Suara Pembaruan
Senin, 22 April 2013
11
O
PINI
& E
DITORIAL
Pengosongan Perumahan Pejuang
Angkatan 1945 Tidak Manusiawi
Kami warga Jl. Kesatrian III dan IV, Berlan, Mat-
raman sangat dikejutkan dengan pemberitahuan me-
lalui sosialisasi tanggal 28 Maret 2013 oleh Direkto-
rat Zeni AD. Intinya adalah kami penghuni 33 rumah
harus mengosongkan rumah kami paling lambat pada
akhir Mei 2013 secara sukarela dan tanpa paksaan.
Mayoritas penghuni adalah purnawirawan dan
warakawuri angkatan 45 yang sedikit banyak ikut
mendirikan republik ini. Dan saat ini ada juga peng-
huni perwira menengah dan perwira tinggi aktif. Ka-
mi sangat keberatan akan rencana ini.
Sebagian besar kami sudah menempati rumah ter-
sebut lebih dari 30 tahun. Rumah ini adalah eks pe-
ninggalan Belanda yang kami peroleh atas usaha sendi-
ri. Tanah rumah kami belum bersertifikat. Sebagaima-
na diatur dalam UU No. 5 tahun 1960 tentang Peratur-
an Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Peraturan Peme-
rintah No. 24 tahun1997 tentang Pendaftaran Tanah,
tanah yang tidak dipunyai dengan suatu hak atas tanah
merupakan Tanah Negara. Dan penghuni yang telah le-
bih 20 tahun menempati terus menerus mempunyai hak
prioritas untuk mendaftarkan tanah tersebut.
Pengosongan tersebut sangat tidak manusiawi dan
melanggar hak asasi kami sebagai warga negara. Ka-
mi menolak rencana tersebut. Untuk itu mohon bantu-
an pihak terkait untuk membatalkan rencana pengo-
songan ini dan mempertimbangkan ha-hak kami seba-
gai warga negara Indonesia.
Moesiannie Nakoela S
Warakawuri Let Kol Purn Prof Nakoela Sunarta,
Dpl Ing (Alm), Jl Kesatrian IV, No 8, Jakarta
Koreksi Buat Pemain Sepakbola
Di tengah tinggi semangat mengembangkan jati
diri dan profesionalitas, terkadang masih terlihat
sikap yang tidak terpuji saat uji tanding. Hal tersebut
bisa dilihat dari cara mereka ketika menerima sebuah
kartu merah, atau kartu kuningan akibat sebuah
pelanggaran yang dilakukan.
Mereka terlihat tidak bisa menerima kenyataan keti-
ka peluit wasit menandakan sebuah pelanggaran.
Bahkan tak jarang mereka mempertontonkan sikap aro-
gan melakukan protes yang sangat keras di depan wasit
sebagai penguasa lapangan. Terkadang mereka bahkan
sama sekali tak menghormati pemimpin pertandingan.
Akibatnya banyak kasus terjadi wasit pengatur per-
tandingan menjadi sasaran kemarahan para pemain.
Sikap seperti ini jauh dari sikap seorang profe-
sional sebagai pemain. Bahkan cenderung mem-
berikan contoh buruk terhadap generasi selanjutnya.
Seharusnya sebagai seorang pemain sepakbola profe-
sional meninggalkan karakter-karakter buruk di la-
pangan.
Nining Suprapto
Jl Perdatam, Pancoran, Jakarta Selatan
Suara pembaca dikirimmelalui email atau Faks ke redaksi,
disertai alamat lengkap dan fotocopy identitas yang masih berlaku
SUARA PEMBACA
“Jika pohon terakhir telah ditebang,
ikan terakhir telah ditangkap, sungai
terakhir telah mengering, manusia baru
sadar bahwa uang tak bisa dimakan”.
