SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Mei 2013
Pencarian Arsip

Meski Gaji Ditunggak, Angkat Besi Tetap Berprestasi di Olimpiade
Jumat, 10 Agustus 2012 | 11:45

Lifter peraih medali Olimpiade, Eko Yuli Irawan [AP] Lifter peraih medali Olimpiade, Eko Yuli Irawan [AP]

[JAKARTA] Sukses meraih satu medali perak dan satu perunggu pada Olimpiade London 2012, cabang olahraga angkat besi dikatakan akan mendapat perhatian lebih dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora). Ini menjadi jaminan terkait dengan keluhan minimnya dukungan terhadap cabang olahraga tersebut.  

“Mulai sekarang, angkat besi menjadi salah satu prioritas untuk merebut medali pada ajang internasional. Untuk itu, dukungan penuh perlu diberikan. Kami harap pengurus PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga) bisa segera menjelaskan kebutuhan mereka ke Satuan Pelaksana Prima (Program Indonesia Emas) terkait dengan pembinaan hingga kepelatihan,” ujar Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kempora Djoko Pekik Irianto di Jakarta.  

Prestasi angkat besi pada Olimpiade dibayangi persoalan tunggakan pembayaran  gaji sembilan lifter yang berlaga pada ajang akbar tersebut. Gaji mereka sudah tertunggak sejak Mei lalu. Adapun besar gaji atlet Olimpiade yaitu Rp 4,7 juta setelah dipotong pajak. Selain itu, PB PABBSI juga tengah bermasalah dengan tunggakan sewa gedung latihan di Pintu Kuning Gelora Bung Karno sebesar Rp 80 juta.  

 “Gaji sudah dibayarkan hari ini. Manajer tim (Lukman) sudah mengambilnya. Kalau terlambat itu hanya terkait dengan birokrasi pencairan dana. Kalau untuk  penyewaan gedung latihan, kami akan membantu membayarkannya. PABBSI harus membicarakan hal ini dengan Prima. Kalau angka itu (Rp 80 juta) bisa kami bantu,” papar Djoko.  

Peraih medali perunggu Olimpiade London 2012 pada kelas 62 kilogram Eko Yuli Irawan mengatakan pemerintah sudah selayaknya memberikan dukungan penuh terhadap angkat besi, bukan hanya sekadar menuntut medali. Dukungan yang penuh dinilainya menjadi modal penting meraih prestasi.  

“Pemusatan latihan Olimpiade untuk angkat besi baru dilakukan enam bulan, fokus dua bulan terakhir ini. Kami latihan masih dengan peralatan bekas SEA Games 2011 lalu. Gaji kami tiga bulan terakhir juga terlambat. Tetapi, kami berusaha optimal meraih medali. Ini harus diperbaiki. Kalau gaji lancar, persiapan lebih lama, dan peralatan memadai, kami pasti bisa dapat medali emas,” kata Eko.  

Atas prestasi Eko, Kempora memberikan bonus sebesar Rp 200 juta. Peraih medali perak Olimpiade London 2012 pada kelas 69 kilogram Triyatno diberikan bonur Rp 400 juta. Angka tersebut lebih kecil dari yang dijanjikan pemerintah sebelumnya yaitu Rp 450 juta untuk peraih medali perak dan Rp 250 juta bagi perunggu. Pelatih sekaligus manajer tim, Lukman, mengantongi Rp 75 juta. [Y-8]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN