Belajar dari Gempa Aceh
Senin, 16 April 2012 | 13:42
Tak dapat dimungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara
yang rawan gempa bumi dan juga tsunami. Para pakar geologi menyebutkan
sedikitnya ada 13 wilayah yang paling rawan digoyang gempa tektonik karena
berada pada pertemuan lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng
Pasifik. Wilayah yang rawan gempa adalah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat,
Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara,
Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua. Relatif hanya Kalimantan yang
bebas gempa bumi.
Bertolak dari kenyataan tersebut, tak heran bila wilayah
Simeulue, Aceh, menjadi pusat gempa pada Rabu (11/4) berkekuatan 8,5 SR dan 8,1
SR. Getarannya terasa sampai ke Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Bengkulu.
Bahkan, tsunami kecil sempat melanda sebagian kawasan pantai Simeulue.
Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),
tercatat lima korban meninggal, satu orang kritis, dan enam orang menderita
luka ringan. Sedangkan kerusakan akibat gempa tersebut hingga kini masih
diinventarisasi.
Bila dibandingkan dengan gempa Aceh pada 2004, jumlah korban
saat ini relatif sangat sedikit. Persoalannya bukan terletak pada
sedikit-banyaknya korban, tetapi yang utama adalah meminimalisasi jumlah
korban, bahkan yang ideal adalah tak perlu ada korban apabila terjadi gempa
bumi.
Bagi kita, persoalan meminimalisasi jumlah korban, bahkan
tanpa korban, merupakan tugas pemerintah, BNPB dan jajarannya di daerah, serta
masyarakat. Untuk itu, sosialisasi dan mitigasi bencana merupakan hal utama
yang harus dikumandangkan.
Setelah berulang kali Indonesia dilanda gempa besar dan
tsunami, kesadaran terhadap bahaya bencana terus tumbuh. Masyarakat semakin
menyadari bahwa mereka harus selalu waspada karena tak ada yang tahu kapan dan
di mana gempa akan terjadi. Terkait hal itu, kita memberikan sejumlah catatan
agar ke depan dampak gempa bumi bisa diminimalisasi.
Pertama,
penyebaran informasi secara cepat kepada masyarakat melalui televisi, radio,
pesan singkat, dan berbagai media sosial, serta peralatan tradisional, seperti
kentongan dan juga pengeras suara di masjid, merupakan langkah awal
penyelamatan nyawa manusia. Kita mengapresiasi kecepatan penerusan informasi
oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kepada masyarakat
melalui jaringan televisi nasional saat gempa Aceh terjadi. Beberapa peristiwa
gempa sebelumnya yang berpotensi tsunami juga langsung disebarluaskan.
Persoalannya, tak semua warga, khususnya di daerah pelosok dan terpencil,
memiliki media elektronik itu. Untuk itu, ketersediaan sarana komunikasi,
seperti telepon satelit dan radio amatir, wajib dimiliki aparatur pemerintah,
termasuk Kepolisian dan TNI, agar informasi penting tersebut bisa langsung
diteruskan kepada masyarakat.
Kedua, sosialisasi
tentang upaya penyelamatan diri dan pencarian tempat perlindungan harus terus
digalakkan. Apabila setiap individu mengetahui hal apa saja yang wajib
dilakukan sesaat setelah gempa, kita yakin korban akan bisa diminimalisasi.
Ketiga, penyiapan
jalur dan sistem evakuasi agar tidak terjadi kepanikan, terutama bila gempa
berpotensi menimbulkan tsunami. Dalam beberapa kasus, korban justru berjatuhan
saat saling berebut menyelamatkan diri karena terjatuh, terinjak, atau
tertabrak.
Keempat, kesigapan
aparat BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat Kepolisian dan
TNI, serta sukarelawan, mengevakuasi warga di daerah yang dilanda gempa.
Sejalan dengan itu, kecekatan menyelamatkan korban dari reruntuhan bangunan
juga menjadi faktor penting untuk meminimalisasi jumlah korban.
Kita bisa belajar dari Jepang yang sigap menangani korban
saat sebagian wilayahnya diguncang gempa 8,8 SR dan tsunami pada Maret 2011.
Masyarakat Jepang berhasil beradaptasi dengan lingkungannya yang rawan gempa.
Sistem peringatan dini (early warning
system) dan standardisasi evakuasi warga membuat jumlah korban dapat
ditekan seminimal mungkin. Bahkan, beberapa korban yang tertimbun reruntuhan
selama beberapa hari akhirnya dapat diselamatkan. Kesiapan dokter dan tenaga
medis, serta peralatan kedokteran, dalam penanganan korban juga wajib
diperhatikan.
Kelima, pemerintah
pusat dan daerah harus terus memasyarakatkan penggunaan konstruksi rumah yang
tahan gempa, termasuk penggunaan bahan-bahan lokal yang ringan, seperti bambu.
Sejalan dengan itu, pembuatan rencana tata ruang wilayah (RTRW) sebaiknya
memperhatikan aspek kebencanaan, sehingga bangunan privat dan publik tidak lagi
berada di kawasan rawan bencana.
Keenam, memasukkan
materi kebencanaan dalam kurikulum atau mata pelajaran di sekolah. Edukasi
kebencanaan dan simulasinya diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran sejak dini
kepada anak-anak. Pengetahuan itu kemudian bisa ditularkan ke keluarga dan
lingkungan tempat tinggal. Apabila hal-hal itu dijalankan secara konsisten, kita
yakin korban gempa dan tsunami bisa diminimalisasi. Kita tak ingin sejengkal
pun wilayah Indonesia dilanda bencana, tetapi kita pun harus selalu waspada dan
siap menghadapinya sewaktu-waktu.
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
