SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Jenderal Polisi Naik Sepeda ke Kantornya
Selasa, 21 Februari 2012 | 9:51

Oegroseno selalu bersepeda menuju kantornya di Lembaga Pendidikan Polri kawasan Lebak Bulus Ciputat. [SP/Arnold Sianturi] Oegroseno selalu bersepeda menuju kantornya di Lembaga Pendidikan Polri kawasan Lebak Bulus Ciputat. [SP/Arnold Sianturi]

Lama tidak muncul, dia tiba-tiba  menjadi pusat perhatian. Masyarakat heran, antara percaya dan tidak. Pemandangan aneh ini pun menjadi pembicaraan.  Banyak yang masih kurang percaya.

Tidak mungkin ada polisi yang berangkat kerja naik sepeda di Ibukota Negara. Apakah polisi gila atau gila polisi? Pembicaraan semakin seru karena polisi yang menggayuh sepeda tersebut itu dilihat berpangkat bintang tiga. Polisi ini tidak menyadari bahwa dirinya menjadi perhatian.

Dengan santainya, ia hanya melemparkan senyuman ketika saling memandang. Saat terjebak kemacetan maupun di lampu merah, dia berhenti mendayung dan menyapa sopir angkutan di sampingnya. Terkadang dia berusaha menyelinap masuk memanfaatkan celah jalan. Bahkan, sepeda diangkat ke atas trotoar jalan.

Oegroseno, itulah nama yang tertulis di seragam cokelat di dada sebelah kanannya. Masyarakat ternyata menyadari, nama, dan wajahnya tersebut memang tidak asing lagi,  karena dulunya sering menghiasi surat kabar dan media televisi. Sadar atau tidak, masyarakat masih melihat realita.

Masih ada jenderal bintang tiga berangkat kerja dengan naik sepeda. Bukan hanya masyarakat, tidak sedikit polisi merasa heran melihat kesederhanaan yang dibangun sang jenderal tersebut.

"Mohon maaf, saya bukan mencari popularitas. Saya tidak mempunyai misi tertentu berangkat kerja dengan menaiki sepeda ini.Ini saya lakukan agar bawahan menyadari, kita semua bisa menghemat anggaran. Untuk mengubah ini, maka saya harus memberikan contoh dengan memulainya dari diri sendiri," katanya kepada SP di tengah kemacetan di kawasan Cilandak, baru- baru ini.

Perjalanan jenderal anti kekerasan ini, menggayuh sepeda dari apartemen sederhana di kawasan Tarogong Raya menuju kantornya di Lembaga Pendidikan Polri kawasan Lebak Bulus Ciputat, itu lumayan jauh. Untuk sampai menuju kantor memakan waktu paling cepat sekitar 20 menit.

Jenderal kelahiran 17 Februari ini pun merasa sangat menikmati sepeda sebagai sarana transportasinya. Tidak ada ajudan yang melakukan pengawalan. Oegroseno ternyata sering menggunakan sepeda sebagai kendaraan menuju kantornya. Menurutnya, apa yang dilakukan ini sudah biasa.

Mobil dinas dibawa hanya setiap menghadiri acara tertentu, atau kegiatan protokoler di Markas Besar Polri. Itupun dia menyetir sendiri tanpa menggunakan jasa ajudan maupun sopir khusus buat setiap jenderal polisi.

"Kasihan ajudan dan sopir. Sebagai anggota Polri, wawasan mereka nanti tidak berkembang jika tugasnya hanya mampu melayani pimpinan. Ironis, jika kita tidak mampu menjaga maupun mengurus diri sendiri. Saya tidak pakai ajudan," ungkapnya.

"Intinya, selama kita berbuat baik, maka kecil kemungkinan disakiti orang. Saat bersepeda sekarang ini, saya hanya mengkhawatirkan pengendara yang baru mengonsumsi narkoba mengemudikan kendaraan di jalan," sebutnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan ini tidak berlebihan, apalagi sampai dianggap merupakan keanehan. Oegroseno juga sering melakukan ini saat bertugas dengan jabatan Kapolda Sulawesi Tenggara dan Kapolda Sumut. Dua daerah tersebut merupakan wilayah paling rawan atas segala bentuk kejahatan.

"Bila memang ada orang yang berniat untuk menghantam saya tentunya dari dulu sudah dilakukan. Ketika bertugas di Sumut, pascakejadian perampokan komplotan bersenjata di Bank CIMB Medan, saya sering sendiri jalan keluar rumah naik sepeda, dan terkadang mengendarai sepeda motor untuk menggali informasi," katanya.

Oegroseno berani melakukan ini karena merasa nyawanya tidak terancam. Dia pun merasa tidak mengkhawatirkan ancaman berbahaya, meski kasus yang diselidiki ini menyangkut orang paling berbahaya. Para pelaku tersebut memang sadis namun bukanlah teroris.

