Kebangkitan Mental Nasional
Senin, 21 Mei 2012 | 14:00
Setiap 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari
Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Sebuah peringatan terhadap peristiwa sejarah
104 silam, saat para intelektual muda membentuk organisasi modern Budi Utomo.
Kelahiran Budi Utomo pada 20 Mei 1908, selanjutnya menjadi salah satu tonggak
sejarah perjuangan modern, dengan puncaknya Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus
1945.
Tahun ini, pemerintah mencanangkan tema Harkitnas
meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara yang berkarakter, damai, dan
berdaya saing menuju masyarakat sejahtera. Tema tersebut tentu diselaraskan
dengan kondisi bangsa saat ini.
Setiap kali memperingati Harkitnas, pertanyaan yang selalu
menjadi permenungan kita sebagai bangsa: Benarkah kita sudah bangkit? Benarkah
buah kebangkitan itu nyata dirasakan seluruh anak bangsa saat ini? Manakala
sampai menghadapi pertanyaan itu, selalu jawabannya adalah: belum!
Memang, saat ini kita merasakan infrastruktur semakin
lengkap dan modern, sekolah sudah tersebar sampai di pelosok pedesaan,
pendapatan per kapita masyarakat meningkat seiring dengan ekonomi yang selalu
bertumbuh tiap tahun. Bahkan dunia mengakui kemajuan (kebangkitan) Indonesia
sebagai potret negara berkembang, yang bakal menjadi kekuatan ekonomi baru di
dunia bersama Brasil, Rusia, India, dan Tiongkok.
Namun, esensi kebangkitan nasional bukan semata-mata pada
pencapaian pembangunan fisik dan statistik yang memukau. Kedua dimensi itu
disadari rawan manipulasi.
Esensi utama dari kebangkitan nasional adalah pada
pembangunan manusia Indonesia itu sendiri. Itulah mengapa tema Harkitnas saat
ini dikaitkan dengan aspek kemanusiaan, yakni kesadaran berbangsa dan
bernegara, berkarakter, damai, berdaya saing, dan kesejahteraan. Semua aspek
itu tidak bersentuhan dengan dimensi fisik dan statistik.
Pada kenyataannya, saat ini kita menghadapi keterpurukan
dalam dimensi kemanusiaan. Saat ini, persoalan terbesar yang dihadapi adalah
moral dan mental bangsa. Semakin maraknya kasus korupsi, menunjukkan rendahnya
moral dan mental para penyelenggara negara. Mereka dengan sengaja
menyalahgunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk merampok uang negara, dengan
beragam kedok, terutama mengambil komisi dari proyek-proyek yang didanai APBN.
Di sisi lain sikap mental mereka belum menunjukkan seorang
negarawan yang berpikir jauh untuk kepentingan seluruh bangsa ini dalam
menghadapi persaingan di masa depan. Sikap mental mereka terbelenggu dengan
orientasi khas politisi, yakni bagaimana merebut dan melanggengkan kekuasaan,
yang telah memberi mereka suatu comfort zone, di segala bidang, terutama
hukum dan ekonomi.
Pada elemen lain bangsa ini, juga tengah dihinggapi dengan
sikap mental yang malas bekerja dan berusaha. Tengok saja di setiap perempatan
banyak orang rela menjadi pengemis, mengharap sedekah dari pengendara
kendaraan. Mereka ini masuk golongan sangat miskin dari sisi ekonomi.
Kehidupan mereka menggambarkan seolah tidak ada harapan
untuk bangkit dari kubangan kemiskinan. Hal itu diperparah dengan banyaknya
program pemerintah dan partai politik (parpol) yang bersifat karitas, bukan
padat karya. Program-program itu sengaja dikemas sebagai alat politik untuk
mendulang dukungan, dengan seolah-olah mempertontonkan kepedulian kepada mereka
yang miskin.
Namun, sejatinya hal itu justru semakin membenamkan mereka
pada lembah kemiskinan, karena tidak mendorong perbaikan sikap mental yang
gigih dan ulet untuk berusaha dan bekerja.
Terkait hal itu, masih ada penyakit bangsa ini yang tidak
sejalan dengan semangat kebangkitan nasional, yakni tidak memiliki kultur “do
the best”. Budaya jalan pintas, alias instan, menjadi jalan keluar untuk
meraih kesuksesan atau keluar dari kemelut.
Contoh nyata, kasus perjokian dalam seleksi masuk perguruan
tinggi negeri dan maraknya kasus kebocoran soal ujian nasional. Budaya instan
ini ternyata telah mengakar sejak usia dini. Akibatnya, dalam jangka panjang
kita tidak memiliki generasi yang siap berkompetisi di level global. Mereka
terjebak dengan pengabaian pada prosedural dan disiplin, serta tata tertib dan
etika dalam seluruh aspek kehidupan.
Kebangkitan nasional merupakan momentum yang telah membangun
komitmen kolektif bangsa untuk bersatu dan mengembangkan jiwa nasionalisme,
dalam rangka merebut kemerdekaan. Di masa kini, momentum itu harus dimaknai
sebagai upaya membenahi kehidupan berbangsa dan bernegara agar sembuh dan
bangkit dari berbagai penyakit kronik yang selama ini membuat kita tertinggal
dibanding bangsa lain.
Jika peristiwa
sejarah pada 1908 kita menghadapi lawan kolonialisme, kini musuh nyata bangsa
Indonesia adalah diri kita sendiri. Problema terbesar yang harus segera diatasi
adalah persoalan mental. Sikap mental yang selalu enggan melakukan perubahan,
memelihara pola pikir yang negatif, selalu mengatakan tidak bisa, pasti gagal,
kemalasan, ketidakdisiplinan, iri hati, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri
sebagai bangsa yang besar adalah sebagaian besar karakter yang mestinya
dihancurkan.
Sebuah
kebangkitan nasional seharusnya juga diwarnai dengan sebuah kebangkitan mental
yang baru. Sebuah mental untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa ini lewat
peran dan karya masing- masing anak bangsa.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