Pepatah Indian
A
dakah yang ingat, 22 April
2013 merupakan Hari Bumi ke
43? Meskipun menurut Ste-
phen E Hawking umur bumi 13,5 mili-
ar tahun, namun baru sejak 1970, umat
manusia mendedikasikan satu hari khu-
sus bagi bumi. Setiap tanggal 22 April
tiap tahun diperingati sebagai “Earth
Day” (Hari Bumi). Ini digagas Gaylord
Nelson, senator sekaligus pengajar
lingkungan hidup di Amerika Serikat.
Mengapa ada Hari Bumi? Manusia
perlu sadar planet satu-satunya yang
“cocok” untuk hidup manusia ini,
sungguh sedang terancam. Ada bera-
gam ancaman. Salah satu yang paling
menonjol adalah perubahan iklim. Eks-
trimnya perubahan iklim yang dipicu
oleh pemanasan global sebenarnya di-
sebabkan oleh ulah manusia sendiri.
Perilaku manusia yang suka membakar
bahan bakar fosil baik untuk mobil atau
proses industri, membabat hutan, mem-
buang sampah sembarangan, mengha-
silkan gas rumah kaca (GRK) seperti
karbon dan metana. Semakin besar
jumlah GRK dalam atmosfer maka su-
hu bumi kita akan semakin panas.
Hutan dan Regulasi Keliru
Sayang dalam upaya penurunan
emisi, antara negara-negara maju de-
ngan negara-negara berkembang masih
belum punya visi sama. Hingga kini
masih ada keberatan dari negara maju
dalam menerima ketentuan pembatas-
an produksi karbon. Mereka hanya ter-
tarik pada mekanisme jual beli karbon
lewat bantuan ke negara-negara yang
masih punya hutan tropis, seperti nega-
ra kita. Meski ada skema “reducing
emission from deforestation in develo-
ping countries” (REDD), tapi mekanis-
me ini berpotensi meminggirkan peran
para warga asli yang tinggal di dalam
atau di sekitar hutan, apalagi laju defo-
restasi di negeri kita begitu sulit diken-
dalikan.
Akibat deforestasi semacam itu, ba-
nyak kalangan pesimis bahwa hutan ki-
ta akan bisa diselamatkan. Hutan Indo-
nesia akan musnah dalam satu dekade
mendatang, jika tidak segera dilakukan
reformasi tata kelola kehutanan. Ko-
nyolnya, pemerintah kadang malah
membuat kebijakan keliru, seperti tam-
pak pada dibukanya kawasan hutan lin-
dung untuk eksplorasi tambang sesuai
dengan PP No 2/2008 yang kontrover-
sial.
Jadi pemerintah lewat regulasi yang
dibuatnya justru bisa merusak bumi
yang berlangsung secara sistematis,
terlembaga, rapi, dan “sah” secara hu-
kum normatif. Buah dari semua itu
adalah bencana lingkungan (
policy ma-
de disaster
), seperti banjir bandang, ta-
nah longsor dan sebagainya. Ironis re-
gulasi atau hukum kita malah menjadi
biangkerok yang melegitimasi keru-
sakan bumi pertiwi.
Ekoteologi
Bagaimana kontribusi agama untuk
menyelamatkan bumi? Teologi abad
pertengahan menempatkan manusia
berada di atas alam/bumi. Manusia ber-
hak mengeksploitasi bumi demi diri-
nya, seperti dipesankan Tuhan dalam
Kitab Kejadian. Manusia adalah pusat
dari alam semesta (antroposentrisme).
Teologi seperti itu jelas tidak bisa
diterapkan lagi sekarang. Apalagi kini
dunia tengah tertarik pada sebuah eko-
teologi untuk penyelamatan bumi.
Ekoteologi, seperti ditegaskan Susan
Power Bratton (2000), aktivis ling-
kungan sekaligus pengajar di Oregon
State University, hendak menjabarkan
nilai-nilai penciptaan dan kehendak
Tuhan pada alam semesta. Ekoteologi
dalam konteks ini, mencoba mengajak
manusia dalam setiap sepak terjangnya
di bidang apapun, agar menyadari diri-
nya sebagai bagian dari semesta. Eko-
teologi bukan sebuah perintah bagi
umat beragama tertentu, tapi ajakan
bagi semua orang dari semua golongan
dan agama untuk memiliki tanggung
jawab universal (baca: semangat kese-
mestaan).
