SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip

Merasa Dirugikan, Mahasiswa Desak Kasus Usakti Dituntaskan
Senin, 28 Mei 2012 | 8:33

Universitas Trisakti. [google] Universitas Trisakti. [google]

[JAKARTA] Mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti) mendesak pemerintah untuk campur tangan dalam penyelesaian konflik yayasan dan rektorat kampus tersebut. 

Mereka merasa banyak dirugikan akibat konflik yang terjadi  sejak 2000 hingga 2012 itu.  

Presiden Mahasiswa Usakti Sandi Rahmat Mandela, mengatakan, kerugian yang dialami mahasiswa antara lain stagnansi perkembangan infrastruktur kampus dan fasilitas pendidikan.  

Contoh yang memperihatinkan, kata Mandela, adalah sarana laboratorium di Fakultas Teknik yang harus dipinjamkan dari IPB. 

Beberapa peralatan rusak sehingga ketika ada praktikum mahasiswa hanya diminta untuk menggunakan data yang entah  dari tahun berapa. Selain itu beberapa lift  telah rusak tetapi tidak ada perbaikan.  

Sementara, kata dia, pembiayaan yang dikeluarkan mahasiwa semakin meningkat sejak kasus ini bergulir. Misalnya di tahun 2008, biaya masuk untuk Jurusan Teknik Perminyakan ranking 3 hanya Rp 33 juta, namun  sekarang naik hingga Rp 46 juta.

Sedangkan biaya per Sistem Kredit Semester (SKS) tahun 2008 hanya Rp 190.000 kini menjadi Rp 250.000.  

“Konflik ini berdampak negatif terhadap mahasiswa, karena harus membayar mahal tetapi tidak sebanding dengan apa yang diperoleh, tidak semua hak kami untuk belajar dipenuhi,” kata Mandela dalam konferensi pers di Jakarta, Minggu (27/5).  

Dampak lainnya adalah berkurangnya peningkatan kualitas staf pengajar dan penurunan akreditasi untuk beberapa fakultas dalam 10 tahun terakhir.

Prodi-prodi yang mengalami penurunan akreditasi, di antaranya Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi jurusan Teknik Perminyakan, Teknik Pertambangan, dan Teknik Geologi, yang semula A menurun menjadi B.  

Sementara itu, Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik Informatika, yang tadinya akreditasi B menjadi C. Begitu pula Fakultas Kedokteran turun dari A menjadi  B.  

Dampak konflik Usakti juga membuat kepercayaan dan minat  publik untuk  kuliah di kampus reformasi tersebut menurun hingga 50%.

Jika sebelum konflik tahun 2000 jumlah mahasiswa mencapai 33.000 sekarang hanya tinggi 18.000.    Padahal jurusan-jurusan ini selalu menjadi favorit untuk mahasiswa baru.  

“Selain itu jumlah staf pengajar  juga mengalami stagnansi dan tidak sebanding lagi dengan jumlah mahasiswa. Jika sebelum konflik tersebut terjadi, 100 mahasiswa dipegang oleh 20 dosen, kini dengan jumlah dosen yang sama mengajar 300 mahasiswa,” katanya lagi.  

Ketua Kongres Mahasiswa Usakti Paulus Greogorius Sole, menambahkan, masyarakat mahasiswa Usakti tidak pernah mencampuri proses hukum, baik menolak ataupun mendukung keputusan hukum yang telah ditetapkan. Mereka juga tidak campur tangan dalam eksekusi Usakti yang rencananya akan dilakukan pada hari ini, Senin (28/5).  

“Kalaupun sekarang kami  menuntut intervensi pemerintah itu karena banyak kerugian yang harus kami tanggung, di antaranya juga proses belajar mengajar di kampus tidak lagi kondusif,” kata Paul.  

Untuk mengantisipasi  adanya intimidasi yang dialami mahasiswa pascaeksekusi,  Kongres dan Masyarakat Mahasiswa Usakti  membentuk komisi pelaporan bekerjasama dengan Komnas HAM. 

Komisi ini akan menindaklanjut setiap indikasi intimidasi terhadap mahasiswa, yang diakui sudah dialami mahasiswa sepanjang kasus ini terjadi.  

Untuk diketahui, kasus  sengketa kepemilikan antara Yayasan Trisakti  dan Senat Usakti tersebut dimenangkan oleh Yayasan Trisakti  dalam gugatannya hingga ke tingkat Mahkamah Agung. Rencana eksekusi telah gagal tiga kali, dan hari ini adalah ke-empat kalinya. [D-13]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN