Situasi Keamanan Tak Menentu, Puluhan Warga Sipil Tewas Ditembak di Wamena
Jumat, 8 Juni 2012 | 14:06
Pembakaran sebuah kampung di Wamena [istimewa] [JAYAPURA]
Ekskalasi kekerasan yang terus meningkat di Papua, dan semakin membuat situasi
keamanan di daerah itu sangat tak menentu. Masyarakat dihantui rasa ketakutan
karena berkeliarannya para penembak misterius, dan aktivitas sosial dan
pemerintahan pun terganggu.
Kekerasan di
Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua, dilaporkan resmi 11 orang tewas. Terdiri
dari 10 warga sipil tewas ditembak, satu anggota TNI tewas dikeroyok
massa. Namun, informasi yang diperoleh SP dari warga Wamena
menyebutkan, lebih dari 20 warga sipil tewas terkena tembakan aparat, termasuk
anak-anak bayi dibunuh. Puluhan honai (rumah tradisional) dan perumahan
masyarakat juga dibakar dan dirusak oknum-oknum tertentu.
“Seorang bayi
berusia enam bulan dibacok, dan bayi tersebut sempat bertahan sehari dirawat di
RSUD Wamena. Namun, akhirnya bayi itu meninggal pada Kamis (7/6) sore sudah
dikuburkan. Sebagian jenazah korban tembak juga disemayamkan di RSUD Wamena,”
kata Efelin, seorang warga Wamena, yang dihubungi SP, Jumat (8/6).
Efelin juga
menyebutkan, Kamis tengah malam terjadi lagi aksi baku tembak dalam Kota
Wamena. Listrik padam total sepanjang malam. “Seorang anak kecil diculik,” katanya.
Situasi di Wamena
juga belum normal. Toko-toko banyak yang tutup, juga sekolah dan kantor-kantor
pemerintah.
Kekerasan di Wamena terjadi sejak Rabu (6/7), dipicu oleh kasus
tabrakan yang melibatkan dua anggota TNI Batalyon 756 Wamena, Ahmad Sahlan dan
Parloi Pardede. Kedua aparat itu, mengendarai sepeda motor dan menabrak seorang
anak kecil di tengah jalan.
Masyarakat yang melihat hal itu, kemudian
mengeroyok kedua aparat menyebabkan Ahmad Sahlan tewas, dan Parloi mengalami
luka kritis.
Setelah kejadian
itu, aparat TNI menyisir semua tempat dalam kota hingga ke pinggiran Wamena,
dan menembak masyarakat secara membabibuta. Ratusan honai juga dibakar
dan perumahan masyarakat dalam Kota Wamena ditembak dan kaca-kacanya
dihancurkan pakai popor senjata.
Anggota DPR
Papua, Yulius Miagoni mengatakan, dirinya memperoleh informasi 11 orang yang
tewas dalam kekerasan di Wamena, terdiri dari 10 warga sipil dan satu TNI.
“Warga sipil yang tewas umumnya di daerah Sinagma, Wamena, sedangkan hanoi dan
perumahan yang rusak atau terbakar, kami belum dapat laporannya,” ujarnya
kepada wartawan di kantor DPR Papua, Kamis siang.
Namun, Wakapolda
Papua, Brigjend Paulus Waterpauw mengatakan, dalam kejadian di
Wamena, pihaknya baru menerima laporan korban meninggal hanya satu orang. “Dari
laporan yang saya terima satu orang meninggal, 7 rumah dan 30 honai dibakar,“
ujarnya.
Kapendam XVII
Cenderawasih, Kolonel Inf Ali Hamdan Bogra, saat dihubungi SP,
Jumat pagi mengatakan, pihaknya juga baru mendapat laporan hanya anggota TNI
yang meninggal dunia dalam kejadian itu. Sedangkan mengenai tewasnya 10 warga
sipil, Kapendam mengaku belum mendapat laporannya. “Saya belum ada laporan
soal itu,” ujarnya
Ia menegaskan,
anggota-anggota Batalyon Yonif 756 yang bertindak di luar prosedur akan tetap
diproses. “Kami tetap punya komitmen bila ada anggota yang bersalah akan
diproses hukum,” ujarnya.
Pada Kamis, pemerintah dan masyarakat di Wamena
dilaporkan telah membuat kesepakatan damai di Sasana Wiyoh, Wamena. Mereka
menyampaikan rasa keprihatinan dan penyesalan mendalam atas peritikaian antara
kelompok warga Hone dan aparat TNI Batalyon 756, yang telah mengakibatkan
jatuhnya banyak korban. [154]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Kapolda NTT: Tugas Polisi Pengamanan Bukan Hitung Suara!
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Uskup Agung Semarang Keberatan Fotonya Digunakan Kampanye Pasangan Hadi-Don
Penghitungan Cepat, Paket Frenly Sementara Unggul
Kawah Gunung Merapi Keluarkan Gas Beracun