Oleh karena itu, ekoteologi bukan
hanya etika lingkungan, tapi kita ma-
sing-masing sungguh saling bergan-
tung dalam satu ekosistem. Tanpa pe-
mahaman seperti ini, harmoni di bumi
bisa terganggu dan perdamaian tidak
akan terwujud. Apalagi, perdamaian di
bumi tidak hanya seputar konflik senja-
ta dan relasi antarbangsa yang tidak
adil, tapi juga terlebih sikap kita pada
bumi.
Pada hari bumi kali ini, kita perlu
memobilisasi atau mengerahkan sege-
nap sumber daya yang ada dari segenap
makhluk bumi, khususnya manusia un-
tuk mencegah dan menghentikan se-
mua hal yang berpotensi merusak bu-
mi. Dan untuk itu sangat dibutuhkan
kesadaran ekologis.
Kesadaran ekologis tak boleh ha-
nya bersifat reduksionis, yakni mema-
hami ekologi hanya sebatas upaya me-
nata taman kota agar tampak indah atau
mengelola situs-situs perubakala demi
mempertinggi daya tarik wisata (
plea-
sure travelers
). Juga jangan hanya ber-
henti pada pelestarian satwa atau he-
wan piaraan dalam konservasi. Titik
tolak bagi kesadaran ekologis dimulai
dengan kesadaran bahwa masing-ma-
sing kita adalah bagian dari alam atau
bumi, sebagai sudah ditawarkan oleh
ekoteologi di atas.
Setelah punya kesadaran semacam
itu, kita harus segera mentransformasi-
kan kesadaran ke dalam tindakan. Se-
gala praksis (teori praktik) politik, eko-
nomi, bisnis atau apapun, tidak boleh
lagi mengabaikan ekologi.
Jadi mari singsingkan lengan baju,
hentikan laju deforestasi hutan, pence-
maran laut atau sungai dan komersiali-
sasi air. Segala gaya dan praktik hidup
yang tidak ramah lingkungan harus di-
akhiri, agar berhenti tangis Ibu Pertiwi.
Ekoteologi harus terimplementasi da-
lam aksi sehingga segala bentuk eks-
ploitasi dan destruksi pada bumi yang
bersumber dari ketamakan atau kesera-
kahan harus diakhiri, agar tragedi eko-
logis yang mengerikan atau semacam
kiamat tidak sampai kita alami di masa
depan, sebagaimana peringatan pepa-
tah Indian di awal tulisan ini.
P
ENULIS ADALAH
K
OLUMNIS
,
A
LUMNUS
STFT W
IDYA
S
ASANA
M
ALANG DAN
S
EMINARI
S
T
V
INCENT DE
P
AUL
Refleksi Hari Bumi,22 April 2013
Ekoteologi Penyelamatan Bumi
T
OM
S
APTAATMAJA
Harian Umum Sore
S
UARA
P
EMBARUAN
Mulai terbit 4 Februari 1987 sebagai kelanjutan dari harian umum sore SINAR HARAPAN yang terbit pertama 27 April 1961.
