SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 17 April 2014
Pencarian Arsip

Kapok Naik Bus Dewi Sri (Bagas Bagus)
Senin, 10 Januari 2011 | 9:03

Saya mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan oleh Bus Dewi Sri dengan Nopol: G 1457 CE, dengan tulisan (BAGAS BAGUS) di belakang badan Bus jurusan Pekalongan–Jakarta (Sentiong). Pada tanggal 23 Desember 2010 saya dan kedua orangtua saya yang sudah tua renta berangkat dari Terminal Pekalongan jam 19.00.  

Sebelumnya, siang hari saya memesan tiket untuk 3 orang dengan harga 45.000 perorang (tanpa bisa ditawar sedikitpun). Saya pesan tempat duduk kepada petugas bantu bernama Firdaus, nomor 3,4,5 pas di belakang kursi supir. Dan, petugas itu mengatakan masih kosong. Namun, 1 jam sebelum keberangkatan petugas bantu menelpon saya mengatakan bahwa kursi untuk nomor 3,4,5 sudah dipesan oleh kerabat supir (kami sekeluarga berusaha memahami mesti kecewa). 


 Padahal, pada saat saya memesan tiket saya sempat mengatakan pada petugas tersebut kalau barang-barang bawaan saya dan orang tua saya banyak sekali dan berat. Singkat cerita, bus tersebut mulai jalan meninggalkan terminal. Namun, baru beberapa saat, bus tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda ngadat mesin. Tetapi, tidak berselang lama bus dapat berjalan lancar.  

Akhirnya, bus tersebut mulai menjauh meninggalkan terminal. Tetapi, belum lama berselang bus Dewi Sri meninggalkan terminal, bus mulai berhenti lagi, tetapi, bukan karena mesinnya ngadat melainkan menaikan penumpang di pinggir jalan layaknya mobil omprengan dalam kota. Dan, kejadian itu terus berulang sepanjang jalan.  

Hingga sampai daerah Brebes, bus Dewi Sri yang kami tumpangi berhenti lagi, kali ini juga untuk mangangkut penumpang “liar” sekaligus ganti supir dan awak angkutan yang sama sekali baru. Lalu, bus jalan kembali serta sesekali berhenti di pinggir jalan secara mendadak untuk mengangkut penumpang “liar” lagi dan begitu seterusnya hingga sampai rumah makan di daerah Ciasem, Pamanukan. 


 Namun, alangkah kagetnya kami sekeluarga dan seluruh penumpang Dewi Sri, bus bukan berhenti langsung di depan rumah makan malah berhenti di Pool Bus (tidak jelas Pool Bus apa) belakangnya yang gelap gulita. Lalu, tiba-tiba saja awak bus dan supir membuka pintu depan bus dan memasukan para pedagang asongan. Kami sekeluarga dan para penumpang jelas merasa ngeri karena takut terjadi apa-apa.  


Lantas, selang 15 menit (kurang-lebih) bus tersebut kembali memutar ke depan rumah makan dan berhenti sejenak. Kemudian, bus mulai melanjutkan perjalanan. Tetapi, selang 1 kilometer perjalanan, kejadian yang lebih mengerikan terjadi. Tiba-tiba saja bus berhenti dan supir bus mengumumkan bahwa seluruh penumpang bus harus turun karena bus mogok dan tidak dapat diperbaiki.   Supir dan awak bus mencoba memberhentikan bus-bus lain yang lalu-lalang dengan maksud untuk mengoper seisi penumpang bus Dewi Sri yang sudah lama terlantar di pinggir jalan.

Yang membuat kami kaget dan sakit hati adalah bahwa supir dan awak bus terkesan kurang bertanggungjawab ketika kami menanyakan bagaimana nasib kami dan sebagian penumpang bus Dewi Sri yang membawa barang bawaan yang cukup banyak dan berat. Malah mereka seenaknya menaikkan sebagian penumpang yang masih muda-mudi duluan ketimbang kami dan sebagian lain yang sudah tua renta dengan barang bawaan yang banyak dan berat tadi.  

 Merasa tidak diperhatikan, akhirnya saya dan kedua orang tua saya memutuskan untuk sewa mobil travel yang pada saat kejadian mencoba menawarkan jasa dengan tarif yang tentunya lebih mahal dari jangkauan kami. Perlu Pengelola Bus Dewi Sri dan para pembaca sekalian ketahui, bahwa di dalam salah satu barang/tas kami ada uang kedua orangtua saya sejumlah Rp. 50.000.000,-00 hasil jual sawah untuk naik Haji.  


Andaikan saja pada saat supir pertama atau kedua menaikkan penupang “liar” dan pedagang asongan tadi adalah perampok atau semacamnya, maka apa yang akan terjadi? Saudara-saudara bisa bayangkan? Bisa-bisa harapan dan jerih payah menabung berpuluh-puluh tahun kedua orang tua saya yang sudah renta bisa jadi tinggal harapan kosong karena uang tersebut sudah dirampok penumpang atau pedagang asongan “liar”.

Yang ingin saya tanyakan, apakah hal-hal tersebut di atas adalah kebijakan manajemen Bus Dewi Sri? Padahal kan Bus Dewi Sri itu resmi agen dan punya Pool sendiri, mengapa sembarangan menaik-turunkan penumpang seenaknya di jalan? Belum lagi pola-tingkah supir dan awak bus yang sengaja keras-keras menyetel musik sambil bercanda gurau tertawa keras-keras? Tambah lagi supir pertama sangat ugal-ugalan membawa bus!

Mengapa perilaku supir dan awak bus kurang manusiawi dengan menelentarakan kami di pinggir jalan begitu saja? Maaf ini sungguh Biadab! Terakhir kami mohon klarifikasi sekaligus pertanggungjawaban pihak pengelola Bus Dewi Sri! Saya Kapok naik Bus Dewi Sri lagi!!!  


Hormat saya Abdul Ghopur Intelektual Muda NU & Anggota Pengurus Pusat Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (PP.LPBH–NU)             




Tanggapan Atas Surat Ini

kepada direktur pemilik PO.Dewi Sri tolong harap berhati memilih sopir. saya sangat terkesan atas kejadian pada tanggal 23 Desember 2010.saya juga sering menaiki bus dewi sri dari atahiriyah tebet.itu saja pengaduan kami terima kasih.hormat kami,amir

amir mardianto
jakarta slatan



Pemilu 2014

selengkapnya »»

Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN