Museum Tani dari sang Profesor
Rabu, 22 September 2010 | 13:05
Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Suratman menjelaskan koleksi benda-benda pertanian yang ada di Museum Tani yang didirikannya di dusun Selorejo, Krakitan, Bayat, Klaten Jawa Tengah baru-baru ini. [Sp/Fuska Sani Evani] Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada, Prof Dr Suratman mendirikan Museum Tani di atas lahan seluas dua hektare di Dusun Selorejo, Krakitan, Bayat, Klaten Jawa Tengah. Menurut penjelasan guru besar ini, Kamis (16/9) di Klaten, museum itu bukan semata-mata bangunan yang berisi artefak-artefak, melainkan sebuah kegiatan pertanian yang berkesinambungan.
“Melengkapi objek desa wisata, selain juga menyajikan benda-benda pertanian dari belahan Nusantara serta jenis tanah dari 33 provinsi di Indonesia, aktivitas pertanianlah yang menjadi sudut pandang utama,” katanya.
Museum tani itu, direncanakan bertaraf internasional. “Museum ini sekaligus sebagai pusat informasi pertanian dan budaya tani di Indonesia. Kita harap keberadaan museum ini juga bisa untuk objek pendidikan dan wisata desa,” kata Suratman.
Guru besar ini juga menerapkan sebuah rutinitas guna menunjang pergerakan pariwisata di dusun itu. Museum yang ditunjang dengan mini cinema itupun menyajikan berbagai kegiatan outbond alam desa, sekaligus workshop bertani hingga laboratorium mini.
”Museum ini bisa memotivasi petani di sekitarnya untuk terus meraih kesejahteraan dari dunia pertanian. Petani juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan museum,” katanya.
Perpustakaan untuk Petani
Dengan pembinaan secara terus-menerus, Suratman juga menyatakan bahwa petani sekitar juga akan diperkenalkan kepada dunia akademis. Perpustakaan bukan hanya untuk kalangan turis, tetapi juga terbuka bagi petani.
“Perpustakaan yang menawarkan koleksi buku, majalah, jurnal dan berbagai literatur tentang pertanian. Kita juga mengoleksi berbagai macam dokumentasi tentang pertanian,” ujarnya.
Suratman juga melibatkan sekitar 30 petani sekitar untuk menjadi pemandu wisata pertanian “Jika pengunjung ingin tahu pertanian jagung misalnya, petani jagung siap memandi pemandu. Soal pupuk pun juga ada pemandu khususnya,” terangnya.
Dengan kegiatan seperti praktik bertani, memasak, tour desa dengan bendi, berkebun buah-buahan, penangkaran burung dan kegiatan lainnya, maka komunitas petani di 33 dusun tersebut, mampu lebih meningkatkan daya saing, sekaligus berwawasan sadar wisata.
Suratman juga yakin, pemenuhan kebutuhan wisata ini akan meningkatkan pendapatan masyarakat, dan dampak tidak langsungnya adalah perkembangan pengetahuan petani baik pemilik lahan maupun petani penggarap. [152]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
