NTB Raih Rekor MURI Pelayanan KB di 180 Pesantren
Jumat, 29 Juni 2012 | 10:04
Ilustrasi program KB [google] [JAKARTA] Provinsi Nusa Tenggara
Barat (NTB) meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk pelayanan
program keluarga berencana terbanyak di 180 pondok pesantren.
Penyerahan rekor MURI diserahkan
oleh perwakilan MURI Pusat kepada Gubernur NTB yang diwakili Wakil
Gubernur, Ketua Forum Kerjasama Pondok Pesantren serta Kepala Perwakilan
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi NTB.
Kepala Perwakilan BKKBN NTB
Sukardi, mengatakan, rekor MURI pertama diberikan kepada Gubernur NTB Zainul
Madji sebagai pencetus gagasan pelayanan KB melalui pondok pesantren
terbanyak.
MURI kedua diberikan kepada
Ketua Forum Kerjasama Pondok Pesantren se-NTB sebagai penggerak massa dan MURI
ketiga kepada Kepala Perwakilan BKKBN sebagai koordinasi untuk pelayanan
akseptor di 180 pondok pesantren.
“Untuk melakukan pelayanan KB
kepada akseptor di 180.000 pondok pesantren, sebanyak 36.000 alat kontrapsepsi
didistribusikan dengan menggunakan APBN dan didukung APBD. Mereka dilayani
dokter dan bidan terlatih serta dibantu petugas KB keliling,” kata Sukardi pada
acara penyerahan MURI sekaligus karnaval budaya, dalam rangka peringatan
Hari Keluarga ke-19 tahun 2012 di Lombok,NTB,Kamis (28/6) malam.
Peringatan Hari Keluarga
tahun ini yang dipusatkan di Lombok,NTT, akan dihadiri Wakil Presiden Boediono,
sejumlah menteri , dan kepala daerah dari seluruh Indonesia.
Hari
Keluarga diperingati setiap tanggal 29 Juni, namun karena hari ini merupakan
hari Jumat, maka peringatannya tahun ini digelar besok, Sabtu (30/6).
Sukardi mengatakan, tidak mudah
untuk merangkul tokoh agama dan para santri di pondok pesantren sebanyak
ini, mengingat sebagian umum dari mereka masih memiliki pemahaman konvensional
tentang program KB.
Mereka menganggap program
KB ilegal dari sisi agama, karena memberikan akses untuk orang berperilaku seks
bebas serta membatasi kelahiran.
Kalaupun masih ada tokoh agama yang
keliru memahami program KB, kata dia, itu dikarenakan minimnya sosialisasi.
Namun dengan sosialisasi yang
gencar oleh Gubernur dan para kader KB, sebanyak 180 dari 629 pimpinan pondok
pesantren di bawah Forum Kerjasama Pondok Pesantren akhirnya tersosialisasi.
Sosialisasi yang dilakukan didasarkan pemahaman bahwa KB bertujuan untuk
mengatur keluarga yang sejahtera, bukan membatasi kelahiran. Dengan tujuan
mengatur berarti program KB tidak bertentangan agama.
Ia menambahkan, pembinaan
kepada santri dilakukan melalui pengajian oleh pimpinan pondok pesantren maupun
tokoh agama. Mereka cenderung memberikan penjelasan bahwa KB adalah program
perencanaan keluarga.
Pemahaman tentang program KB
terutama penting bagi para remaja, agar mereka bisa merencanakan kehidupan
rumah tangganya nanti, dengan cara menunda usia kawin, dan setelah kawin
mengatur jumlah anak disesuaikan dengan kondisi ekonomi, serta mengatur jarak
kelahiran.
Selain soal KB, para remaja juga diberikan pemahaman mengenai
kesehatan reproduksi, Narkoba dan HIV/AIDS.
“Dari sosialisasi yang gencar
kami lakukan dalam setahun ini, sejumlah pusat informasi dan konseling
reproduksi remaja serta klinik-klinik KB terbentuk dengan sendirinya di
beberapa pondok pesantren,” kata Sukardi lagi.
Sukardi menambahkan, NTB
menargetkan Medis Operaratif Pria (MOP) atau metode kontrasepsi pria sebanyak
580 akseptor setiap tahun dan telah mencapainya lebih dari 100%.
Keberhasilan ini cukup langka, mengingat sejumlah daerah masih sulit untuk
melaksanakan MOP.
Sementara untuk akseptor KB
secara keseluruhan baik pria maupun wanita, NTB menargetkan sebanyak
180.000 setiap tahun, dari pasangan usia subur (PUS) sebanyak 900.
000. Sementara jumlah unmed need (mereka yang membutuhkan KB namun tidak terlayani)
sebanyak 11% dari total PUS tersebut.
Di akui masih tingginya unmed
need juga disebabkan menyusutnya para petugas lapangan KB (PLKB). Sejak tahun
2004 PLKB menyusut hingga 50%, yakni dari 850 orang kini tersisa hanya 400.
Sementara itu, Kepala BKKBN
Sugiri Syarief kembali mengingatkan bahwa tanpa program KB, jumlah penduduk
Indonesia tidak terkendalikan.
Sensus Penduduk 2010 menunjukkan penduduk
Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa, dan sekarang diperkirakan sudah mencapai
240 jutaan.
Jika pertumbuhan penduduk tetap
1,49% per tahun (3,5 juta sampai 4 juta kelahiran baru) maka tahun 2045 jumlah
penduduk Indonesia akan mencapai 450 juta jiwa.
Dengan data dan kondisi
tersebut membawa dampak dan pengaruh terhadap seluruh aspek pembangunan
nasional. Disatu sisi jumlah anak yang banyak akan menurunkan kemampuan
investasi sumber daya manusia dalam keluarga.[D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pengembang Ngotot Membangun di Hutan Kota Bandung
Belum Ada Pengumuman Pemenang Pilgub, Dua Kandidat Diminta Jaga Kedamaian Bali
SBY Kagum Nonton Film Kolosal ”Sang Kyai”
Aiptu LS Sudah Lama Mau Mundur dari Polisi, Tapi Tak Disetujui Atasan
Longsor di Freeport, 21 Tewas, 7 Masih Dicari
AS Akui Pesawatnya Langgar Wilayah Indonesia
Pimpinan Geng Cewek di Pasuruan Dilapokan ke Polisi
Dipecat, Ketua RT Gugat Lurah ke PTUN
