Menghidupkan Roh Sekolah Pahoa
Senin, 11 Juni 2012 | 11:07
Acara peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-111 Pahoa, di Summarecon, Serpong, Tangerang, Minggu (10/6). [Istimewa] Seperti buah kelapa, semakin tua semakin berminyak. Itulah ungkapan yang
pas untuk menggambarkan sekolah terpadu Pahoa.
Dalam usianya yang sudah
menginjak 111 tahun pada 2012 ini, Pahoa semakin memperlihatkan
eksistensinya sebagai sebuah lembaga pendidikan unggulan.
Tidak saja gedung megah yang berdiri kokoh di atas lahan seluas 3,4
hektare di Summarecon Serpong, Tangerang, Banten. Prestasi akademis pun mulai
terukir lagi setelah sekolah ini dibangun kembali oleh sejumlah
tokoh alumninya pada 2008 lalu.
Dalam ujian nasional 2012 ini Pahoa mencatat prestasi kelulusan 100%,
dengan semua nilai A, baik untuk jenjang SMP maupun SMA.
“Lulusan pertama ini benar-benar membanggakan kami. Pahoa tak ingin mengecewakan
orangtua yang sudah mempercayakan pendidikan anak-anaknya ke sekolah ini,”
kata Suryono Limputra, Ketua Pengurus Yayasan Pendidikan dan Pengajaran
(YPP) dan salah satu tokoh kunci pembangunan kembali Sekolah Pahoa Terpadu, di
sela-sela acara peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-111 Pahoa, di Summarecon,
Serpong, Tangerang, Minggu (10/6).
Sekitar 2.500 alumni Pahoa hadir dalam peringatan HUT tersebut, dan mereka
datang dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, seperti Amerika
Serikat, Jerman, Kanada, Taiwan, Australia, Hong Kong, Tiongkok, Singapura, dan
lain-lainnya.
Dalam rangkaian HUT ke-111 Pahoa tersebut, sebelumnya digelar
seminar pendidikan, peluncuran buku, dan peresmian pembangunan pendidikan taman
kanak berbasis eco-green.
“Adalah penting bagi anak-anak usia dini agar sejak awal mereka sudah harus
belajar bagaimana peduli dan ramah ingkungan. Biarlah mereka belajar bagaimana
mencintai lingkungan,” jelas Suryono.
Pendidikan Karakter
Sekolah Pahoa Terpadu yang berdiri megah di Gading Serpong siswa hampir 3.000 terdiri dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA. Menurut Suryono, Sekolah Pahoa Terpadu tersebut adalah “reinkarnasi” dari Sekolah Pahoa yang didirikan 1901 oleh pemuka etnis Tionghoa di Jakarta yang tergabung dalam perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).
Pada masa itu, Pahoa menjadi sekolah swasta pertama di zaman penjajahan Belanda, lalu menyusul Boedi Oetomo (1908), Muhammadiyah (1911), dan kemudian Taman Siswa (1922).
Maksud pendirian sekolah ini adalah memberikan kesempatan meraih pendidikan kepada kaum etnis Tionghoa yang ketika itu termarjinalkan oleh penjajah Belanda.
Di masanya, Sekolah Pahoa begitu terkenal karena mutu pendidikan yang dikembangkannya, dengan titik penekanan pada penguasaan tiga bahasa (trilingual), yakni Indonesia, Inggris, dan Mandarin, serta pendidikan budi pekerti.
Banyak alumni Pahoa kini menjadi pengusaha terkenal, pendidik, ekonom, penasihat hukum, dokter, dan bahkan di dunia kemiliteran.
Namun, tragedi G30S PKI pada 1965 berdampak pada penutupan Sekolah Pahoa. Sekolah Pahoa diambil alih oleh pemerintah menjadi SMA Negeri 19.
Meski bertahun-tahun berada dalam kondisi mati suri, hal itu tidak memadamkan spirit para alumninya yang senantiasa merindukan hadirnya kembali “roh” Pahoa.
Dengan diprakarsai tiga alumni yang kini sudah menjadi pengusaha nasional, yaitu Soetjipto Nagaria, Soeseno Boenarso, dan Suryono Limputra, lahirlah kembali pada 2008 sebuah Pahoa Baru.
“Sekolah ini ingin kembali menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti, pengembangan karakter, agar kelak lulusannya benar-benar berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Soetjipto Nagaria, ketua dewan pembina Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Pahoa.
Hal senada diungkapkan Ketua Umum Perkumpulan Pancaran Hidup Soeseno Boenarso. “Adalah suatu kebanggaan bahwa para alumni dapat menghidupkan kembali roh Pahoa yang hilang selama 42 tahun. Suatu kebanggaan pula bahwa alumni Pahoa ikut berkiprah dalam upaya mencerdasan bangsa,” ungkap Soeseno.
Selain spirit, visi dan materi pendidikan yang diajarkan, Sekolah Pahoa Terpadu juga mengambil seutuhnya apa yang diajarkan di Sekolah Pahoa pada masa lalu. Trilingual dan pendidikan budi pekerti yang bersumber pada ajaran Konfusius merupakan materi pokok yang diajarkan di sekolah ini.
“Masa depan bangsa kita sangat tergantung pada tersedianya mutu sumber daya manusia yang smart, berwatak, bermoral, dan punya intergritas tinggi,” kata Suryono Limputra, salah satu tokoh kunci di balik pembangunan kembali Pahoa Baru. [M-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
