SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 25 April 2014
Pencarian Arsip

Warga Negeri Lima Malteng Diminta Waspada Bencana
Senin, 4 Februari 2013 | 7:32

Kelurahan Batu Gajah Kota Ambon, Selasa (30/10), terancam bencana, namun masih belum direlokasi karena terkendala dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat.[SP/Vonny Litamahuputty] Kelurahan Batu Gajah Kota Ambon, Selasa (30/10), terancam bencana, namun masih belum direlokasi karena terkendala dana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat.[SP/Vonny Litamahuputty]

[AMBON] Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu minta  warga Desa Negeri Lima, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), terus mewaspadai ancaman bencana bendungan Wai Ela yang mungkin saja terjadi. Permintaan itu disampaikan Gubernur usai menyaksikan simulasi bencana jebolnya bendungan Wai Ela, Sabtu (2/2). 
 
“Tujuan kegiatan simulasi lapang tanggap bencana bandang DAM Wai Ela agar masyarakat dibiasakan, selain para petugas dapat mengetahui fungsi dang tugasnya ketika terjadi bencana,” kata Gubernur.  Menurut Karel, simulasi ini agar masyarakat mengetahui ke mana mereka harus menyelamatkan dir. Petugas juga dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya ketika timbul bencana. Direktur Jenderal (Dirjen) Sumber Daya Air (SDA), Dr. Ir Muhammad Hasan di tempat yang sama mengatakan, ada sekitar 16 juta meter kubik air di DAM Wai Ela sehingga kalau dibuat waduk dengan 50 ribu meter per kubik paling tidak biaya yang dibutuhkan hingga mencapai miliar bahkan triliun rupiah, artinya DAM Wai Ela merupkan berkat yang besar dari Tuhan untuk Maluku.  “Jika dibuat permanen dan dimanfaatkan dengan baik maka butuh langkah-langkah yang save sehingga tidak akan trejadi jebol pada Natural DAM Wayela. Hati-hati trehadap overtopping, karena hampir semua bendungan itu jebol akibat overtopping.  Selain itu saya berharap bendungan Wai Ela dapat dipasang early warming,” kata Hasan. 
 
Sementara itu, PPK Proyek Stabilisasi Natural Dam Wae Ela Negeri Lima, Ir Leo Elwarin MSi mengatakan, butuh setidaknya Rp 40 miliar untuk mencegah jebolnya natural dam Wae Ela, Negeri Lima, Kabupaten (Mateng).   Biaya sebesar itu untuk mengkonstruksi tanggul pengaman yang dilengkapi saluran pembuangan air yang bekerja otomatis saat air meluap di waduk yang fenomenal tersebut. “Intinya pencegahan, ketika datang hujan secara otomatis, di elevasi 196, air akan mengalir dibuang ke hilir,” kata Leo ketika di konfirmasi di Ambon, Senin (4/2). 
 
Leo menuturkan, teknologi untuk Wae Ela yang disebut Spill Way, sudah dipresentasikan di Kementerian PU bersama hasil survei Litbang Air PU. “Dan diputuskan Wae Ela akan jadi waduk dan dikonservasi,” katanya. 
 
Terkait anggaran, sudah diusulkan. Anggaran sebesar itu telah optimal, sesuai modelling dan rencana desain yang telah dibuat.  
 
Di tempat terpisah Kepala Bidang Pengembangan Wilayah dan Hubungan Kerjasama Bappeda Provinsi Maluku Dr Djalaludin Salampessy mengingatkan, Pulau Ambon termasuk wilayah pertemuan tiga lempeng tektonik, Eurasia, Australia dan Pasifik. “Kondisi semacam itu membuat Ambon rawan oleh gempa. Karena itu harus dilakukan studi mendalam dari aspek geologi, sebelum membuat waduk permanen di Wae Ela,” kata Djalaludin di Ambon, Senin (4/2). 
 
Menurut Djalaludin, wilayah Jazirah Leihitu seperti halnya bagian lain Pulau Ambon didominasi oleh gunung dan bukit terjal. Karena itu wilayah-wilayah ini tidak direkomendasikan untuk aktifitas pembangunan di sana, selain menjadi daerah resapan air dan kebun tradisional masyarakat. 
 
Seperti diketahui, sungai Wae Ela sekitar Agustus 2012 lalu terbentuk setelah dua tebing dari bukit Ulak Hatu ambruk menutupi Sungai Wai Ela, karena gempa sekitar 6.1 skala richter, 51 Kilometer dari Masohi ibukota Kabupaten Malteng.[156]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN