Terkendala Bahasa Rusia, KNKT Buat Transkrip dari CVR Sukhoi
Senin, 28 Mei 2012 | 15:36
Kotak hitam (Black Box). [google] [JAKARTA]
Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi Tatang Kurniadi mengungkapkan
bahwa pembuatan laporan mengenai kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 tidak
bisa terburu-buru.
"Laporan final kasus Sukhoi wajarnya selesai 12 bulan sesuai dengan aturan
Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), tuntutan agar lebih cepat
akan mengurangi kredibilitas kami," kata Tatang dalam rapat dengar pendapat
dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Senin.
Saat ini Tatang mengaku ia dan timnya sedang membuat transkrip hasil analisis
perekam suara kokpit atau cockpit voice recorder (CVR).
"Kesulitan dalam analisis adalah karena percakapan selama dua jam sebagian
besar dilakukan dalam bahasa Rusia dan hanya sesekali menggunakan Bahasa
Inggris dengan petugas Air Traffic Control," ungkap Tatang.
Untuk mengatasi kesulitan bahasa, KNKT mendapat bantuan dari Kementerian Luar
Negeri seorang ahli bahasa Rusia berkebangsaan Indonesia yang didatangkan dari
Kazakhstan karena sebelumnya hanya ada dua penerjemah yang keduanya orang
Rusia.
Namun untuk rekomendasi awal, Tatang mengungkapkan bahwa akan segera
diungkapkan kepada publik, kemungkinan besar pada hari ini.
"Rekomendasi segera akan ditayangkan di website kami, Rusia memberi dua
masukan yaitu memberikan peringatan kepada Sukhoi bahwa prosedur 'joy flight'
harusnya baik mengingat dokumen tidak ada yang tertinggal di darat dan
memperketat pelatihan kru penerbangan," tambah Tatang.
Seorang penumpang yang mengikuti joy flight Sukhoi Superjet 100 sesi pertama
yang berlangsung pada Rabu (9/5) pukul 11.15 WIB dan hadir dalam rapat
tersebut, Bambang Nalaraya mengungkapkan bahwa pengalaman joy flight pertama
berjalan mulus.
"Take off dilakukan mulus dan normal, pesawat juga dapat bermanuver dengan
tajam dan naik dengan cepat, saya terkejut dengan hal itu," ungkap Bambang
yang juga karyawan Sky Aviation itu.
Menurut Bambang, suara mesin pesawat sangat halus dan hampir tidak terdengar
dan pendaratan pesawat pun dilakukan dengan normal dengan run way yang lebih
pendek dari pesawat biasa.
Menurut data Menteri Perhubungan EE Mangingdaan dalam rapat tersebut joy flight
kedua berlangsung mulai pukul 14.10 WIB dan pada pukul 14.21 WIB melakukan
"take off".
Pada pukul 14.24 WIB pesawat yang dipiloti oleh Aleksandr Yablontsev itu
melakukan kontak pertama dengan Air Traffic Control (ATC) Bandara Soekarno
Hatta pada radial 200 Halim Perdanakusuma.
Selanjutnya pada pukul 14.26 WIB pesawat minta izin turun 6.000 kaki dari
ketinggian 10.000 kaki dan pada pukul 14.28 WIB pesawat minta memutar 360
derajat (orbit right) di atas training area Atang Sanjaya.
Mulai pukul 14.52 WIB ATC Bandara soekarno Hatta memanggil pesawat karena tidak
terlihat dari monitor radar dan pukul 14.55 WIB ATC melaporkan kejadian hilang
target pada Air Traffic Service (ATS) Coordinator Atang Sanjaya.
Pukul 15.35 WIB pesawat ditetapkan dalam kondisi 'uncertainty phase' yaitu
keadaan tidak pasti dan pukul 16.05 WIB ATC menghubungi Badan SAR.
Pukul 16.55 WIB pesawat ditetapkan kondisi 'alertting phase' dan pukul 18.22
kondisi 'distress phase' mengingat bahan bakar pesawat diperkirakan sudah
habis. [Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Kapolda NTT: Tugas Polisi Pengamanan Bukan Hitung Suara!
Uskup Agung Semarang Keberatan Fotonya Digunakan Kampanye Pasangan Hadi-Don
Penghitungan Cepat, Paket Frenly Sementara Unggul
Kapolri Harus Beri Sanksi Keras Kapolda Papua