Aliran keras sekalipun jika memang benar ada di kota itu, mungkin tidak sampai hati untuk mau mengerjainya. Tidak heran, jika suami Suharyatminingsih ini disenangi bahkan menjadi panutan masyarakat. Selama tidak mengganggu pekerjaan, naik sepeda kan enggak salah kita lakukan. Ini juga menunjukkan tanggung jawab kita kepada masyarakat agar tidak boros dalam menggunakan anggaran.

”Saya terima gaji dari rakyat maka sebagai pimpinan harus merakyat. Bila ada orang yang menganalogikan miring atas keinginan saya berangkat kerja naik sepeda, maka itu sangat berlebihan. Patut dicurigai ada maksud tertentu di balik kecurigaan tersebut. Saya tidak mau kalau masalah ini sampai dipolitisasi. Butuh keikhlasan dari dalam diri untuk melakukan ini," ujarnya.

Ayah dua orang anak dengan tiga orang cucu ini pun merasa tidak malu berangkat kerja dengan menggunakan sepeda yang dibeli dari  negeri kincir angin dengan harga sekitar Rp 7 juta tersebut. Sepeda itu dibeli saat dirinya mendapatkan tugas melakukan perjalanan ke Belanda.

Untuk pengangkutan kendaraan ini melalui jasa pesawat sama sekali tidak dikenakan biaya. Ia pun tidak merasa kecil hati saat diamati masyarakat. Sebaliknya, ini mempunyai nilai positif karena mendapatkan simpatik dari seluruh elemen masyarakat. Artinya, tidak semua jenderal polisi menginginkan dirinya mendapatkan pelayanan yang berlebihan.

Jenderal polisi yang mendengungkan gagasan "Jangan Ada Darah dan Air Mata Mengalir di Bumi Tercinta" ini menambahkan, kedekatan antara pimpinan dengan masyarakat, diyakini membawa hasil yang positif. Ini pun sudah terbukti ketika dia memimpin proses penyergapan komplotan perampok bersenjata di Bank CIMB di perkebunan kelapa sawit kawasan Dolok Masihol, Kabupaten Serdang Bedagai.

Ketika itu, masyarakat langsung terjun membantu polisi dalam mengungkap kasus tersebut. Selain memberikan informasi keberadaan komplotan sadis ini, masyarakat menggunakan penerangan senter, rela mempertaruhkan jiwa dan raganya dengan bermalam di areal terbuka di tengah perkebunan.

Sampai pagi hari pun, masyarakat turut mengejar kawanan penjahat. Tidak ada rasa takut masyarakat ketika itu. Kasus tersebut semua terungkap. Seluruh pelaku ditangkap, meski sebagian tewas dalam baku tembak. Polisi juga mengamankan barang bukti senjata api milik anggota Brimob yang tewas saat kejadian perampokan di bank. Senjata itu dilarikan oleh komplotan sadis itu. Oegroseno turun langsung memimpin proses penyergapan ini, membuat masyarakat memberikan dukungan.

Tidak hanya kalangan orang tua maupun orang dewasa, anak - anakpun dengan semangatnya turut membantu polisi dalam menelusuri jejak komplotan sadis tersebut.

Pemimpin Humanis

Oegroseno merupakan sosok pemimpin yang humanis. Dengan jabatan sebagai Kepala Lembaga Pendidikan (Kalemdik) Polri sekarang ini, dia juga mempunyai banyak karya. Dia mengusulkan kepada pimpinannya, peserta yang mengikuti jenjang pendidikan dan kepangkatan, mulai dari Stukpa, Sekolah Lanjut Perwira (Selapa), Sekolah Pimpinan (Sespim) Polri, sebaiknya dilaksanakan di setiap Polda di Tanah Air.  

Alasan Oegroseno, untuk menghemat beban biaya anggota yang mengikuti jenjang pendidikan. Selain itu, tenaga dan pemikiran anggota bisa dibutuhkan jika mengikuti pendidikan di daerah masing - masing. Hal yang lebih utama, pendidikan polisi di daerah jika dioptimalkan bisa menekan kerusakan mental polisi akibat segala bentuk hawa nafsu.

Oegroseno merupakan jenderal polisi yang berani tampil beda dengan jenderal lainnya. Kesederhanaan dan komitmennya itu justru memperkaya keragaman kharakter jenderal polisi di Tanah Air.

Ada jenderal yang baik, namun tidak sedikit berkharakter buruk. Lebih parah lagi, ada jenderal yang dengan sengaja menyuburkan kumis supaya menunjukkan sosok wajah pemimpin yang paling hebat dan ditakuti. Bahkan, ada juga jenderal yang tidak mempunyai integritas dan wawasan yang luas, justru menganggap dirinya sebagai penguasa.

Kondisi ini yang menimbulkan banyak pro dan kontra di masyarakat. Pertanyaannya, apakah murni karena track record sehingga  petinggi di negeri ini mendapatkan pangkat tersebut? Tanpa koordinasi, mereka bisa menjawab dengan satu jawaban yang sama. Tidak mudah. [SP/Arnold Sianturi]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN