SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 16 April 2014
Pencarian Arsip

Tagihan Sudah Lunas, Bank Mandiri Tetap Tagih
Kamis, 23 Desember 2010 | 14:28

Saya adalah pemegang kartu kredit Mandiri Visa dengan no kartu: *****9358 dan Master Card *****1787 yang selama ini selalu membayar tagihan-tagihan kartu kredit tersebut dengan penuh tanggung jawab baik secara auto debet maupun manual. Bulan Oktober lalu saya mendapatkan tagihan masing-masing sejumlah Rp 4,136,357 dan Rp 313,335 yang jatuh tempo pada tanggal 14 November 2010. Seperti biasa, saya berusaha melunasi tagihan tersebut.

Namun dikarenakan saya sedang berada di luar negeri, saya baru ingat akan tanggal jatuh tempo tagihan-tagihan tersebut pada saat-saat terakhir (14 November malam). Pada saat itu saldo di rekening tabungan Bank Mandiri saya tidak mencukupi untuk melunasi seluruh tagihan tersebut dan saya juga tidak dapat melakukan transfer uang ke rekening Mandiri saya. Namun untuk menghindari sanksi-sanksi keterlambatan, saya melunasi tagihan yang nominalnya lebih kecil (Master Card) dan melakukan pembayaran minimal untuk tagihan lainnya (Visa).

Pembayaran dilakukan via ATM dengan bantuan salah seorang anggota keluarga saya di Indonesia. Sebagai nasabah yang baik dan tidak ingin dipusingkan dengan hutang bank, keesokan harinya saya melakukan transfer uang secukupnya ke rekening saya di Indonesia untuk pelunasan sisa tagihan tersebut dan juga untuk menuntaskan kewajiban keuangan saya kepada pihak-pihak lain di Indonesia dalam jangka waktu dekat.

Dengan demikian, sejak tanggal 15 November 2010 saya seharusnya sudah tidak memiliki kewajiban pembayaran terhadap tagihan bulan itu (kecuali bunga yang mungkin timbul). Namun pada tanggal 21 November 2010, ketika saya ingin melakukan pembayaran kepada pihak-pihak lain, saya dikejutkan dengan jumlah saldo di rekening tabungan saya yang sangat tidak mencukupi. Setelah beberapa skenario buruk terlintas di pikiran saya (salah satunya rekening saya telah diretas), saya segera melihat histori transaksi saya melalui internet banking.

Alangkah terkejutnya saya setelah menyadari ternyata yang mengambil uang saya dengan tanpa ijin adalah Bank Mandiri sendiri. Pada tanggal 16 November 2010 (sudah lewat 2 hari dari tanggal jatuh tempo dan tanggal pembayaran saya), Bank Mandiri menarik uang saya sejumlah total yang ditagihkan kepada saya (Rp 4,449,692). Kemudian saya segera menelepon “call mandiri” untuk mempertanyakan kejanggalan ini walaupun dengan berat hati karena ini berarti saya harus melakukan panggilan internasional. Saat itu saya dilayani oleh customer representative bernama Sdr. Miko.

Setelah berbicara cukup panjang lebar, Sdr. Miko mengakui adanya pembayaran ganda atas kedua kartu kredit saya dan menjelaskan bahwa uang saya tidak bisa dikembalikan. Sdr. Miko kemudian meminta saya untuk tidak khawatir karena kelebihan dana tersebut akan disimpan dan akan digunakan untuk melunasi tagihan kartu kredit saya yang akan datang. Mendengar penjelasan tersebut tentu saya menjadi berang karena Bank Mandiri tidak memiliki alasan untuk menarik uang di rekening saya sebab tagihan sudah lunas apalagi penarikan uang dilakukan setelah lewat jatuh tempo. Bukankah ini berarti Bank Mandiri mengambil uang nasabah tanpa seijin yang bersangkutan?

Saya merasa ini sama saja dengan Bank Mandiri melakukan peminjaman paksa dari rekening saya dan 'pinjaman' ini saya berikan dengan cuma-cuma atau tanpa mendapatkan imbalan jasa seperti bunga sebagaimana layaknya sebuah pinjaman. Padahal saat ini saya sedang sangat membutuhkan dana cair. Karena saya saat ini berada di luar negeri, kemungkinan saya untuk menggunakan kartu kredit Indonesia sangat kecil. Saya pun tidak berencana untuk kembali ke Indonesia paling tidak sampai dengan akhir tahun 2011. Dengan demikian uang saya bisa saja ‘dipinjam' gratis oleh Bank Mandiri untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Karena merasa tidak puas atas solusi yang diberikan saya meminta agar kasus ini dieskalasi dan saya meminta untuk disambungkan dengan supervisor atau manajer yang bersangkutan.

Namun Sdr. Miko mengatakan bahwa tidak ada supervisor/manajer yang bisa berbicara kepada saya saat itu dan yang Sdr. Miko dapat lakukan saat itu hanyalah membuat laporan. Lalu saya menegaskan kepada Sdr. Miko bahwa karena ini jelas kelalaian Bank Mandiri saya meminta agar Bank Mandiri bersikap serius dan profesional dalam menangani masalah ini dan oleh karenanya menghargai kliennya dan dengan itikad baik aktif menelpon saya, bukan sebaliknya, untuk melakukan follow-up terhadap kasus ini. Setelah menunggu 3 hari dan tidak juga mendapat tanggapan apapun dari Bank Mandiri, pada tanggal 24 November 2010 saya kembali menelpon “call mandiri”.