Penerbit:
PT Media Interaksi Utama
SK Menpen RI Nomor 224/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1987
Presiden Direktur:
Theo L Sambuaga,
Direktur:
Randolph Latumahina, Drs Lukman Djaja MBA
Alamat Redaksi:
BeritaSatu Plaza, lantai 11
Jl Jend Gatot Subroto Kav 35-36 Jakarta-12950, Telepon (021) 2995 7500, Fax (021) 5277 981
BERITA SATU MEDIA HOLDINGS: President Director:
Theo L Sambuaga,
Group Publisher :
Peter F Gontha,
Chief Executive Officer:
Sachin Gopalan,
Director of Digital Media:
John Riady,
General Affairs & Finance Director:
Lukman Djaja,
Marketing & Communications Director:
Sari Kusumaningrum,
Dewan Redaksi:
Sabam Siagian (Ketua), James T Riady, Tanri Abeng, Markus Parmadi, Soetikno Soedarjo, Baktinendra Prawiro MSc, Dr Anugerah Pekerti, Ir Jonathan L Parapak MSc, Bondan Winarno
Penasihat Senior:
Samuel Tahir
Redaktur
Pelaksana:
Aditya L Djono, Dwi Argo Santosa,
Asisten Redaktur Pelaksana:
Anselmus Bata, Asni Ovier Dengen Paluin,
Redaktur:
Alexander Madji, Bernadus Wijayaka, Gatot Eko Cahyono, Marselius Rombe Baan, Marthin Brahmanto,
M Zainuri, Noinsen Rumapea, Syafrul Mardhy Pasaribu, Surya Lesmana, Yuliantino Situmorang, Unggul Wirawan,
Asisten Redaktur:
Agustinus Lesek, Heri S Soba, Irawati Diah Astuti, Jeis Montesori, Jeanny Aipassa, Kurniadi, Sumedi Tjahja
Purnama, Steven Setiabudi Musa, Willy Masaharu
Staf Redaksi:
Ari Supriyanti Rikin, Carlos KY Paath, Daurina L Sinurat, Dina Manafe, Elvira Anna Siahaan, Erwin C Sihombing, Fana FS Putra, Gardi Gazarin, Haikal Pasya, Hendro D Situmorang,
Hotman Siregar, Joanito De Saojoao, Lona Olavia, Miko Napitupulu, Natasia Christy Wahyuni, Novianti Setuningsih, Robertus Wardi, Ruht Semiono, Siprianus Edi Hardum, Yeremia Sukoyo, Yohannes Harry D Sirait, Dewi Gustiana (Tangerang),
Laurensius Dami (Serang), Stefy Thenu (Semarang), Muhammad Hamzah (Banda Aceh), Henry Sitinjak, Arnold H Sianturi (Medan), Bangun Paruhuman Lubis (Palembang), Radesman Saragih (Jambi), Usmin (Bengkulu), Margaretha Feybe Lumanauw
(Batam), I Nyoman Mardika (Denpasar), Sahat Oloan Saragih (Pontianak), Barthel B Usin (Palangkaraya), M. Kiblat Said (Makassar), Fanny Waworundeng (Manado), Adi Marsiela (Bandung), Fuska Sani Evani (Yogyakarta), Robert Isidorus Vanwi
(Papua), Vonny Litamahuputty (Ambon),
Pjs Kepala Sekretariat Redaksi:
Rully Satriadi,
Koordinator Tata Letak:
Robert Prihatin,
Koordinator Grafis:
Antonius Budi Nurcahyo.
GM Iklan:
Sri Rejeki Listyorini,
GM Sirkulasi:
Dahlan Hutabarat,
GM Marketing&Communications:
Enot Indarnoto,
Alamat Iklan:
BeritaSatu Plaza, lantai 9, Jl Jend Gatot Subroto Kav 35-36 Jakarta-12950,
Rekening:
Bank Mandiri
Cabang Jakarta Kota, Rek Giro: A/C.115.008600.2559, BCA Cabang Plaza Sentral Rek. Giro No. 441.30.40.755 (iklan), BCA Cabang Plaza Sentral Rek. Giro No. 441.30.40.747 (Sirkulasi),
Harga Langganan:
Rp 68.000/ bulan, Terbit 7 kali
seminggu. Luar Kota Per Pos minimum langganan 3 bulan bayar di muka ditambah ongkos kirim.
Alamat Sirkulasi:
Hotel Aryaduta Semanggi, Tower A First Floor, Jl Garnisun Dalam No. 8 Karet Semanggi, Jakarta 12930, Telp
:
29957555 - 29957500 ext 3206
Percetakan:
PT IMWP
e-mail:
Wartawan
Suara Pembaruan
dilengkapi dengan identitas diri.
Wartawan
Suara Pembaruan
tidak diperkenankan menerima pemberian dalam bentuk apa pun dalam hubungan pemberitaan.
1...,2,3,4,5,6,7,8,9,10 12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,...40