Meski Gaji Ditunggak, Angkat Besi Tetap Berprestasi di Olimpiade
Jumat, 10 Agustus 2012 | 11:45
Lifter peraih medali Olimpiade, Eko Yuli Irawan [AP] [JAKARTA] Sukses meraih satu medali perak dan satu
perunggu pada Olimpiade London
2012, cabang olahraga angkat besi dikatakan akan mendapat perhatian lebih dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora). Ini menjadi jaminan
terkait dengan keluhan minimnya dukungan
terhadap cabang olahraga tersebut.
“Mulai sekarang, angkat besi menjadi salah satu prioritas
untuk merebut medali pada ajang
internasional. Untuk itu, dukungan penuh
perlu diberikan. Kami harap pengurus PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat,
dan Binaraga) bisa segera menjelaskan
kebutuhan mereka ke Satuan Pelaksana Prima (Program Indonesia Emas) terkait dengan pembinaan hingga kepelatihan,”
ujar Deputi Bidang Peningkatan
Prestasi Kempora Djoko Pekik Irianto di
Jakarta.
Prestasi angkat besi pada Olimpiade dibayangi persoalan
tunggakan pembayaran gaji sembilan lifter yang berlaga pada ajang
akbar tersebut. Gaji mereka
sudah tertunggak sejak Mei lalu. Adapun besar gaji atlet Olimpiade yaitu Rp 4,7 juta setelah dipotong pajak.
Selain itu, PB PABBSI juga
tengah bermasalah dengan tunggakan sewa gedung
latihan di Pintu Kuning Gelora Bung Karno sebesar Rp 80
juta.
“Gaji sudah dibayarkan hari ini. Manajer tim (Lukman)
sudah mengambilnya. Kalau
terlambat itu hanya terkait dengan birokrasi pencairan dana. Kalau untuk
penyewaan gedung latihan, kami akan
membantu membayarkannya. PABBSI harus membicarakan hal ini dengan Prima. Kalau angka itu (Rp 80 juta)
bisa kami bantu,” papar Djoko.
Peraih medali perunggu Olimpiade London 2012 pada kelas 62
kilogram Eko Yuli Irawan
mengatakan pemerintah sudah selayaknya memberikan dukungan penuh terhadap angkat besi, bukan hanya sekadar
menuntut medali. Dukungan yang
penuh dinilainya menjadi modal penting meraih prestasi.
“Pemusatan latihan Olimpiade untuk angkat besi baru
dilakukan enam bulan, fokus dua
bulan terakhir ini. Kami latihan masih dengan peralatan bekas SEA Games 2011 lalu. Gaji kami tiga bulan
terakhir juga terlambat. Tetapi,
kami berusaha optimal meraih medali. Ini harus diperbaiki. Kalau gaji lancar, persiapan lebih lama, dan
peralatan
memadai, kami pasti bisa dapat medali emas,” kata Eko.
Atas prestasi Eko, Kempora memberikan bonus sebesar Rp 200
juta. Peraih medali perak
Olimpiade London 2012 pada kelas 69 kilogram Triyatno diberikan bonur Rp 400 juta. Angka tersebut lebih
kecil dari yang dijanjikan
pemerintah sebelumnya yaitu Rp 450 juta untuk peraih medali perak dan Rp 250 juta bagi perunggu. Pelatih sekaligus
manajer
tim, Lukman, mengantongi Rp 75 juta. [Y-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
