Suara Pembaruan
Senin, 17 Juni 2013
28
S
osok Ully Artha dalam
kancah sinetron di era
tahun 1990-an memang
sangat besar. Ia bukan
hanya mampu memeran-
kan ibu yang lemah lembut, penya-
nyang, dan lembut. Namun di be-
berapa sinetron, Ully Artha pun
mampu berubah 180 derajat men-
jadi sosok ibu yang bengis, jahat,
dan pendendam. Karakter antago-
nis Ully bahkan sudah teruji dalam
sinetron
Ikhlas
dan
Puteri Cahaya
.
Peran antagonis, bagi pemilik
nama panjang Taruli Artha Sortiana
Pangaribuan ini memang terkesan
lebih menantang ketimbang pro-
tagonis. Rasanya peran antagonis
lebih banyak mengundang gereget-
an penonton ketimbang simpati.
Dan bagi Ully sebuah peran antago-
nis ibarat sebuah pembuktian diri,
apakah si aktris berhasil menarik
perhatian penonton atau tidak.
"Peran protagonis itu sudah
pasti disukai semua orang. Namun
peran antagonis terkesan lebih me-
nantang. Apalagi bila peran anta-
gonis itu bertolak belakang dengan
kepribadian kita. Kalau aku, akan
dengan senang hati menerima pe-
ran antagonis. Dengan begitu, aku
bisa semakin mencuri perhatian
pemirsa di televisi," ungkap Ully
Artha seperti yang dilansir dalam
detikhot
(2005).
Sebelum akhirnya mencintai
peran antagonis, bintang film seni-
or yang gemar mengkoleksi ba-
rang antik ini juga sudah dikenal
kawakan dalam dunia hiburan.
Sejak tahun 1970-an, wanita ber-
darah Batak ini sudah banyak me-
merankan berbagai peran antago-
nis dan protagonis. Ia mengawali
kariernya sebagai pemain drama di
TVRI
tahun 1970. Bakat aktingnya
yang memikat membuat sejumlah
produser film melirik dan mena-
warinya sejumlah peran. Sebut saja
film
Tjisadane
tahun 1971 yang
menjadi debut pertamanya di layar
lebar. Semenjak itu nama Ully pun
semakin dikenal dan
diperhitungkan di
jagad perfilman
tanah air.
Berkat
debut ak-
tingnya di
Tjisadane
,
Ully pun ke-
banjiran ta-
waran pe-
ran. Sederet
judul film
yang pernah
dibintanginya
menjadi saksi
debutnya di seni pe-
ran. Sebut saja
Kem-
bang-Kembang
Plastik
(1977),
Satu Malam Dua Cinta
(1978),
Pengemis dan Tukang Be-
cak
(1979),
Kejarlah Daku Kau
Kutangkap
(1985),
Keluarga Mar-
kum
(1986),
Siapa Menabur Benci
Akan Menuai Bencana
(1988),
Se-
mua Sayang Kamu
(1989),
Tu-
rangga
(1990),
Potret
(1991), dll.
Berkat kemampuan aktingnya
pula, Ully mendapat sejumlah per-
ghargaan bergengsi. Beberapa di an-
taranya adalah Nominasi Aktris
Pembantu, Piala Citra
FFI, dan Piala Vi-
dia FSI.
Bukan ha-
nya dalam du-
nia film, na-
ma Ully ju-
ga terus
bersinar da-
lam kancah
televisi.
Setelah
industri film
Indonesia
mengalami
masa suram
di sekitar tahun
2000-an, Ully
pun memutuskan
untuk merambah
kariernya ke
rumah
pro-
duksi Multivision Plus, SinemArt,
dan MD Entertainment. Bersama
dengan tiga rumah produksi terse-
but ja mendapat banyak peran di
sinetron
Buku Harian
(bersama El-
ma Theana, Desy Ratnasari, dan
Didi Petet),
Janjiku
(bersama de-
ngan Paramitha Rusady), dan
Ma-
ma
, sebuah sinetron komedi situasi
yang naskahnya juga ditulis oleh
Ully.
