SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 29 Juli 2014
Pencarian Arsip

Pengrajin Tempe dan Tahu di Jatim Mogok
Senin, 9 September 2013 | 13:55

Tahu dan tempe [google] Tahu dan tempe [google]

 [MALANG] Kenaikan harga kedelai impor, sebagai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe, yang tak terkendali dari yang semula Rp 7.000 menjadi Rp 10.350/kg memicu aksi mogok para pengrajin tahu dan tempe di beberapa kota di Jawa Timur (Jatim). Aksi mogok produksi akan digelar mulai Senin hingga Rabu (9-11/9).  

Aksi mogok antara lain dilakukan oleh pera pengrajin anggota Primer Koperasi Produksi Tahu Tempe Indonesia (Primkopti) Bangkit Usaha Sanan di Kelurahan Purwantoro, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Langkah senada juga dilakukan ratusan pengrajin tempe di sentra pengrajin tahu tempe Sepande, di Kelurahan Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo.

Aksi itu didukung pula oleh ratusan pengrajin tempe Surabaya, yang tergabung dalam Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) Surabaya.   Mereka serentak menghentikan produksi, sebagai aksi protes kepada pemerintah, yang dinilai gagal mengendalikan harga tahu-tempe sebagai lauk mayoritas rakyat kecil Indonesia.  

Ketua Primkopti Bangkit Usaha Sanan, Chairul Anwar, yang ditemui Senin (9/9) pagi mengaku, tidak bisa mencegah aksi mogok bersar-besaran itu. “Solusinya, pemerintah harus secepatnya mengendalikan harga kedelai impor,” katanya.  

Minggu (8/9) malam katanya, sudah ada sekitar 62 pengrajin tempe dan 29 pengrajin tahu yang menyatakan istirahat produksi guna ikut mendesak pemerintah melakukan regulasi, sehingga harga kedelai kembali normal.

“Sekitar 15 ton produk tahu tempe dari UKM di Kota Malang dipastikan menghilang dari pasaran selama aksi protes ini berlangsung,” ujar Chairul Anwar.

Baik Khoiri, Mujiono, maupun Hj Mudrikah mengkhawatirkan, konsumen akan melupakan makahan kah Kota Malang, keripik tempe jika harga bahan baku kedelai untuk pembuatan tempe dan tahu serta bahan baku pendukung usaha keripik tempe lainnya, tidak segera dikendalikan.  

Pengrajin tahu dan tempe Sidoarjo juga sepakat menghentikan produksinya mulai hari ini. Menurut Ahmad Hidayat (45), pengrajin tempe yang sebelumnya memproduksi rata-rata 200-300 kg tempe, sejak beberapa waktu lalu sudah menurunkan volume produksinya hingga tinggal 50 kg. “Mulai hari ini nol, kami mendukung aksi mogok selama tiga hari,” katanya.  

Menurut Sukari, Ketua Primkopti Karya Mulya dari Kelurahan Sepande, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, yang banyak memasok kebutuhan tahe-tempe warga Surabaya, memastikan mayoritas dari 276 anggota ikut mogok produksi selama tiga hari.  

“Bahkan Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo) Surabaya sudah memastikan mogok produksi,” ujar Sukari.  

Kepala Pasar Tradisional Wonokromo, Surabaya, Irul yang dikonfirmasi tadi pagi juga mengakui, aksi massal pengrajin tempe tahu itu terbukti hari ini tidak ada seorang pun berjualan komoditas tersebut. “Yang kasihan penjual gorengan, mereka ya terpaksa ikut libur,” ujar Irul ikut prihatin.  

Ancam

Keresahan juga menghinggapi para produsen tahu tempe di Bengkulu. Mereka mengancam menghentikan produksi jika pemerintah tidak bisa menurunkan harga kedelai dari Rp 9.500 menjadi Rp 7.500/kg. “Kami tidak mampu lagi membeli harga bahan baku kedelai" kata Suratmo (44), salah seorang perajin tahu tempe di Kota Bengkulu, yang ditemui SP, di Bengkulu, Minggu (8/9).

Mereka mengatakan, sejak harga kedelai melambung menjadi Rp 9.500/kg, sebagian besar hasil keuntungan mereka tersedot untuk menambah modal membeli bahan baku. Hal ini terjadi karena mereka tidak menaikkan harga jual kepada konsemen.

Sungkono (49), perajin tahu tempe lainya di Kota Bengkulu mengaku modal yang dikeluarkan tidak seimbang lagi dari keuntungan yang didapat. “Hampir 70% penjualan tersedot untuk modal bahan baku kedelai. Kalau kondisi seperti terus berlanjut, lebih baik saya berhenti membuat tahu tempe, karena hasilnya tidak ada lagi," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Koperasi Harapan Baru, Kota Bengkulu, Mas Agus Yunus mengatakann, sampai sekarang sudah 50% dari 115 anggotanya telah berhenti memproduksi tahu tempe. Untuk itu, dia mengharapkan Pemprov Bengkulu dapat mengatasi kenaikan harga kedelai dengan mensubsidi harga bahan baku pembuatan tahu tempe, sehingga para perajin masih bisa berproduksi.

Sementara itu, Asisten II Pemprov Bengkulu, M Nashyah mengatakan, untuk mengendalikan harga kedelai di daerah ini, Bulog pusat akan mensuplai kedelai ke Bengkulu sebanyak 2.000 ton. "Kedelai itu diperkirakan tiba di Bengkulu Oktober mendatang," ujarnya. Kedelai yang akan dipasok Bulog berasal dari Amerika Serikat (AS). [ARS/143]      




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»