SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Sabtu, 25 Mei 2013
Pencarian Arsip

Terkendala Bahasa Rusia, KNKT Buat Transkrip dari CVR Sukhoi
Senin, 28 Mei 2012 | 15:36

Kotak hitam (Black Box). [google] Kotak hitam (Black Box). [google]

[JAKARTA] Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi mengungkapkan bahwa pembuatan laporan mengenai kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 tidak bisa terburu-buru.

"Laporan final kasus Sukhoi wajarnya selesai 12 bulan sesuai dengan aturan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), tuntutan agar lebih cepat akan mengurangi kredibilitas kami," kata Tatang dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Senin.

Saat ini Tatang mengaku ia dan timnya sedang membuat transkrip hasil analisis perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR).

"Kesulitan dalam analisis adalah karena percakapan selama dua jam sebagian besar dilakukan dalam bahasa Rusia dan hanya sesekali menggunakan Bahasa Inggris dengan petugas Air Traffic Control," ungkap Tatang.

Untuk mengatasi kesulitan bahasa, KNKT mendapat bantuan dari Kementerian Luar Negeri seorang ahli bahasa Rusia berkebangsaan Indonesia yang didatangkan dari Kazakhstan karena sebelumnya hanya ada dua penerjemah yang keduanya orang Rusia.

Namun untuk rekomendasi awal, Tatang mengungkapkan bahwa akan segera diungkapkan kepada publik, kemungkinan besar pada hari ini.

"Rekomendasi segera akan ditayangkan di website kami, Rusia memberi dua masukan yaitu memberikan peringatan kepada Sukhoi bahwa prosedur 'joy flight' harusnya baik mengingat dokumen tidak ada yang tertinggal di darat dan memperketat pelatihan kru penerbangan," tambah Tatang.

Seorang penumpang yang mengikuti joy flight Sukhoi Superjet 100 sesi pertama yang berlangsung pada Rabu (9/5) pukul 11.15 WIB dan hadir dalam rapat tersebut, Bambang Nalaraya mengungkapkan bahwa pengalaman joy flight pertama berjalan mulus.

"Take off dilakukan mulus dan normal, pesawat juga dapat bermanuver dengan tajam dan naik dengan cepat, saya terkejut dengan hal itu," ungkap Bambang yang juga karyawan Sky Aviation itu.

Menurut Bambang, suara mesin pesawat sangat halus dan hampir tidak terdengar dan pendaratan pesawat pun dilakukan dengan normal dengan run way yang lebih pendek dari pesawat biasa.

Menurut data Menteri Perhubungan EE Mangingdaan dalam rapat tersebut joy flight kedua berlangsung mulai pukul 14.10 WIB dan pada pukul 14.21 WIB melakukan "take off".

Pada pukul 14.24 WIB pesawat yang dipiloti oleh Aleksandr Yablontsev itu melakukan kontak pertama dengan Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno Hatta pada radial 200 Halim Perdanakusuma.

Selanjutnya pada pukul 14.26 WIB pesawat minta izin turun 6.000 kaki dari ketinggian 10.000 kaki dan pada pukul 14.28 WIB pesawat minta memutar 360 derajat (orbit right) di atas training area Atang Sanjaya.

Mulai pukul 14.52 WIB ATC Bandara soekarno Hatta memanggil pesawat karena tidak terlihat dari monitor radar dan pukul 14.55 WIB ATC melaporkan kejadian hilang target pada Air Traffic Service (ATS) Coordinator Atang Sanjaya.

Pukul 15.35 WIB pesawat ditetapkan dalam kondisi 'uncertainty phase' yaitu keadaan tidak pasti dan pukul 16.05 WIB ATC menghubungi Badan SAR.

Pukul 16.55 WIB pesawat ditetapkan kondisi 'alertting phase' dan pukul 18.22 kondisi 'distress phase' mengingat bahan bakar pesawat diperkirakan sudah habis. [Ant/L-9]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN