Dengarlah ‘Teriakan’ Rakyat
Kamis, 12 Juli 2012 | 14:25
Setiap hari rakyat “berteriak” meminta perubahan. Meminta
akses pelayanan kesehatan dan pendidikan. Meminta perbaikan lalu lintas kota
yang macet. Meminta sistem drainase yang baik, yang mampu mencegah banjir di
musim penghujan. Meminta perbaikan tata kota. Meminta perbaikan tata kelola
birokrasi. Meminta keseriusan para penyelenggara negara memberantas korupsi.
Teriakan itu biasanya sangat lantang pada saat kampanye
pemilu. Ketika para kandidat anggota dewan, calon bupati dan walikota, calon
gubernur, dan calon presiden datang meminta dukungan, rakyat mendapat
kesempatan untuk “berteriak” selantang-lantangnya meminta perubahan. Hanya lima tahun sekali para jelata dan kelas
menengah mendapat kesempatan untuk
meneriakkan penderitaan mereka.
Biasanya, para kandidat datang menghampiri konstituen dengan
memposisikan diri sebagai dewa penyelamat. Mereka menebar janji untuk membuat
perubahan. Namun, setelah terpilih, aspirasi rakyat dilupakan. Janji yang
pernah dilontarkan tak lagi diingat. Kepentingan pribadi, kelompok, dan partai
memaksa mereka lupa semua janji manis. My word is not bond. Seakan-akan
janji bukan kewajiban.
Lima tahun kemudian, tanpa malu, para pengobral janji
itu datang lagi. Mereka menghampiri rakyat bukan terutama untuk mengangkat
rakyat dari penderitaan, melainkan dukungan suara agar menang dalam
pertarungan.
Dengan pemahaman ini kita menyaksikan Pilkada DKI Jakarta,
pemilu yang dianggap banyak orang sebagai barometer politik Indonesia. Hasil
sementara Pilkada DKI, Rabu (11/7) memperlihatkan keunggulan Jokowi-Ahok. Tapi, pasangan dari luar Jakarta
ini tidak bisa langsung dinyatakan sebagai pemenang. Sebab, khusus untuk DKI
Jakarta, calon gubernur baru akan dinyatakan pemenang jika meraih suara hingga
50%+1.
Pasangan Jokowi-Ahok yang meraih suara di atas 40% harus
bertarung di putaran kedua dengan pasangan Foke-Nara yang berada di urutan
kedua dengan raihan suara terpaut sekitar 10% di bawah mereka.
Sangat fenomenal keunggulan Jokowi-Ahok. Tak satu pun
lembaga survei yang memprediksi keunggulan mereka. Setiap survei selalu menempatkan incumbent pada urutan
pertama. Pasangan yang datang dari luar DKI tak pernah diramalkan sebagai
pemenang. Tapi, kenyataan menunjukkan hal berbeda dan itu bisa disimpulkan
dengan satu kata: perubahan. Masyarakat Jakarta yang heterogen ini mengharapkan
perubahan. Mereka ingin figur yang sungguh-sungguh mendengarkan “teriakan”
mereka.
Pertama, rakyat DKI mengharapkan pemimpin yang mampu
mengurai kemacetan lalu lintas. Apa pun alasan yang dikemukakan pemerintah,
rakyat hanya ingin penurunan tingkat kemacetan. Rakyat acap bertanya, mengapa
negara lain bisa menata ibukotanya hingga bebas dari kemacetan, sedangkan kita
tidak mampu dan seakan tidak berdaya?
Kedua, terkait kemacetan, rakyat mengharapkan sistem
transportasi yang lebih berpihak pada angkutan umum. Tingginya jumlah angkutan
pribadi dan buruknya angkutan umum
merupakan bukti kasat mata. Jumlah angkutan umum yang hanya 8% dari
total kendaraan mengangkut 98% warga
yang mengadakan perjalanan. Jika ada transportasi umum yang aman dan nyaman,
kelas menengah atas pun akan memilih angkutan umum.
Ketiga,
rakyat mengharapkan sebuah tata kota yang memanusiakan warga. Para
pejalan kaki, termasuk pelancong, bisa berjalan kaki dengan leluasa dan bangga
karena trotoar lebar dan bersih dari pedagang kaki lima. Rakyat mengharapkan
ruang publik untuk rekreasi dan bersosialisasi. Rakyat mengimpikan ruang
terbuka hijau di setiap RW. Jakarta saat ini terlalu sumpek, berdebu, kotor,
dan tidak tertata.
Keempat, para pedagang kecil mengharapkan kawasan khusus untuk mereka.
Sebutlah kawasan khusus pedagang kaki lima yang dilengkapi sejumlah fasilitas
penting. Tanpa area khusus, pedagang kaki lima akan terus menghuni trotoar dan
berbagai kawasan terlarang.
Kelima, selain infrastruktur transportasi yang baik,
penduduk kota mengharapkan ketersediaan air minum. Sebagian besar warga kota
hidup dari air sumur, bukan air pipa yang dilayani perusahaan air minum.
Sebagian warga yang sudah terlayani air PAM acap mengeluh kontinuitas pasokan
dan kualitas air.
Keenam, warga kota mengharapkan akses yang lebih
tinggi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan. Sekitar 46,7%
warga Jakarta maksimal berpendidikan SD dan sederajat. Di antara mereka, ada
satu juta lebih atau 6% yang belum pernah duduk di bangku sekolah dan 2,7 juta
atau 16,7% tidak tamat SD. Sekitar 1,5 juta atau 31% warga DKI bekerja di
sektor informal, khususnya pedagang. Jika tidak ditata, pekerja informal
cenderung melanggar peruntukan kawasan sebagaimana terjadi selama ini.
Ketujuh, warga mengimpikan pemimpin yang punya visi,
program yang terukur dan kemampuan menggerakkan roda organisasi untuk melayani
seluruh rakyat. Pemimpin yang bisa menjadi suri teladan dalam membasmi korupsi
hingga ke akar-akarnya.
Sangat wajar jika laju pertumbuhan DKI di atas rata-rata
nasional karena lebih dari 70% uang beredar di Jakarta. Jakarta bukan saja
pusat pemerintahan, melainkan juga pusat kegiatan ekonomi, hiburan, dan
pendidikan. APBD Jakarta lebih dari cukup untuk merespons positif tujuh isu
yang menjadi perhatian rakyat. Pada tahun 2011, misalnya, APBD DKI sebesar Rp
28,3 triliun. PAD Jakarta termasuk yang
tertinggi di Indonesia, yakni Rp 17,8 triliun atau 63% dari APBD tahun 2011.
Jakarta bukan saja
barometer politik dan ekonomi, tapi juga barometer peradaban Indonesia. Karena itu, penataan Jakarta
menjadi kota yang aman dan nyaman bagi semua penghuni serta provinsi yang
memberikan kesejahteraan dan keadilan bagi semua warganya menjadi sangat
penting. Ini semua sangat tergantung pada kualitas pemimpin.
Pemimpin yang benar-benar menggunakan mata untuk melihat dan
telinga untuk mendengarkan “teriakan”
rakyat. Pemimpin yang mampu menggerakkan organisasi dan seluruh sumber daya
untuk mengangkat martabat rakyatnya.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
