SBY Serahkan Penanganan Papua ke Jajaran Polhukam
Jumat, 15 Juni 2012 | 18:07
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). [google] [JAKARTA]
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selama melakukan kunjungan kerja dan
kenegaraan ke Meksiko, Brazil, dan
Ekuador (15-26 Juni) menyerahkan penanganan Papua sepenuhnya ke Menteri
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto dan
jajarannya.
"Kalau
untuk penanganan Papua sudah dipercayakan kepada jajaran Polhukam. Menko
Polhukam yabg akan berbicara," katanya di Bandar Udara Internasional Halim
Perdanakusuma sebelum lepas landas menuju Meksiko, Brazil dan Ekuador dalam
rangka kunjungan kenegaraan, Jumat (15/6).
Julian
pun mengatakan, Presiden SBY berencana akan menghadiri pelaksanaan Raimuna pada
4-10 Juli 2012, yang digelar di Bumi Perkemahan Cendrawasih, Jayapura.
Namun,
selain maraknya penembakan, Raimuna atau Perkemahan Pramuka Penegak dan Pramuka
Pandega se-Indonesia tersebut diharapkan dapat dievaluasi terkait
dipersoalkannya pemilik tanah bumi perkemahan di Papua.
"Rencananya
iya ke Raimuna awal bulan depan (Juli, Red), kalau tidak ada perubahan.
Direncanakan demikian," imbuhnya.
Di
tempat yang sama, Djoko Suyanto mengatakan, pihaknya saat ini masih terus
mengelola apa yang terjadi di Papua. Meski harus waspada, pihaknya mengimbau
masyarakat untuk tenang.
Seperti
diketahui, kendati belum seperti kota mati, namun saat ini masih ada keengganan
dari masyarakat Papua untuk beraktivitas.
"Dua
tiga hari kedepan selalu kita pantau, terhadap dampak susulannya. Dan
sosialisasi dari masyarakat oleh pemerintah daerah, oleh kepolisian juga terus
dilakukan untuk masyarakat tetap tenang," ungkapnya.
Djoko
pun meminta agar peristiwa yang lalu jangan dianggap seolah-olah menjadi suatu
peristiwa yang sangat besar. Sebab, jika ada perlawanan, maka akan terjadi
dinamika dan itu tidak hanya terjadi di Papua saja.
"Di
Jakarta, Medan, Surabaya, apabila dalam mengelola pelaku tindak kriminal
seperti itu ada protapnya, ada ketentuannya. Yang penting kan presiden
menekankan jangan berlebihan, harus sesuai dengan aturan, tidak boleh
melanggar, baik itu TNI atau Polri. Itu harus dipatuhi. Itu juga yang sementara
kita tekankan pada aparat kita di lapangan," katanya yang mengaku sudah
memberikan sanksi kepada jajarannya yang
bertindak berlebihan di lapangan.
Lanjut
Djoko, akhir-akhir ini dirinya dan media massa banyak menerima SMS gelap yang
diteruskan dari jajarannya yang bertugas di Papua. Hal itu disayangkannya
karena seolah-olah ada upaya yang luar biasa melawan hak asasi manusia
(HAM) dan sebagainya.
Sementara
soal hasil investigasi Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan
(Kontras) yang menyebutkan, ada dugaan kesengajaan penembakan Wakil Ketua
Komite Nasional Papua Barat Mako Tabuni hingga tewas oleh kepolisian, Djoko
membantah keras tuduhan itu.
"Begini
Kontras kan tidak di lapangan. Petugas dilapanganlah yang saya percaya. Pesan
presiden sudah sangat dicermati oleh mereka," tukasnya.
Soal
motif kejadian kerusuhan itu, dirinya pun mengaku hal itu masih dalam proses
panjang. Kendati demikian, Djoko berharap dampaknya tidak meluas.
Sementara,
Kapolri dikatakan Julian akan bertolak ke Papua pada hari Senin (18/6) esok.
[O-2]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kemnakertrans Diminta Pertanggungjawabkan Rp 1,18 Triliun Duit Amnesti TKI di Arab Saudi
Mari Membaca Berita BBM Versi Media Sosial
Deplu AS Bilang RI Gagal Lindungi Minoritas
KPK Diminta Audit Pungli Oleh Kemnakertrans
Dicecar Soal Pernikahan, Djoko Susilo Gerah
Pemerintah Ajukan Penundaan Amnesti TKI
Nazaruddin Berbisnis dari Penjara
PDI-P Segera Usulkan Calon Ketua MPR RI
Naikkan Harga BBM, Presiden Tunggu Laporan Tim Sosialisasi
Saksi Kembali Benarkan Ada Pembelian Rumah oleh Dipta Anindita