Singkat cerita, setelah melakukan beberapa panggilan internasional, menunggu antrian, dan berbicara dengan beberapa customer representatives, saya dihubungkan dengan Ibu Hera, salah satu team leaders Bank Mandiri dan ditawarkan solusi untuk pengembalian dana saya dalam jangka waktu 2 minggu (yang pada akhirnya dikembalikan lebih awal karena saya menekankan betapa pentingnya uang tersebut segera dikembalikan).

Terus terang saya sangat tidak puas terhadap solusi yang ditawarkan oleh pihak Bank Mandiri tersebut. Kekecewaan saya pun semakin bertambah setelah mengetahui kejadian yang serupa terjadi kembali untuk tagihan saya di bulan Desember ini di mana saya sudah melunasi tagihan saya sejumlah Rp. 5,655,748 pada tanggal jatuh tempo dan Bank Mandiri masih juga menarik uang dari rekening saya sejumlah yang sama. Namun kali ini, pihak manajemen Bank Mandiri seakan tidak peduli dengan menolak berbicara kepada saya dan tidak berkenan mengembalikan kelebihan pembayaran tersebut. Padahal uang sejumlah itu cukup besar artinya buat saya.

Permasalahan utama dari kejadian ini adalah apakah memang wajar sebuah bank besar seperti Bank Mandiri melakukan auto debet setelah tagihan tersebut dilunasi dan terlebih-lebih setelah melewati jatuh tempo? Dan setelah penarikan dana tersebut Bank Mandiri dengan mudahnya mengatakan "dana tersebut tidak bisa dikembalikan". Ini sama saja perampokan dengan cara yang sangat sopan namun tetap tidak etis. Sekalipun “kesalahan sistem” yang dijadikan alasan, bukankah ini berarti kelalaian Bank Mandiri dalam mendesain sistem keuangan yang profesional dan handal? Karena bila memang “kesalahan sistem” ini sudah sangat wajar terjadi, saya tidak bisa membayangkan berapa banyak nasabah yang dirugikan karena uangnya dipinjam paksa oleh Bank Mandiri.

Apakah mungkin Bank Mandiri sengaja membiarkan sistem yang tidak sempurna ini karena memang sistem yang ada tersebut menguntungkan Bank Mandiri? Lalu apakah ini memang permasalahan di Bank Mandiri saja ataukah semua bank di Indonesia mengalaminya? Karena apabila system perbankan Indonesia memang seperti ini, sepertinya pemerintah perlu segera bertindak agar nasabah tidak dirugikan lebih jauh. Dengan kejadian ini,saya merasa dirugikan baik secara materiil maupun imateril. Waktu, tenaga dan pikiran saya sudah terbuang untuk mengurus masalah ini. Untuk biaya panggilan internasional saja, karena Bank Mandiri tidak beritikad baik untuk menelpon, saya sudah menghabiskan AUD 180.58 (sekitar Rp 1,600,000). Dan kerugian terbesar saya adalah nama baik saya yang tercoreng karena keterlambatan pembayaran kewajiban finansial saya kepada pihak-pihak lain. Jelas hal ini tidak terbayarkan dengan pengembalian uang saya yang telah dipinjam paksa oleh bank Mandiri sampai dengan 10 hari tanpa bunga. Sudah jatuh tertimpa tangga pula atau mungkin yang lebih tepat adalah setelah menaati peraturan, dibuat jatuh, tangga pun dibiarkan menimpa saya oleh Bank Mandiri. Sungguh kecewa.

C. Jonathan
Adelaide, Australia




Tanggapan Atas Surat Ini

Menanggapi pengaduan dari Bapak C. Jonathan di Situs Suarapembaruan.Com tanggal 23 Desember 2010 mengenai “Tagihan Sudah Lunas, Bank Mandiri Tetap Menagih”, dengan ini kami sampaikan terima kasih atas masukan yang Bapak C. Jonathan berikan dan mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami. Berdasarkan data pada sistem kami, pembayaran Mandiri Kartu Kredit Bapak C. Jonathan adalah melalui fasilitas Direct Debet Instruction, yangmana sistem kami secara otomatis akan melakukan pendebetan untuk pembayaran tagihan Mandiri Kartu Kredit Bapak C. Jonathan dalam waktu 5 (lima) hari sebelum tanggal jatuh tempo atau 2 (dua) hari setelah tanggal jatuh tempo, sepanjang jumlah dana di tabungan/giro Bapak C. Jonathan mencukupi. Apabila dana di tabungan/giro Bapak C. Jonathan mencukupi, maka Bapak C. Jonathan tidak perlu melakukan pembayaran secara manual. Apabila untuk selanjutnya Bapak C. Jonathan akan melakukan pembayaran Mandiri Kartu Kredit Bapak C. Jonathan secara manual, dan Bapak C. Jonathan berkenan untuk melakukan pembatalan fasilitas auto debet, kami mohon kesediaan Bapak untuk mengirimkan surat pernyataan yang telah ditandatangani dengan melampirkan fotocopy KTP dan Mandiri Kartu Kredit Bapak C. Jonathan. Kelengkapan dokumen tersebut dapat dikirimkan kepada kami melalui layanan email customer.care@bankamandiri.co.id. Apabila masih terdapat pertanyaan ataupun saran yang ingin disampaikan, selain dapat menghubungi Customer Service kami yang akan membantu melalui Mandiri Call layanan 24 jam di nomor 14000, Bapak juga dapat menghubungi kami melalui website www.bankmandiri.co.id dengan memilih menu contact us atau langsung melalui email customer.care@bankmandiri.co.id. Demikian kami sampaikan, terima kasih atas perhatian Bapak. PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sukoriyanto Saputro Corporate Secretary

Marina Dwi Oviyantari
Jakarta Selatan 12190



Pemilu 2014

selengkapnya »»

Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN