SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 29 Juli 2014
Pencarian Arsip

Status Capaian MDGs Rendah
Sabtu, 14 Juli 2012 | 8:19

Ikrar Nusa Bhakti [google] Ikrar Nusa Bhakti [google]

[JAKARTA] Kemajuan pencapaian tujuan pembangunan milenium atau Millenium Development Goals (MDGs)Indonesia masih buruk. Sekalipun targetnya mulai diupayakan tercapai namun tetap saja status pencapaiannya masih rendah.

Padahal kesepakatan yang ditandatangani 147 kepala pemerintah dan negara saat konferensi tingkat tinggi millenium di New York tahun 2000 mengamanatkan 8 butir tujuan MDGs harus dicapai tahun 2015.

Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Ikrar Nusa Bhakti menilai akan banyak tantangan untuk mencapai penyempurnaan 8 tujuan tersebut di tahun 2015, yang hanya tersisa tiga tahun lagi.

"Program-program pemerintah akan terganggu di antara tahun 2013-2014 karena adanya pemilu. Dibutuhkan peran besar pemerintah daerah dan kementerian agar berupaya membuat pencapaian MDGs tidak bergantung birokrasi dalam hal ini presiden," katanya di sela Seminar Nasional Road Map Menuju MDGs 2015 di Indonesia sekaligus rapat kerja tahunan perguruan tinggi negeri wilayah barat bidang ilmu sosial di Universitas Terbuka, Tangerang Selatan, Jumat (13/7).

MDGs mengamanatkan delapan tujuan yakni pengentasan kemiskinan, pemerataan pendidikan dasar, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, pengurangan angka kematian anak, peningkatan kesehatan ibu hamil, melawan HIV/AIDS, malaria dan penyakit lain, menjamin keberlangsungan lingkungan hidup serta mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.

Ikrar menegaskan amanat MDGs soal kesehatan, pendidikan dan sarana prasarana tumbuh kembang anak pun jangan sekadar kebijakan palsu dan lip service saat kampanye. Daerah yang telah mengantongi otonomi daerah pun harus menyadari bahwa MDGs bukanlah kebijakan pemerintah pusat semata tetapi kebijakan negara Indonesia.

"Jadi jangan dilihat dari pendekatan sektoral dan birokratis saja. Harus ada kesadaran bangsa MDGs untuk kepentingan dan kemajuan bangsa," ucapnya.

Senada dengan itu, Rektor Universitas Terbuka Tian Belawati memandang komitmen Indonesia untuk menuju pencapaian milenium development goals (MDGs) dinilai berada di jalurnya, tetapi capaian targetnya masih jauh dari harapan.

Menurutnya tidak semua sasaran MDGs belum tercapai, ada beberapa capaian yang cukup menggembirakan. Seperti angka partisipasi pendidikan dasar yang mencapai 100 persen hingga ke daerah serta pendidikan tinggi menuju 30 persen dalam partisipasi kasar dilihat dari segi akses pun mulai tercapai.

"Pendidikan itu penting untuk meningkatkan kesejahteraan dan pengentasan kemiskinan. Harus diperhatikan juga, ketika pendidikan tinggi tercapai tapi kalau tidak ada lapangan pekerjaan maka hanya menciptakan pengangguran terdidik. Sektor lain pun harus bergerak paralel," ungkapnya.

Universitas Terbuka (UT) pun secara tidak langsung menjadi gender mainstreaming atau menghadirkan pengarusutamaan gender. Bagi Tian, perempuan harus diberdayakan. Akses perempuan untuk memperoleh pendidikan dan memilihnya harus dibuka seluas-luasnya oleh sistem pendidikan nasional dan juga keluarga.

Saat ini UT memiliki 585.000 mahasiswa 67 persen di antaranya perempuan dan 33 persennya laki-laki. Kendala menimba ilmu yang selama ini menghadang ibu rumah tangga kini tereduksi dengan hadirnya UT sejak tahun 1984. Sebab UT menerapkan pola pembelajaran mandiri tanpa perlu bertatap muka antara mahasiswa dan dosen. Sehingga ibu rumah tangga tepat bisa mengurus keluarga sambil berkuliah. [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»