Warga Halong Mardika Minta Aparat BKO 131 TNI-AD Dipulangkan
Rabu, 23 Mei 2012 | 9:43
Ilustrasi bentrokan di Ambon [google] [AMBON]
Warga Halong Mardika yang selama ini rumah-rumahnya sering dibakar
ketika terjadi bentrok meminta dari pemerintah daerah (pemda) Maluku,
Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dan
Panglima Kodam XVI Pattimura agar aparat Badan Kendali Operasi (BKO)
131 dipindahkan dari pengamanan di kawasan Mardika.
“Percuma saja mereka disitu buktinya ketika bentrok
mereka membiarkan kelompok masyarakat lain membakar rumah saya dan dua
rumah lainnya saat Hari Patimura lalu,” ujar Josi Berhitu (54) kepada SP
di lokasi pengungsian gedung DPRD kota Ambon,
Rabu (23/5).
Josi menceritakan kronologis dirinya ketika ingin
menyelamatkan diri ketika terjadi bentrok kemudian ditolak dan diusir
oleh aparat keamanan dari BKO 131 TNI-AD di pos jaga mereka.
Waktu itu sekitar pukul 05.00 pagi WIT saat telah
terjadi bentrok dia bersama istrinya keluar dengan pakaian yang ada di
badan mereka hendak mnenyelamatkan diri.
Dalam kondisi sakit Josi sempat
terjatuh dan dipapah oleh istrinya Upi Berhitu
(54). Karena sudah kepayahan mereka hendak berlindung di pos aparat.
Namun naas mereka malah diusir oleh aparat yang sedang berjaga disitu,
namun Josi tetap saja duduk di pinggir pos menanti bantuan.
Bersamaan
dengan itu datanglah seorang pemuda bernama Frangky
Hukom mengendarai sebuah motor mengangkat Josi duduk di belakang
motornya dan langsung pergi meninggalkan lokasi Mardika. Istrinya
sendiri kemudian lari juga menyelamatkan diri.
Senada dengan Josi wargga Mardika lainnya, ibu Rina
(63) mengaku sangat kecewa dengan aparat BKO 131 TNI-AD yang membiarkan
sekelompok orang masuk menjarah rumah-rumah warga Mardika dan hanya
menonton serta membiarkan. “Beta (saya) saksikan
langsung dan saya tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka dengan
menenteng senjata justru menjaga agar warga Mardika tidak boleh masuk ke
lokasi rumahnya, sementara mereka membiarkan kelompok warga menjarah.
Katong (kami) sudah capek karena ini sudah berulangkali
terjadi sejak kerusuhan tahun 1999, 2004, 2011 dan terakhir 2012,”
ujarnya.
Dia juga meminta pemkot Ambon untuk menertibkan
penduduk liar yang masuk di kota Ambon tanpa memiliki identitas. “Banyak
peduduk liar yang masuk dibiarkan saja oleh pemkot tanpa penertiban,”
katanya.
Ibu Rina juga mengaku pada tanggal 15 Mei
2012 siang hari, dia hendak masuk di rumahnya namun dilarang aparat.
Namun Ibu Rina ngotot karena sudah pengalaman, setiap terjadi konflik,
besoknya pasti ada saja jarahan dan pembakaran, padahal ada aparat
keamanan.
“Apapun yang terjadi beta seng (tidak) akan keluar
dari beta rumah kalau dilarang aparat, karena sama saja mereka tidak
akan mengamanan rumah warga Mardika, sebaliknya mereka membiarkan
kelompok warga membakar rumah dan menjarah. Ketika katong
duduk di teras rumah sekitar 20 Meter sementara kelompok warga lain
membongkar rumah warga Mardika lain, kami saksikan dengan mata kepala
kami sendiri sementara aparat menonton saja dan membiarkan. Ini apa
namanya seperti begini,” ujar Ibu Rina kesal.
Warga lainnya E.Nikijuluw (59) mengatakan setelah
terjadi insiden 15 Mei 2012 sudah seringkali terjadi bentrok Batu-Merah
Mardika di saat Hari Pattimura. Aparat keamanan mengharapkan aparat
netral siapapun dia tidak boleh memihak salah satu
kelompok masyarakat. Sehingga siapa yang salah tetap salah dan jangan
memihak.
“Harapan kami dengan demikian bisa antisipasi keamanan di
kawasan Batu Merah-Mardika. Ebagai warga waktu peristwa seperti itu,
seakan kita dilerai tapi membiarkan kelompok warga
lain menjarah dan membakar,” ujarnya.
Ini bukan baru terjadi sekarang saja, sudah terjadi
sejak kerusuhan 1999 lalu. Ini berulangkali terjadi seperti begitu.
“Kami bangun rumah, dibakar lagi, bangun rumah dibakar lagi, sementara
kami terus ada di pengungsian bertahun-tahun. Katong
lagi menunggu bantuan tahap ketiga untuk kembali membangun katong rumah
padahal mereka bakar lagi,” kata Nikijuluw.
Ketua RT 002/RW02 Mardika Kelurahan Rijali Keamatan
Sirimau kota Ambon Empi Tuhumena meminta pemprov Maluku maupun Pemkot
Ambon untuk kembali memperhatikan rumah-rumah warga yang kembali dibakar
warga lain. Pengungsi Mardika masih menunggu
tahap bantuan tahap ketiga pengungsi tapi kelompok warga lain sudah
membakar.
Sebagai penanggungjawab warga dirinya menyesali,
padahal dalam pembiaraan dengan pemkot Ambon warga Mardika diminta
kembali ke Mardika agar bisa mengsukseskan perhelatan nasional Musabqah
Tilawatil Quran (MTQ). “Warga saya yang 80 persen beragama
Islam dan hanya 20 persen Kristen, dari dulu kami hidup rukun dan kami
siap mensukseskan kegatan nasional,” ujarnya. [156]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
SBY Kagum Nonton Film Kolosal ”Sang Kyai”
Aiptu LS Sudah Lama Mau Mundur dari Polisi, Tapi Tak Disetujui Atasan
Longsor di Freeport, 21 Tewas, 7 Masih Dicari
AS Akui Pesawatnya Langgar Wilayah Indonesia
Dipecat, Ketua RT Gugat Lurah ke PTUN
Pimpinan Geng Cewek di Pasuruan Dilapokan ke Polisi
