RS Harapan Kita Layani 3.000 Pasien Jantung/Tahun
Sabtu, 2 Februari 2013 | 10:45
Ilustrasi operasi jantung [google] [JAKARTA] Penyakit tidak menular kini jadi ancaman bagi sebagian besar
negara di dunia, sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan untuk
mengendalikannya.
Salah satunya adalah penyakit jantung koroner yang menjadi
penyebab kematian nomor satu di Indonesia.
Di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, sebanyak 144.820
pasien dengan keluhan jantung dan penyakit pembuluh darah lainnnya yang datang
berkunjung pada tahun 2012.
Hampir 80% atau sekitar 112.368 adalah pasien umum
atau peserta Jamkesmas, Askes, Gakin dan jaminan kesehatan lainnya, sedangkan
33.366 adalah pasien privat atau yang membayar dari kantong sendiri.
Jumlah ini
cenderung meningkat setiap tahunnya, antara sekitar 5-15%.
Dari total pengunjung di RS ini, yang paling banyak kasusnya atau sekitar
3.000 lebih adalah jantung koroner.
Jumlah ini hampir ada setiap tahunnya.
Sebanyak 2.500 pasien jantung koroner tanpa tindakan bedah, dan sisanya dengan
bedah.
Hampir separuh dari pasien jantung koroner yang datang ke rumah sakit ini
sudah pada stadium lanjut dan harus dilakukan tindakan besar atau operasi.
Bahkan banyak juga yang dalam keadaan otot jantung rusak parah dan mengalami
gagal jantung, sehingga harus ditransplantasi.
Gaya Hidup
Direktur Medis dan Keperawatan RS Harapan Kita dr Tri Wisesa Soetisna,
mengatakan, tingginya kasus jantung koroner ini menggambarkan penyakit ini
mengancam masyarakat Indonesia.
Salah satu pemicunya adalah gaya hidup, seperti
makan makanan yang berlemak, garam dan gula yang berlebih, kurang aktivitas
fisik, alkohol dan merokok.
Juga faktor risiko jantung koroner yang tidak terkontrol.
Namun, masyarakat
kurang menyadarinya karena dampaknya tidak langsung, tidak seperti penyakit
menular atau infeksi.
“Gaya hidup seperti suka makan junk food, selalu di
atas mobil tidak biasakan jalan, selalu menggunakan lift dan tidak tangga,
terutama merokok. Kelihatannya ini sederhana tetapi mereka adalah faktor risiko
atau pemicu penyakit kardiovaskuler. Ada juga orang yang punya risiko jantung
tetapi tidak dikendalikan,” kata Tri Wisesa seusai menerima kunjungan delegasi
negara APEC perihal Health Care Associated Infections (HALs) di RS Harapan
Kita, di Jakarta, Jumat (1/2).
Kunjungan ini untuk meninjau langsung fasilitas kesehatan di RS Harapan
Kita, terutama terkait bagaimana standar dan upaya RS ini untuk mencegah
infeksi yang terjadi di RS, dan perlindungan pasien.
Tri Wisesa
menambahkan, lebih parah lagi usia pasien jantung koroner yang datang ke rumah
sakit ini semakin muda.
Dibanding pasien lima tahun lalu yang rata-rata usianya di atas 40 sampai
60 tahun, sekarang bergeser ke usia lebih muda yaitu 30 tahun.
Tetapi,
kemungkinan jumlah pasien yang berkunjung ke RS Harapan Kita akan menurun di
tahun-tahun mendatang.
"Sebab setelah diberlakukannya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) Kesehatan pada Januari 2014 nanti, sistem rujukan akan diperbaiki. RS
hanya menerima pasien yang kondisinya berat atau tidak tertangani, sedangkan
yang ringan ditangani di puskesmas,” ujarnya.
Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia RS Harapan Kita dr Iwan Dakota,
mengatakan, jantung koroner adalah penyakit yang paling tidak
tertangani di rumah sakit di daerah, dan yang paling banyak dirujuk
ke RS ini.
Tingkat kematiannya pun tinggi, karena bisa menyebabkan serangan
jantung. Sementara rumah sakit di daerah masih minim SDM dan peralatan untuk
penanganan.
Jantung koroner bisa terjadi bila pembuluh darah arteri koroner, yakni
pembuluh darah di jantung yang berfungsi menyuplai makanan bagi sel-sel
jantung, tersumbat atau menyempit karena endapan lemak, yang secara
bertahap menumpuk di dinding arteri.
Kurangnya pasokan darah karena penyempitan arteri koroner mengakibatkan
nyeri dada yang disebut angina, yang biasanya terjadi saat beraktivitas fisik
atau mengalami stress. Bila darah tidak mengalir sama sekali karena arteri
koroner tersumbat, penderita dapat mengalami serangan jantung yang mematikan.
Serangan jantung tersebut dapat terjadi kapan saja, bahkan ketika sedang
beristirahat.
Penyakit jantung koroner juga dapat menyebabkan daya pompa jantung melemah
sehingga darah tidak beredar sempurna ke seluruh tubuh (gagal jantung).
Penderita gagal jantung akan sulit bernafas karena paru-parunya dipenuhi
cairan, merasa sangat lelah, dan bengkak-bengkak di kaki dan persendian.
Iwan mengatakan, untuk penatalaksanaan penyakit jantung di daerah, RS
Harapan Kita sebagai pusat jantung nasional membekali para dokter di
daerah dan tenaga kesehatan lainnya dengan keahlian untuk tindakan serangan
jantung.
Mulai dari pengenalan gejala-gejala jantung koroner maupun serangan
jantung sampai kepada pemberian obat-obatan untuk menghancurkan pembekuan
darah. Bahkan, di beberapa RS di daerah dibekali keahlian untuk melakukan
tindakan serangan jantung tanpa obat-obatan, yakni membuka sumbatan jantung
koroner dengan teknologiPercutaneous Coronary Intervention
(PCI).
“Selain petugas kesehatan, masyarakat juga diberikan sosialisasi bagaimana
penanganan serangan jantung, terutama pemberian obat untuk satu jam pertama
terjadinya serangan, sebelum penderita dibawa ke rumah sakit. Pertolongan satu
jam pertama serangan jantung akan menyelamatkan nyawa penderita,” kata Iwan.
[D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Klewang Libatkan Keluarga Bentuk Kerajaan Geng Motor
Berdharma Wisata Ke Tanah Lot, Siswa SMP Lumajang Nyolong Motor
Pesawat Lion JT 0535 Rusak Lagi, Penumpang Kecewa
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
Menag: Kementerian Agama Sendiri Tidak Bisa Bubarkan Ahmadiyah
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
Dahlan: Gaji Outsourcing 10% Di Atas UMP
SBY Kagum Nonton Film Kolosal ”Sang Kyai”
Elpiji 3 Kg Rp 27.000/Tabung, Warga Mulai Beralih ke Kayu Api