Tutup Usia
Di tengah segudang prestasi
yang pernah di kantongi Ully, kini
masyarakat Indonesia harus mene-
rima kepergian sang bintang ke ta-
ngan Yang Maha Kuasa. Seperti
yang dilansir di beberapa media
online
, Ully menutup usia di usia
59 tahun pada Minggu (16/6) pe-
tang hari. Ully yang telah menjala-
ni perawatan di RSPAD sejak dua
hari lalu, Jumat (14/6), akhirnya
menghembuskan napas terakhirnya
sekitar pukul 16.45 WIB, Minggu
(16/6). Dan rencananya, prosesi
pemakaman Ully akan dilaksana-
kan hari ini, Senin (17/6) di Tanah
Kusir, secara Islam.
Sebelummeninggal, Ully sudah
dirawat dan tidak sadarkan diri se-
jak Jumat di rumah sakit RSPAD,
Jakarta Pusat. Pihak keluarga, Tigor
Pangaribuan (adik) saat ditemui di
rumah duka, Jalan Petojo Sabangan
II, Tanah Abang III, Jakarta Pusat,
Minggu (16/6/2013) malam, me-
ngatakan Ully sudah menderita pe-
nyakit komplikasi jantung, lever,
dan paru-paru sejak beberapa tahun
belakangan ini. Terkadang penyakit
jantungnya kambuh. Karena itu, pa-
da tahun 1997 Ully memasang
ring
untuk menopang kemampuan jan-
tungnya.
Bukan hanya pihak keluarga
yang bersedih dengan kepergian
Ully, lawan mainnya di sinetron
Buku Harian
, Elma Theana juga
mengungkapkan rasa pilunya. El-
ma menuturkan pertama kali me-
ngenal Ully sejak tahun 1990-an,
saat itu mereka bermain dalam satu
sinetron yang sama. Sinetron yang
pernah mereka bintangi berdua
adalah sinetron
Mama
serta
Buku
Harian
.
Di mata Elma, sehari-hari Ully
dikenal sebagi seorang yang agak
tomboi. Bahkan beberapa pe-
kerjaan rumah seperti me-
ngecat tembok sering dila-
kukannya sendiri. Namun
di balik sikapnya tersebut,
Mami (panggilan kesayangan
Elma terhadap Ully) merupakan
orang yang sangat penyayang.
"Aku kaget mendengar kabar
Mami meninggal. Padahal aku ter-
akhir kontak dengan Mami adalah
Jumat lalu Lewat Blackberry Mas-
sanger. Mami mengajak bertemu
waktu itu," ungkap Elma.
[Berbagai Sumber/A-23]
Ully Artha
Pecinta Peran Antagonis Itu Telah Tiada
Masih terbayang
dalam ingatan
peran ibu yang
sangat baik dalam
sinetron
Buku Harian
di SCTV.
Sosok ibu itu
diperankan
sangat menyentuh
oleh Ully Artha
pada tahun 1994.
Bukan hanya
dalam sinetron
Buku Harian
bersama dengan
Elma Theana
dan Dessy Ratnasari,
bintang film senior
ini juga
terbilang sukses
menghidupkan
sinetron
Janjiku
(1996)
bersama dengan
Paramitha
Rusady.
Nama Lengkap :
Taruli Artha Sortiana Pangaribuan
Tanggal Lahir :
17 Oktober 1953
Profesi :
Aktris Film dan Sinteron
Penghargaan :
* Nominasi Aktris Pembantu, Piala Citra FFI
Pengemis dan Tukang Becak
(1979)
* Nominasi Aktris Pembantu, Piala Citra FFI
Kejarlah daku kau kutangkap
(1986)
* Nominasi Aktris Pembantu, Piala Citra FFI
Potret (
1991)
* Nominasi Aktris Pembantu, Piala Vidia FSI 1995
Pakaian dan Kepalsuan
* Nominasi Aktris Utama Komedi, Piala Vidia FSI 1996
Suami-suami Takut Istri
* Nominasi Aktris Pembantu Indonesian Movie Award 2011
Bebek Belur
Ully Artha
KAPANLAGI.COM
1...,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27 29,30,31,32,33,34,35,36,37,38,...40