Jenderal Polisi Naik Sepeda ke Kantornya
Selasa, 21 Februari 2012 | 9:51
Oegroseno selalu bersepeda menuju kantornya di Lembaga Pendidikan Polri kawasan Lebak Bulus Ciputat. [SP/Arnold Sianturi] Lama tidak muncul, dia tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Masyarakat heran,
antara percaya dan tidak. Pemandangan aneh ini pun menjadi pembicaraan. Banyak yang masih kurang percaya.
Tidak
mungkin ada polisi yang berangkat kerja naik sepeda di Ibukota Negara.
Apakah polisi gila atau gila polisi?
Pembicaraan semakin seru karena polisi yang menggayuh sepeda tersebut itu
dilihat berpangkat bintang tiga. Polisi ini tidak menyadari bahwa dirinya
menjadi perhatian.
Dengan santainya, ia hanya melemparkan
senyuman ketika saling memandang. Saat terjebak kemacetan maupun di lampu
merah, dia berhenti mendayung dan menyapa sopir angkutan di sampingnya.
Terkadang dia berusaha menyelinap masuk memanfaatkan celah jalan. Bahkan,
sepeda diangkat ke atas trotoar jalan.
Oegroseno, itulah nama yang tertulis di
seragam cokelat di dada sebelah kanannya. Masyarakat ternyata menyadari, nama,
dan wajahnya tersebut memang tidak asing lagi, karena dulunya sering menghiasi surat kabar dan
media televisi.
Sadar atau tidak, masyarakat masih melihat
realita.
Masih ada jenderal bintang tiga berangkat kerja dengan naik sepeda.
Bukan hanya masyarakat, tidak sedikit polisi merasa heran melihat kesederhanaan
yang dibangun sang jenderal tersebut.
"Mohon maaf, saya bukan mencari
popularitas. Saya tidak mempunyai misi tertentu berangkat kerja dengan menaiki
sepeda ini.Ini saya lakukan agar bawahan menyadari, kita semua bisa menghemat
anggaran. Untuk mengubah ini, maka saya harus memberikan contoh dengan
memulainya dari diri sendiri," katanya kepada SP di tengah
kemacetan di kawasan Cilandak, baru- baru ini.
Perjalanan jenderal anti kekerasan ini, menggayuh
sepeda dari apartemen sederhana di kawasan Tarogong Raya menuju kantornya di Lembaga
Pendidikan Polri kawasan Lebak Bulus Ciputat, itu lumayan jauh.
Untuk sampai menuju kantor memakan waktu
paling cepat sekitar 20 menit.
Jenderal kelahiran 17 Februari ini pun merasa
sangat menikmati sepeda sebagai sarana transportasinya.
Tidak ada ajudan
yang melakukan pengawalan. Oegroseno ternyata sering
menggunakan sepeda sebagai kendaraan menuju kantornya. Menurutnya, apa yang
dilakukan ini sudah biasa.
Mobil dinas dibawa hanya setiap menghadiri
acara tertentu, atau kegiatan protokoler di Markas Besar Polri. Itupun dia
menyetir sendiri tanpa menggunakan jasa ajudan maupun sopir khusus buat setiap
jenderal polisi.
"Kasihan ajudan dan sopir. Sebagai
anggota Polri, wawasan mereka nanti tidak berkembang jika tugasnya hanya mampu
melayani pimpinan. Ironis, jika kita tidak mampu menjaga maupun mengurus diri
sendiri. Saya tidak pakai ajudan," ungkapnya.
"Intinya, selama kita berbuat baik,
maka kecil kemungkinan disakiti orang. Saat bersepeda sekarang ini, saya hanya
mengkhawatirkan pengendara yang baru mengonsumsi narkoba mengemudikan kendaraan
di jalan," sebutnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan ini tidak
berlebihan, apalagi sampai dianggap merupakan keanehan. Oegroseno juga sering
melakukan ini saat bertugas dengan jabatan Kapolda Sulawesi Tenggara dan
Kapolda Sumut.
Dua daerah tersebut merupakan wilayah
paling rawan atas segala bentuk kejahatan.
"Bila memang ada orang yang
berniat untuk menghantam saya tentunya dari dulu sudah dilakukan. Ketika
bertugas di Sumut, pascakejadian perampokan komplotan bersenjata di Bank CIMB Medan, saya sering
sendiri jalan keluar rumah naik sepeda, dan terkadang mengendarai sepeda motor
untuk menggali informasi," katanya.
Oegroseno berani melakukan ini karena
merasa nyawanya tidak terancam. Dia pun merasa tidak mengkhawatirkan ancaman
berbahaya, meski kasus yang diselidiki ini menyangkut orang paling berbahaya.
Para pelaku tersebut memang sadis namun bukanlah teroris.
Aliran keras
sekalipun jika memang benar ada di kota itu, mungkin
tidak sampai hati untuk mau mengerjainya. Tidak heran, jika suami
Suharyatminingsih ini disenangi bahkan menjadi panutan masyarakat.
Selama tidak mengganggu pekerjaan, naik
sepeda kan enggak salah kita lakukan. Ini juga menunjukkan tanggung jawab
kita kepada masyarakat agar tidak boros dalam menggunakan anggaran.
