintah mengalokasikan dana Rp 150 triliun selama lima tahun, 2009-2014, untuk memperkuat persenjataan Indonesia, di antaranya Rp 50 triliun untuk pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) di dalam negeri. Jauh sebelum Jokowi -Joko Widodo, Wali Kota Solo- mempromosikan mobil Esemka, Kementerian Pertahanan sudah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan kekuatan militer Indonesia lewat pengadaan alutsista di dalam negeri.

Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk nomor empat di dunia-setelah RRT, India, dan AS-, sewajarnya Indonesia mampu memproduksi sendiri senjata. Mengandalkan senjata impor hanya memposisikan Indonesia sebagai ayam sayur. Negara eksportir senjata dengan mudah mematahkan kekuatan Indonesia lewat embargo. Menghentikan pengiriman suku cadang dan bantuan perawatan saja, Indonesia sudah pasti kewalahan. Memiliki industri alutsista dan keahlian di bidang industri persenjataan adalah cara terbaik mempertahankan diri dan menjaga kedaulatan bangsa.

Kita memberikan apresiasi kepada kebijakan Kementerian Pertahanan dalam memperkuat pertahanan nasional lewat pengadaan alutsista di dalam negeri dan kerjasama produksi alutsista dengan sejumlah negara. Indonesia kini, antara lain, sedang memproduksi pesawat tempur yang lebih canggih dari F-16 di Korsel. Dengan kepemilikan 20%, pada tahun 2020, RI akan memiliki 50 pesawat tempur canggih. Pada saatnya, pesawat  tempur itu akan diproduksi di Indonesia dan negeri ini akan menjadi eksportir pesawat tempur canggih.

Salah satu komitmen produksi alutsista di dalam negeri ditunjuk Kementerian Pertahanan lewat order Rp 10 triliun kepada PT Dirgantara Indonesia (DI), sebuah BUMN strategis yang sempat berjaya di masa Orde Baru, tapi kemudian nyaris bangkrut karena kekuatannya dipreteli pemerintah atas desakan International Monetary Fund (IMF).  Selain PT DI,  BUMN strategis lainnya-PT Pindad, PT PAL, PT Inka, PT Inti, PT Barata,  PT Dahana, Bhoma Bisma, dan PT  Krakatau Steel-dikerdilkan. Pemerintah menghentikan dukungan pendanaan dan terutama berbagai kebijakan yang mendukung. 

Dukungan paling penting terhadap industri nasional selain pendanaan adalah komitmen pemerintah untuk membeli. Jika semua kementerian dan BUMN, pemerintah pusat hingga daerah, memproritaskan produksi dalam negeri setiap pengadaan barang, industri dalam negeri akan bertumbuh pesat.  Jika setiap pemda yang memiliki laut memesan  kapal dari PT PAL, maju pesatlah BUMN itu. Begitu pula dengan PT DI, PT Inka, BUMN strategis lainnya dan perusahaan swasta. Langkah itulah yang dilakukan Korsel dan negara-negara maju saat pertama kali mengembangkan industri mereka. 

Langkah konkret telah diambil Jokowi. Wong Solo itu menggantikan Toyota Chamry, mobil dinasnya, dengan  mobil buatan siswa  SMK yang belum lulus uji kelayakan hanya dengan maksud untuk mendorong bangsa ini memiliki mobil nasional (mobnas). Ia  memasang nomor AD-1, plat resmi Wali Kota Solo pada mobil Esemka sebagai  wujud protes terhadap pemerintah dan elite bisnis yang terlalu berorientasi asing dan cenderung menyepelekan kemampuan bangsa. Dalam benaknya, jika siswa SMK saja bisa membuat mobil, bagaimana mahasiswa dan para ahli dari ITB, ITS, dan berbagai fakultas teknik di Tanah Air? Bagaimana BPPT dan sejumlah industri strategis nasional? Langkah Jokowi bagai bigbang yang meledakkan pengaruh positif ke seluruh penjuru Tanah Air.

Para pejabat, politisi, artis, dan sejumlah komponen masyarakat beramai-ramai memesan mobil Esemka. Jokowi Effect ikut memperkuat semangat pembuatan alutsista di dalam negeri. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyiagakan semua BUMN strategis untuk mendukung produksi  berbagai jenis otomotif dan alutsista. Langkah konkret sudah ditunjukkan Kementerian Pertahanan. Selama ini, diam-diam, sudah banyak alutsista diproduksi di dalam negeri.

PT Pindad, antara lain, sudah memproduksi  pistol, senjata laras panjang, dan panser. Ketiga produk ini pun sudah diekspor setelah terbukti unggul dalam berbagai perlombaan senjata di level Asia. PT PAL memproduksi kapal perang dan kapal selam. Bersama Rusia dan RRT, PT PAL memproduksi kapal perang  berukuran 60 meter untuk mengangkut roket-roket  dengan jangkauan 120 km.  Kementerian Pertahanan sudah mengorder alutsista senilai Rp 10 triliun kepada PT DI. Ditambah kredit dari PT BRI Tbk senilai Rp 1,5 triliun, BUMN yang awalnya bernama PT Nurtanio ini  memproduksi helikopter, pesawat, dan roket.  PT Inka yang pernah memproduksi mobil Gea akan didorong untuk memproduksi mobil di samping gerbong kereta api. 

PT DI tidak saja pernah terbukti memproduksi pesawat CN-235 dan CN-250, melainkan juga meluncurkan dua jenis mobil penumpang, Komodo dan Maleo. Baru sedikit pembenahan, kekuatan militer Indonesia sudah membuat negara tetangga gentar. Singapura dan Malaysia adalah dua negara jiran yang sangat khawatir dengan kekuatan militer Indonesia. Mereka tahu persis, personel TNI Indonesia jauh lebih banyak. Jika para prajurit berani mati ini dibekali peralatan canggih, betapa dahsyat kekuatan militer RI. 

Dengan membenahi  kekuatan pertahanan, Indonesia memberikan sinyal kepada dunia bahwa negeri ini punya gengsi, bangsa ini punya martabat.  Selain pengadaan alutsista dalam negeri, Indonesia menambah pesawat tempur F-16, kapal perang, tank canggih, dan berbagai jenis alutsista. Peningkatan kekuatan militer Indonesia bukan untuk menakut-nakuti tetangga, melainkan untuk menjaga kepentingan Indonesia dan wilayah Nusantara yang amat luas.

Selama ini, sekitar Rp 150 triliun per tahun kekayaan laut Indonesia dicuri kapal ikan asing yang canggih. Penyelundupan BBM dan berbagai produk lewat laut lepas dan pulau-pulau yang amat banyak  sulit dideteksi akibat minimnya kapal dan pesawat canggih. Kekuatan ekonomi dan militer saling mendukung. Ekonomi yang baik meningkatkan kemampuan Indonesia dalam memperkuat pertahanan, menjaga setiap jengkal wilayah dan melindungi setiap warga negara dari ancaman musuh. Belanja militer akan terus dinaikkan seiring dengan peningkatan kemampuan ekonomi.  Dengan pertahanan yang baik, militer Indonesia bisa menjaga semua kepentingan ekonomi negara. Dengan militer yang kuat, bangsa ini tidak perlu merunduk-runduk pada negara adikuasa dan mengalah dalam setiap perundingan yang merugikan dan membahayakan kepentingan bangsa dan negara.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN