Merasa Dirugikan, Mahasiswa Desak Kasus Usakti Dituntaskan
Senin, 28 Mei 2012 | 8:33
Universitas Trisakti. [google] [JAKARTA] Mahasiswa Universitas Trisakti (Usakti)
mendesak pemerintah untuk campur tangan dalam penyelesaian konflik yayasan dan
rektorat kampus tersebut.
Mereka merasa banyak dirugikan akibat konflik yang
terjadi sejak 2000 hingga 2012 itu.
Presiden Mahasiswa Usakti Sandi Rahmat Mandela,
mengatakan, kerugian yang dialami mahasiswa antara lain stagnansi perkembangan
infrastruktur kampus dan fasilitas pendidikan.
Contoh yang memperihatinkan, kata Mandela, adalah
sarana laboratorium di Fakultas Teknik yang harus dipinjamkan dari IPB.
Beberapa peralatan rusak sehingga ketika ada praktikum
mahasiswa hanya diminta untuk menggunakan data yang entah dari tahun
berapa. Selain itu beberapa lift telah rusak tetapi tidak ada perbaikan.
Sementara, kata dia, pembiayaan yang dikeluarkan
mahasiwa semakin meningkat sejak kasus ini bergulir. Misalnya di tahun 2008,
biaya masuk untuk Jurusan Teknik Perminyakan ranking 3 hanya Rp 33 juta,
namun sekarang naik hingga Rp 46 juta.
Sedangkan biaya per Sistem Kredit
Semester (SKS) tahun 2008 hanya Rp 190.000 kini menjadi Rp 250.000.
“Konflik ini berdampak negatif terhadap mahasiswa,
karena harus membayar mahal tetapi tidak sebanding dengan apa yang diperoleh, tidak
semua hak kami untuk belajar dipenuhi,” kata Mandela dalam konferensi pers di
Jakarta, Minggu (27/5).
Dampak lainnya adalah berkurangnya peningkatan
kualitas staf pengajar dan penurunan akreditasi untuk beberapa fakultas dalam
10 tahun terakhir.
Prodi-prodi yang mengalami penurunan akreditasi, di
antaranya Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi jurusan Teknik Perminyakan,
Teknik Pertambangan, dan Teknik Geologi, yang semula A menurun menjadi B.
Sementara itu, Fakultas Teknologi Industri Jurusan Teknik
Informatika, yang tadinya akreditasi B menjadi C. Begitu pula Fakultas
Kedokteran turun dari A menjadi B.
Dampak konflik Usakti juga membuat kepercayaan dan
minat publik untuk kuliah di kampus reformasi tersebut menurun
hingga 50%.
Jika sebelum konflik tahun 2000 jumlah mahasiswa mencapai 33.000
sekarang hanya tinggi 18.000. Padahal jurusan-jurusan ini selalu
menjadi favorit untuk mahasiswa baru.
“Selain itu jumlah staf pengajar juga mengalami
stagnansi dan tidak sebanding lagi dengan jumlah mahasiswa. Jika sebelum
konflik tersebut terjadi, 100 mahasiswa dipegang oleh 20 dosen, kini dengan
jumlah dosen yang sama mengajar 300 mahasiswa,” katanya lagi.
Ketua Kongres Mahasiswa Usakti Paulus Greogorius Sole,
menambahkan, masyarakat mahasiswa Usakti tidak pernah mencampuri proses hukum,
baik menolak ataupun mendukung keputusan hukum yang telah ditetapkan. Mereka
juga tidak campur tangan dalam eksekusi Usakti yang rencananya akan dilakukan
pada hari ini, Senin (28/5).
“Kalaupun sekarang kami menuntut intervensi
pemerintah itu karena banyak kerugian yang harus kami tanggung, di antaranya
juga proses belajar mengajar di kampus tidak lagi kondusif,” kata Paul.
Untuk mengantisipasi adanya intimidasi yang
dialami mahasiswa pascaeksekusi, Kongres dan Masyarakat Mahasiswa
Usakti membentuk komisi pelaporan bekerjasama dengan Komnas HAM.
Komisi ini akan menindaklanjut setiap indikasi intimidasi terhadap
mahasiswa, yang diakui sudah dialami mahasiswa sepanjang kasus ini terjadi.
Untuk diketahui, kasus sengketa kepemilikan
antara Yayasan Trisakti dan Senat Usakti tersebut dimenangkan oleh
Yayasan Trisakti dalam gugatannya hingga ke tingkat Mahkamah Agung.
Rencana eksekusi telah gagal tiga kali, dan hari ini adalah ke-empat kalinya. [D-13]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