”Saya terima gaji dari rakyat maka sebagai
pimpinan harus merakyat. Bila ada orang yang menganalogikan miring atas
keinginan saya berangkat kerja naik sepeda, maka itu sangat berlebihan. Patut
dicurigai ada maksud tertentu di balik kecurigaan tersebut. Saya tidak mau
kalau masalah ini sampai dipolitisasi. Butuh keikhlasan dari dalam diri untuk
melakukan ini," ujarnya.
Ayah dua orang anak dengan tiga orang cucu
ini pun merasa tidak malu berangkat kerja dengan menggunakan sepeda yang dibeli
dari negeri kincir angin dengan harga sekitar Rp 7 juta tersebut.
Sepeda itu dibeli saat dirinya mendapatkan
tugas melakukan perjalanan ke Belanda.
Untuk pengangkutan kendaraan ini melalui
jasa pesawat sama sekali tidak dikenakan biaya.
Ia pun tidak merasa kecil hati saat diamati
masyarakat. Sebaliknya, ini mempunyai nilai positif karena mendapatkan simpatik
dari seluruh elemen masyarakat. Artinya, tidak semua jenderal polisi
menginginkan dirinya mendapatkan pelayanan yang berlebihan.
Jenderal polisi yang mendengungkan gagasan
"Jangan Ada Darah dan Air Mata Mengalir di Bumi Tercinta" ini
menambahkan, kedekatan antara pimpinan dengan masyarakat, diyakini membawa
hasil yang positif.
Ini pun sudah terbukti ketika dia memimpin
proses penyergapan komplotan perampok bersenjata di Bank CIMB di perkebunan
kelapa sawit kawasan Dolok Masihol, Kabupaten Serdang Bedagai.
Ketika itu, masyarakat langsung terjun
membantu polisi dalam mengungkap kasus tersebut. Selain memberikan informasi
keberadaan komplotan sadis ini, masyarakat menggunakan penerangan senter, rela
mempertaruhkan jiwa dan raganya dengan bermalam di areal terbuka di tengah
perkebunan.
Sampai pagi hari pun, masyarakat turut mengejar kawanan penjahat.
Tidak ada rasa takut masyarakat ketika itu.
Kasus tersebut semua terungkap. Seluruh
pelaku ditangkap, meski sebagian tewas dalam baku tembak. Polisi
juga mengamankan barang bukti senjata api milik anggota Brimob yang tewas saat
kejadian perampokan di bank. Senjata itu dilarikan oleh komplotan sadis itu.
Oegroseno turun langsung memimpin proses
penyergapan ini, membuat masyarakat memberikan dukungan.
Tidak hanya kalangan orang
tua maupun orang dewasa, anak - anakpun dengan semangatnya turut membantu
polisi dalam menelusuri jejak komplotan sadis tersebut.
Pemimpin Humanis
Oegroseno merupakan sosok pemimpin yang
humanis. Dengan jabatan sebagai Kepala Lembaga Pendidikan (Kalemdik) Polri
sekarang ini, dia juga mempunyai banyak karya. Dia mengusulkan kepada
pimpinannya, peserta yang mengikuti jenjang pendidikan dan kepangkatan, mulai
dari Stukpa, Sekolah Lanjut Perwira (Selapa), Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri,
sebaiknya dilaksanakan di setiap Polda di Tanah Air.
Alasan Oegroseno, untuk menghemat beban
biaya anggota yang mengikuti jenjang pendidikan. Selain itu, tenaga dan
pemikiran anggota bisa dibutuhkan jika mengikuti pendidikan di daerah masing -
masing. Hal yang lebih utama, pendidikan polisi di daerah jika dioptimalkan
bisa menekan kerusakan mental polisi akibat segala bentuk hawa nafsu.
Oegroseno merupakan jenderal polisi yang
berani tampil beda dengan jenderal lainnya. Kesederhanaan dan komitmennya itu
justru memperkaya keragaman kharakter jenderal polisi di Tanah Air.
Ada jenderal yang
baik, namun tidak sedikit berkharakter buruk.
Lebih parah lagi, ada jenderal yang dengan
sengaja menyuburkan kumis supaya menunjukkan sosok wajah pemimpin yang paling
hebat dan ditakuti. Bahkan, ada juga jenderal yang tidak mempunyai integritas
dan wawasan yang luas, justru menganggap dirinya sebagai penguasa.
Kondisi ini yang menimbulkan banyak pro dan
kontra di masyarakat. Pertanyaannya, apakah murni karena track record sehingga petinggi di negeri ini mendapatkan pangkat
tersebut? Tanpa koordinasi, mereka bisa menjawab dengan satu jawaban yang sama.
Tidak mudah. [SP/Arnold Sianturi]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Inilah Isu Pengunduran Diri Menneg BUMN di Media Sosial
Istana Pertegas Pencalonan Ani Yudhoyono
Anas Dijegal Internal dan Eksternal Demokrat
Istana Bantah Keras Dahlan Iskan Mundur
Ribut-ribut Petral dan Prinsip C&C
Angie Minta Izin Berobat, KPK Tak Mau Dikecewakan Lagi
Rencana Pemanggilan Anas Kian Simpang Siur
KPK Positif Akan Mintai Keterangan Menpora
