Korupsi, Kado HUT Kemerdekaan RI Ke-67
Jumat, 17 Agustus 2012 | 8:49
Ilustrasi korupsi. [Google] Saat ini,
sejak era reformasi, kita disuguhkan berita korupsi, korupsi, dan korupsi. Korupsi
terjadi hampir di semua elemen bang ini, dari Sabang sampai Merauke.
Bangun pagi,
ketika menghidupkan televisi, berita utama pasti tentang wajah para pejabat
yang digelandang ke penjara.
Di koran-koran terpampang wajah pejabat yang duduk di kursi pesakitan
di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Rakyat hanya
bisa mencak-mencak, memaki dan mengumpat tentang bagaimana boroknya mental pejabat negara ini,
para politisi, dan pengusaha yang tega mencuri uang negara untuk kepentingan
pribadi dan kelompoknya.
Hari ini, 67 tahun kita merdeka. Sayang kemerdekaan yang
sesungguhnya, seperti yang ditera dalam Pembukaan UUD 1945 belum terwujud.
Banyak
persoalan membuat wajah bangsa ini semakin karut-marut.
Korupsi
adalah problem serius bagi Indonesia. Ibarat memberantas mafia obat-obatan, pemberantasan
korupsi tak hanya harus berhadapan dengan kekuatan politik yang korup, tapi
juga kepemimpinan yang lemah.
“Saya harus
mengakui bahwa masih banyak pelaku korupsi bahkan di pemerintahan, parlemen,
DPRD dan diantara penegak hukum,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato kenegaraan menyambut hari
kemerdekaan di hadapan parlemen, Kamis (16/8).
Sorotan atas
masalah korupsi ini disampaikan Presiden Yudhoyono di tengah pertarungan besar
antara Komisi Pemberantasan Korupsi KPK dengan Kepolisian.
Sebagaimana
dilansir sebuah media nasional, seorang
sumber mengatakan bahwa di hadapan ribuan calon perwira, Kapolri Timur Pradopo mengatakan,
“Menggeledah tempat orang seenaknya dan menangkap orang seenaknya itu
namanya garong.”
Kapolri
ingin menyindir penggeledahan dan penyitaan yang dilakukan KPK atas kasus
dugaan korupsi pengadaan simulator SIM di bagian lalu lintas kepolisian, akhir
Juli lalu.
Dengan segala cara, Kepolisian memperlihatkan perlawanan atas upaya
pembersihan di dalam tubuh mereka.
Polisi
sepertinya ingin menyembunyikan sesuatu yang lebih besar, sehingga kalau
mungkin kasus simulator SIM ini jangan
dibawa ke KPK.
Tetapi Polisi tidak bisa melawan arus publik yang sudah tahu
bahwa lembaga yang paling korup di negara ini adalah Polisi.
Berbagai
riset publik menunjukkan bahwa masyarakat menganggap institusi kepolisian
sebagai lembaga paling korup.
Jajak pendapat Lembaga Survey Indonesia (LSI)
menunjukkan bahwa masyarakat menilai polisi gagal dalam menangani praktik
korupsi internal.
Sementara
survey Transparansi Internasional Indonesia (TII) memperlihatkan bahwa 31 persen
masyarakat menilai kepolisian sebagai lembaga paling korup.
Untuk
menenggarai pertikaian antara Polisi dan KPK, Presiden Yudhoyono sempat
mengundang pimpinan kedua lembaga itu untuk
menyelesaikan masalah ini.
Hasilnya
mengecewakan, karena dalam pertemuan itu Presiden tidak menunjukkan sikap yang
tegas mendukung KPK dalam membersihkan korupsi di lingkungan polisi.
Duduk Manis
Majalah The
Economist (edisi Agustus 2012) menulis judul Sitting Duck atau Bebek
Duduk, menyoroti sikap pemerintah dalam mengatasi masalah korupsi.
“Dia (pemerintah) tidak kelihatan seperti
bebek lumpuh, tapi lebih seperti bebek yang sedang duduk manis“ tulis majalah
itu sambil menambahkan “Dengan berbuat sedikit, pemerintah Indonesia terlihat
baik-baik saja.”
Aktivis anti
korupsi dari ICW, Emerson Yuntho menyebut Presiden tidak pernah betul-betul
menunjukkan kepemimpinan dalam perang melawan korupsi.
