Segera Lantik Gatot Sebagai Gubernur Sumut
Senin, 11 Juni 2012 | 9:52
Gatot Pujo Nugroho [google] [MEDAN] Pembangunan di Sumatra Utara (Sumut) sulit
berkembang selama Gatot Pujo Nugroho masih ditetapkan sebagai pelaksana tugas
gubernur (Plt).
Soalnya, kewenangan pelaksana tugas tidak sama dengan
gubernur definitif. Gatot dipastikan tidak berani mengambil keputusan
pembangunan, apalagi bila menyangkut besaran dana dalam anggaran pembangunan.
"Tidak ada perkembangan maupun kemajuan di daerah ini
sejak Gubernur Sumut Syamsul Arifin menjalani hukuman atas kasus korupsi dana
anggaran pemerintah belanja daerah (APBD) saat menjabat sebagai Bupati Langkat.
Pembangunan yang masih berjalan sekarang ini, seperti pembangunan bandara di
Desa Kuala Namo maupun lainnya, hanya bersifat meneruskan program gubernur
sebelum Syamsul," kata pemerhati masalah pembangunan di Sumut, Dahlan
Simanjuntak kepada SP di Medan, Senin (11/6).
Simanjuntak mengatakan, pembangunan bandara di Kuala Namo
mulai berjalan saat jabatan gubernur oleh Rudolf M Pardede. Ini merupakan salah
satu program pembangunan nasional, yang banyak mengalami kendala, sehingga
proses pengerjaannya belum rampung.
Pembangunan ini memakan waktu yang lama,
karena pemerintah masih bersengketa dengan masyarakat atas proses ganti rugi
lahan tersebut.
Menurutnya, pembangunan daerah ini bisa berjalan bila
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Gamawan Fauzi segera melantik Gatot Pujo
Nugroho sebagai gubernur definitif.
Ini tidak akan menimbulkan permasalahan, karena Syamsul
Arifin divonis bersalah atas kasus korupsi. Peranan Gatot untuk mengambil
keputusan diperlukan untuk membangun daerah ini. Selama ini, kemampuan Gatot
belum teruji karena masalah jabatan.
"Tidak bisa dipungkiri, serangan dari elite politik
akan terjadi jika Gatot dijadikan gubernur definitif sampai pelaksanaan
pemilihan kepala daerah tahun depan. Tudingan nuansa politis karena berkaitan
dengan pemilihan kepala daerah di daerah ini. Namun, Mendagri mempunyai dasar
cukup kuat untuk melantik Gatot. Kepentingan pembangunan demi rakyat harus
diutamakan ketimbang politik," katanya.
Sementara itu, Sekretaris Lembaga Pemantau Kinerja
Pemerintahan Sumut, Andy Panggabean mengatakan, terkendalanya pembangunan di daerah ini membuat masyarakat di
berbagai daerah, khususnya yang tinggal di pelosok desa, semakin menjerit.
Ini merupakan salah satu faktor yang menjadi penyebab
masyarakat desa hidup tertinggal dan di bawah garis kemiskinan.
"Daerah ini membutuhkan seorang pemimpin yang benar -
benar berani dalam mengambil keputusan untuk melakukan terobosan pembangunan.
Sampai saat ini, belum ada pemimpin yang berani melakukan hal tersebut. Tidak
sedikit di antara kepala daerah, baik itu gubernur, bupati maupun wali kota di
daerah ini, takut untuk mengambil keputusan. Alhasil, perekonomian masyarakat
tidak berkembang," jelasnya. [155]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Antisipasi Mahasiswa Ngamuk, Kampus Nommensen Diliburkan Selama Sepekan
Anggaran Pelantikan Gubernur Jateng Rp 1 Miliar
Loh!…Ada Perwira Polda Maluku Larang Warga Beribadah
Trans7 Serahkan Barang Bukti yang Ditembakan Polisi ke Propam
Serikat Buruh Gugat Gubernur Atut ke PTUN
Nostalgia Batavia di JW Marriott Hotel Jakarta
Yuk Ikuti Lomba Foto Indonesia
Masyarakat Panik, Konsumsi BBM Meningkat
BBM Belum Diumumkan, Harga Kebutuhan Pokok Sudah Merangkak Naik
