Konflik Internal Golkar, Awal Reformasi Partai
Jumat, 4 Mei 2012 | 10:47
Partai Golkar [google]
[YOGYAKARTA] Pengamat sosial
politik dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Arie Sujito menilai,
benturan atau konflik internal dapat bernilai positif sebagai awal reformasi di
tubuh partai politik.
"Saling ancam antara pengurus DPP Partai Golkar dengan Forum DPD II Partai
Golkar, dalam hal ini Muntuasir Hamir, terkait percepatan pencapresan Aburizal
Bakrie atau Ical menjadi fenomena menarik. Bahkan saya anggap upaya membongkar
itu langkah positif," kata Arie di Yogyakarta, Jumat (4/5).
Menurut dia, apalagi jika mereka mau mengungkap dan membongkar mengenai politik
uang dalam Munas Golkar, ini akan
berdampak pada reformasi Golkar.
"Ini persis bagaimana nyanyian Nazaruddin
dalam membongkar dugaan money politics
dalam Munas Partai Demokrat," katanya.
Ia mengatakan, jika memang benar dalam praktik munas kecenderungan penggunaan politik
uang, kemungkinan hampir sebagian besar parpol mengalaminya.
"Itulah
rantai dan lingkaran setan politik biaya tinggi yang selama ini dialami dan
dilanggengkan parpol," katanya.
Arie mengatakan, begitu banyak kritik dan kecaman soal money politics dalam
pemilu, atau kegiatan munas parpol, tetapi berlalu begitu saja, bahkan
senantiasa terulang kembali setiap lima tahun.
"Masyarakat juga tidak punya kekuatan untuk mengakhiri fenomena tersebut.
Masyarakat hanya ditempatkan sebagai penonton, begitu juga pemilih dalam
pemilu, hanya menjadi basis legitimasi formal semata. Itulah kesulitan beruntun
yang membuat kualitas berdemokrasi kian merosot," katanya.
Ia mengatakan, jika fenomena pertarungan dan faksionalisasi dalam tubuh parpol
dapat dikelola dengan baik, maka dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk
mendorong reformasi parpol.
"Dari pada memelihara seolah harmoni politik parpol, tetapi nyatanya
politik justru berbiaya tinggi dan bermasalah, lebih baik ada konflik tetapi
demi pembenahan dan perbaikan," katanya.
Dengan begitu, KPK dan para LSM pemantau parpol dan gerakan antikorupsi, bahkan
media massa, bisa menelisik tiap Munas dan Pemilu, sehingga politisi lebih
hati-hati dan tidak main-main uang dalam meraih posisi.
"Kasus Golkar dan Demokrat, atau konflik-konflik internal di berbagai
parpol harus menjadi pelajaran positif untuk segera melakukan reformasi parpol.
Jangan sampai konflik antarkader hanya sekadar pecah, lalu membentuk parpol
baru, tetapi tidak memperbaiki kondisi parpol," katanya.
Staf pengajar Jurusan Sosiologi Fisipol UGM ini menilai lebih baik saling
tarung habis-habisan di internal, tetapi benahi kondisi ke arah yang lebih
baik. "Pertanyaannya, berani tidak parpol mereformasi diri?,"
katanya. [Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Dilaporkan Ke KPK, Bibit Waluyo Tanggapi Santai
Eyang Subur Diperiksa Terkait Pencemaran Nama Baik
Presiden PKS Akui Ketemu Direktur PT Indoguna
Soal Capres, Gita Belum Direstui SBY
Hun Sen dan Fidel Ramos Tiba Di Makassar
Aiptu Sitorus Resmi Ditahan Di Rutan Bareskrim
DPR Desak Polri Cepat Tuntaskan Kasus Aiptu Sitorus
