SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip

Kebangkitan Mental Nasional
Senin, 21 Mei 2012 | 14:00

Setiap 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Sebuah peringatan terhadap peristiwa sejarah 104 silam, saat para intelektual muda membentuk organisasi modern Budi Utomo. Kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908, selanjutnya menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan modern, dengan puncaknya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.  

Tahun ini, pemerintah mencanangkan tema Harkitnas meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berkarakter, damai, dan berdaya saing menuju masyarakat sejahtera. Tema tersebut tentu diselaraskan dengan kondisi bangsa saat ini.  

Setiap kali memperingati Harkitnas, pertanyaan yang selalu menjadi permenungan kita sebagai bangsa: Benarkah kita sudah bangkit? Benarkah buah kebangkitan itu nyata dirasakan seluruh anak bangsa saat ini? Manakala sampai menghadapi pertanyaan itu, selalu jawabannya adalah: belum!  

Memang, saat ini kita merasakan infrastruktur semakin lengkap dan modern, sekolah sudah tersebar sampai di pelosok pedesaan, pendapatan per kapita masyarakat meningkat seiring dengan ekonomi yang selalu bertumbuh tiap tahun. Bahkan dunia mengakui kemajuan (kebangkitan) Indonesia sebagai potret negara berkembang, yang bakal menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia bersama Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok.  

Namun, esensi kebangkitan nasional bukan semata-mata pada pencapaian pembangunan fisik dan statistik yang memukau. Kedua dimensi itu disadari rawan manipulasi. Esensi utama dari kebangkitan nasional adalah pada pembangunan manusia Indonesia itu sendiri. Itulah mengapa tema Harkitnas saat ini dikaitkan dengan aspek kemanusiaan, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara, berkarakter, damai, berdaya saing, dan kesejahteraan. Semua aspek itu tidak bersentuhan dengan dimensi fisik dan statistik.  

Pada kenyataannya, saat ini kita menghadapi keterpurukan dalam dimensi kemanusiaan. Saat ini, persoalan terbesar yang dihadapi adalah moral dan mental bangsa. Semakin maraknya kasus korupsi, menunjukkan rendahnya moral dan mental para penyelenggara negara. Mereka dengan sengaja menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk merampok uang negara, dengan beragam kedok, terutama mengambil komisi dari proyek-proyek yang didanai APBN.  

Di sisi lain sikap mental mereka belum menunjukkan seorang negarawan yang berpikir jauh untuk kepentingan seluruh bangsa ini dalam menghadapi persaingan di masa depan. Sikap mental mereka terbelenggu dengan orientasi khas politisi, yakni bagaimana merebut dan melanggengkan kekuasaan, yang telah memberi mereka suatu comfort zone, di segala bidang, terutama hukum dan ekonomi.  

Pada elemen lain bangsa ini, juga tengah dihinggapi dengan sikap mental yang malas bekerja dan berusaha. Tengok saja di setiap perempatan banyak orang rela menjadi pengemis, mengharap sedekah dari pengendara kendaraan. Mereka ini masuk golongan sangat miskin dari sisi ekonomi.  

Kehidupan mereka menggambarkan seolah tidak ada harapan untuk bangkit dari kubangan kemiskinan. Hal itu diperparah dengan banyaknya program pemerintah dan partai politik (parpol) yang bersifat karitas, bukan padat karya. Program-program itu sengaja dikemas sebagai alat politik untuk mendulang dukungan, dengan seolah-olah mempertontonkan kepedulian kepada mereka yang miskin.  

Namun, sejatinya hal itu justru semakin membenamkan mereka pada lembah kemiskinan, karena tidak mendorong perbaikan sikap mental yang gigih dan ulet untuk berusaha dan bekerja.   Terkait hal itu, masih ada penyakit bangsa ini yang tidak sejalan dengan semangat kebangkitan nasional, yakni tidak memiliki kultur “do the best”. Budaya jalan pintas, alias instan, menjadi jalan keluar untuk meraih kesuksesan atau keluar dari kemelut.  

Contoh nyata, kasus perjokian dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri dan maraknya kasus kebocoran soal ujian nasional. Budaya instan ini ternyata telah mengakar sejak usia dini. Akibatnya, dalam jangka panjang kita tidak memiliki generasi yang siap berkompetisi di level global. Mereka terjebak dengan pengabaian pada prosedural dan disiplin, serta tata tertib dan etika dalam seluruh aspek kehidupan.   Kebangkitan nasional merupakan momentum yang telah membangun komitmen kolektif bangsa untuk bersatu dan mengembangkan jiwa nasionalisme, dalam rangka merebut kemerdekaan. Di masa kini, momentum itu harus dimaknai sebagai upaya membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara agar sembuh dan bangkit dari berbagai penyakit kronik yang selama ini membuat kita tertinggal dibanding bangsa lain.  

Jika peristiwa sejarah pada 1908 kita menghadapi lawan kolonialisme, kini musuh nyata bangsa Indonesia adalah diri kita sendiri. Problema terbesar yang harus segera diatasi adalah persoalan mental. Sikap mental yang selalu enggan melakukan perubahan, memelihara pola pikir yang negatif, selalu mengatakan tidak bisa, pasti gagal, kemalasan, ketidakdisiplinan, iri hati, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar adalah sebagaian besar karakter yang mestinya dihancurkan.  

Sebuah kebangkitan nasional seharusnya juga diwarnai dengan sebuah kebangkitan mental yang baru. Sebuah mental untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa ini lewat peran dan karya masing- masing anak bangsa.




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN