MUI: Thoriqoh Tijaniyah Tidak Sesat
Rabu, 22 Agustus 2012 | 6:50
Logo MUI. [google] [SUKABUMI] Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Kabupaten Sukabumi menyatakan, Thoriqoh Tijaniyah tidak sesat, tetapi
yang sesat adalah ajaran Sumarna, yang mengaku sebagai pemimpin ajaran
Tijaniyah di Desa Bojong Tipar, Kecamatan Jampangtengah.
"Ajaran Sumarna yang sesat dan mengaku sebagai pemimpin Tijaniyah, padahal
setelah duduk bersama dengan para pemimpin Thoriqoh Tijaniyah, Sumarna ada
orang yang pernah berlajar ajaran Tijaniyah kepada yang salah, sehingga ajaran
yang diajarkannya sesat," kata Ketua MUI Kabupaten Sukabumi Zezen Zainal
Abidin dalam konferensi pers di Gedung Pendopo Kabupaten Sukabumi, Selasa
(21/8) malam.
Pada konferensi persnya yang sampai tengah malam, Zezen menambahkan, Sumarna
merupakan orang yang pernah diusir dari Bogor karena mengajarkan ajaran sesat,
seperti salat hanya empat waktu dan tidak ada shakatt Jumat.
Selain itu, Sumarna juga diduga telah melakukan pembunuhan berencana kepada
ustadz di Kampung Cisalopa, Desa Bojongtipar, Endin, karena korban telah
menentang keras ajaran yang disebarkan oleh Sumarna.
"Kepada para pengikut Sumarna, kami telah mensyahadatkan dan tidak kembali
lagi kepada ajaran sesat yang diajarkan Sumarna," tambahnya.
Kepada anggota Thoriqoh Tijaniyah, pihaknya mengimbau agar tidak terpancing isu
yang belum jelas kebenarannya.
Pihaknya telah menegaskan bahwa ajaran Thoriqoh Tijaniyah tidak sesat dan
diakui oleh Nahdatul Ulama (NU) dan negara.
"Kami juga berusaha agar kasus ini tidak panjang, karena sudah jelas siapa
yang sesat, ternyata Sumarna yang mengaku sebagai pemimpin Tijaniyah atau orang
Tijani. Dan kita juga berusaha agar para pengikut Sumarna bisa kembali diterima
masyarakat sekitar dan tidak lagi melaksanakan ajaran sesat yang diajarkan oleh
seorang Sumarna," kata Zezen.
Sementara itu, Mukodam Thoriqoh Tijaniyah Muhamad Yunus Abdul Hamid mengatakan,
Sumarna adalah orang yang sesat dan dahulunya pernah belajar kepada orang yang
salah untuk mendalami ajaran Thoriqoh Tijaniyah.
Sehingga, kata dia, dalam mengajarkan amalannya Sumarna salah dan sesat serta
bukan ajaran agama Islam.
"Sumarna pernah kami usir dari Bogor, karena mengajarkan ajaran yang sesat
tentang ajaran Thoriqoh Tijaniyah, sesungguhnya dan diduga melarikan diri ke
Jampangtengah sekitar lima tahun yang lalu. Kemudian mengajarkan ajaran
sesatnya di daerah tersebut," kata Yunus.
Ditambahkannya, di Indonesia hanya ada 12 orang yang diangkat menjadi mukodam
atau pemimpin ajaran Thoriqoh Tijaniyah dan Sumarna bukanlah salah satu dari
muqodam Thoriqoh Tijaniyah.
Maka dari itu, pihaknya dalam konferensi pers itu ingin meluruskan siapa
Sumarna tersebut.
"Kami juga akan terus berupaya mengembalikan nama baik Thoriqoh Tijaniyah,
setelah terjadinya kasus ini. Dan kepada anggota Thoriqoh Tijaniyah, kami imbau
tidak melakukan tindakan yang bisa menambah panjang konflik ini,"
tambahnya.
Di tempat yang sama, Bupati Sukabumi Sukmawijaya mengatakan, agar semua pihak
menahan diri biarkan muspida yang menyelesaikan kasus ini. Sebenarnya, warga
marah kepada ajaran sesat yang diajarkan oleh Sumarna, sehingga menyulut emosi
warga sekitar dengan cara membakar perkampungan yang didirikan oleh Sumarna.
"Kami juga berupaya mengembalikan kembali para pengikut Sumarna ke
masyarakat asalkan tidak lagi mengamalkan ajaran yang diajarkan oleh pemimpin
aliran sesat ini. Dan kami juga menegaskan, bahwa yang sesat di sini adalah
ajaran Sumarna bukan ajaran Thoriqoh Tijaniyah," kata Sukmawijaya.
Sebelumnya, Kapolres Sukabumi, AKBP Muhamad Firman mengatakan, pihaknya telah
menangkap dan menahan Sumarna atas kasus ajaran sesat dan ada dugaan menjadi
otak pembunuhan seorang ustad di daerah tersebut.
"Kami sudah menahan Sumarna yang merupakan pimpinan ajaran sesat, selain
itu telah mengumpulkan barang bukti di lokasi tempat Sumarna tinggal di
Jampangtengah," kata Firman.
Dikatakannya, untuk mengantisipasi terjadinya kembali aksi anarkis massa di
pemukiman milik Sumarna dan pengikutnya, puluhan anggota Brimob Jabar
diturunkan untuk menenangkan situasi. Selain itu, puluhan anggota TNI juga
diturunkan untuk ikut menjaga keamanan di daerah tersebut agar kasus pembakaran
dan anarkis tidak terjadi kembali.
Pada konferensi pers tersebut dihadiri oleh pimpinan pusat Thoriqoh Tijaniyah,
Dandim 0622 Firmansyah, Bupati Sukabumi, Sukmawijaya, Ketua MUI, Kementerian
Agama Kabupaten Sukabumi dan pimpinan organisasi islam. [Ant/L-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Pasti-Kerta Menang Tipis Pilgub Bali
Pilgub NTT: Esthon-Paul Unggul Sementara
Terlibat Politik Uang, Istri Gubernur NTT Terancam Pidana
Kapolda NTT: Tugas Polisi Pengamanan Bukan Hitung Suara!
Uskup Agung Semarang Keberatan Fotonya Digunakan Kampanye Pasangan Hadi-Don
Penghitungan Cepat, Paket Frenly Sementara Unggul
Kawah Gunung Merapi Keluarkan Gas Beracun
Penghitungan KPU NTT, Frenly Masih Memimpin
Dalam Sepekan Dua Kali Bibit Waluyo Dilaporkan ke KPK
Biaya Tinggi di Dalam Lapas, Alasan Napi Kendalikan Jaringan Narkotika
