Bijak Merespons Kenaikan BBM
Rabu, 14 Maret 2012 | 14:52
Pemerintah segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM)
bersubsidi. Hal itu dilakukan sebagai respons terhadap terus melonjaknya harga
minyak dunia, serta konsumsi BBM bersubsidi yang melampaui kuota yang telah
ditetapkan. Kenaikan harga BBM bersubsidi menjadi solusi yang ditempuh
pemerintah, untuk menghindari membengkaknya subsidi yang menyedot APBN.
Sebagaimana lazimnya kenaikan harga BBM tahun-tahun
sebelumnya, masyarakat, terutama mahasiswa dan kaum buruh, menyambutnya dengan
aksi demonstrasi turun ke jalan, menolak keputusan pemerintah yang sangat tidak
populis tersebut.
Reaksi buruh yang menolak kenaikan harga BBM bisa dipahami.
Sebab, sudah menjadi tradisi, harga bahan kebutuhan pokok sudah naik terlebih
dulu sebelum pemerintah memberlakukan harga baru BBM bersubsidi. Kenaikan harga
bahan pokok juga akan berlanjut setelah BBM dinaikkan, sebagai dampak ikutan
dari kenaikan biaya angkutan barang dan jasa.
Sayangnya, tekanan kenaikan harga kebutuhan pokok ini tidak
diimbangi dengan kenaikan upah. Sebab, pada awal Januari lalu, kenaikan upah
minimum provinsi (UMP) memicu persoalan antara pengusaha dan buruh. Kenyataan tersebut menguatkan keyakinan
bahwa upah buruh tidak mungkin dinaikkan sebagai dampak dari kenaikan harga
BBM.
Sebab, para pengusaha sendiri menghadapi tekanan dampak kenaikan harga
BBM, misalnya, kenaikan biaya angkutan dan kenaikan harga bahan baku.
Tahun ini, UMP di seluruh provinsi ditetapkan antara Rp
830.000 hingga Rp 1,5 juta per bulan.
Dengan jumlah itu, tentu tidak cukup bagi
buruh untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya, apalagi ditambah tekanan
akibat kenaikan harga BBM.
Berangkat dari kondisi tersebut, buruh bereaksi keras
terhadap rencana kenaikan harga BBM.
Persoalannya, reaksi penolakan itu umumnya
digelar di jalanan, sehingga mengganggu lalu lintas. Ini tentu merugikan
kepentingan masyarakat lain pengguna jalan, terutama distribusi barang dan
jasa, sehingga mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, dan menurunkan produktivitas
kerja karena mobilitas terhambat. Apalagi, demo di jalanan sangat berpotensi
melahirkan aksi anarkisme.
Hal ini tentu semakin membuat situasi tidak kondusif.
Oleh karenanya, kita sangat bersimpati dengan beban
penderitaan buruh dan semua kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akibat
kenaikan harga BBM. Namun, kita mengingatkan agar aksi demo dijauhkan dari
hal-hal yang justru kontraproduktif terhadap kepentingan ekonomi dan warga
masyarakat lainnya.
Apalagi, jika aksi demo itu ditunggangi kepentingan politik
untuk menjatuhkan rezim berkuasa.
Di sisi lain, kita juga meminta pemerintah agar tidak lagi
melaksanakan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang sekarang disebut Bantuan
Lansung Sementara Masyarakat (BLSM) yang dimaksudkan untuk membantu masyarakat
miskin yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM.
Sebab, dari pengalaman
BLT sebelumnya, program itu justru kontraproduktif.
Dari sisi nominal, jumlah Rp 150.000 per keluarga per bulan
selama sembilan bulan, sangat jauh dari mencukupi untuk menopang kekurangan
kebutuhan hidup rumah tangga miskin yang menjadi kelompok sasaran.
Selain itu, BLSM jelas diarahkan untuk pengeluaran
konsumtif. Hal itu jelas tidak akan mampu mengangkat nasib keluarga miskin
dalam jangka panjang. Manakala program BLSM selesai, mereka akan tetap miskin.
Apalagi, program BLSM justru dicurigai menjadi alat politik
bagi rezim berkuasa.
Menjelang Pemilu 2014, program itu dituduh sebagai politik
uang terselubung.
Oleh karenanya, kita menyarankan pemerintah agar pengalihan
dana subsidi BBM diarahkan bukan untuk program BLSM, tetapi untuk membangun
infrastruktur dasar, seperti transportasi, sektor pertanian, dan listrik.
Sebab, ketersediaan infrastruktur sangat diperlukan untuk menopang kegiatan
ekonomi, dan diyakini bisa menjadi katup penyelamat dari dampak negatif
kenaikan harga BBM.
Dengan transportasi yang lancar, biaya angkutan logistik
bisa ditekan. Demikian pula dengan ketersediaan infrastruktur sektor pertanian,
bisa mendorong produktivitas pertanian, sehingga petani di pedesaan otomatis
terangkat kesejahteraannya, tidak perlu lagi ada BLSM.
Di sisi lain, ancaman lonjakan inflasi sebagai dampak
kenaikan harga BBM bisa ditekan dengan transportasi yang lancar. Ekonomi biaya
tinggi bisa dicegah dengan hadirnya infrastruktur dasar bagi perekonomian.
Dengan memprioritaskan proyek-proyek infrastruktur, kita
yakin akan membawa dampak positif dalam jangka panjang.
Iklim investasi pun membaik,
sehingga penyerapan tenaga kerja semakin luas. Hal itu sekaligus menjadi jaring
pengaman yang efektif, yang bisa menopang seluruh kepentingan ekonomi pada
segala lapisan masyarakat, setiap kali terjadi gejolak seperti kenaikan harga
BBM.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