“Ketika awal
menjabat, setiap bulan rata-rata dua kali SBY pidato soal pemberantasan
korupsi. Tapi publik hingga kini tak merasakan adanya perubahan” kata Emerson
sambil menambahkan bahwa sikap Presiden yang membiarkan perang antara KPK dan
polisi, adalah bukti bahwa pernyataan SBY soal pemberantasan korupsi hanyalah lips
service.
Sikap duduk
manis itu pula yang diperlihatkan Presiden Yudhoyono dalam menghadapi korupsi
di sekitar dirinya. Kata Emerson, paling tidak ada 5 menteri aktif yang telah
diperiksa KPK dalam kasus korupsi. Dalam sebuah pernyataan, Presiden juga
mengaku dirinya tahu bahwa ada menteri yang korup.
“Tapi Presiden
tidak mengambil langkah politik dengan memecat menterinya. Sikap serupa juga
ditunjukkan SBY ketika menghadapi korupsi di Partai Demokrat. Sebagai ketua
dewan pembina partai, dia hanya mempersilahkan mereka yang terlibat
mengundurkan diri. Dia tidak mau mengambil resiko memecat pengurus yang korup“
kata Emerson.
Perang
melawan korupsi adalah pertaruhan besar bagi masa depan Indonesia. Negara yang
selama ini dianggap sebagai salah satu yang paling korup di dunia. Indeks
Persepsi Korupsi yang dikeluarkan oleh Transparansi Internasional tahun 2011
menempatkan Indonesia di ranking 110 dari 178 negara, dengan skor 3.
Sebagai
catatan, skor tertinggi adalah 10.
Di kawasan ASEAN, Indonesia berada di bawah
Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand.
Survey
Transparansi Internasional lainnya, menempatkan pengusaha asal Indonesia
sebagai salah satu yang paling gemar menyogok ketika berbisnis di luar negeri.
Berdasarkan Bribery
Payers Index atau Indeks Pembayar Suap di 28 negara, Indonesia menempati
urutan keempat, di mana Rusia menempati urutan paling atas dalam perkara
sogok-menyogok, disusul Cina dan Meksiko.
Berjalan di Treadmill
Banyak
kalangan di Indonesia menganggap bahwa korupsi sudah menjadi budaya di
Indonesia. Kehadiran KPK kini sebetulnya menumbuhkan harapan baru bagi
pemberantasan korupsi.
Tapi masalahnya, lembaga ini dikepung oleh politisi
korup.
Anggota DPR
dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Fahri Hamzah misalnya, berkali-kali
mempersoalkan kewenangan KPK yang dianggap terlalu besar.
Beberapa anggota
parlemen mulai menyuarakan keinginan untuk memangkas kewenangan KPK dalam
pemberantasan korupsi. Mereka mengusulkan agar lembaga ini hanya mengambil
peran pencegahan.
Sikap getol
KPK menyidik korupsi di parlemen dan elit partai politik, diduga membuat para
politisi gerah dan ingin membonsai peran lembaga pemberantas korupsi ini.
Sinyalemen
lain disampaikan Emerson yang mengaku cemas bahwa menjelang Pemilu 2014, praktik
korupsi akan meningkat.
Partai butuh dana, dan mereka memanfaatkan kader-kader
mereka di pemerintahan dan parlemen untuk menggalang dana untuk biaya kampanye.
“Pemberantasan
korupsi ke depan ibarat jalan di atas treadmill, seakan-akan ada usaha,
tapi sebetulnya tidak ke mana-mana,” tutup Emerson Yuntho. [DW/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Aiptu Labora Sitorus Mesin ATM Perwira Polisi Papua Hingga Mabes?
Fathanah Perkenalkan Satu Lagi Istilah Korupsi
Fathanah Ajak Maharani Berhubungan Intim
Difitnah Istri Selingkuh Dengan Anaknya, Syarief Hassan Polisikan Triomacan
Ahmad Fathanah Dibawa Aksa Mahmud
Ahmad Fathanah Akui Curi Dokumen KPK
Kayak Menteri Saja, Luthfi Hasan Janjikan Penambahan Kuota Impor Sapi
Tokoh Muda NU Galang Petisi Tolak Award Terhadap SBY
