SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 23 Mei 2013
Pencarian Arsip

Indonesia Semakin Mudah Terkoyak Perbedaan Agama dan Suku
Kamis, 24 Mei 2012 | 14:06

Megawati Soekarnoputri. [google] Megawati Soekarnoputri. [google]

[JAKARTA] Sosok negarawan harus bisa memahami empat pilar berbangsa dan bernegara yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Hal tersebut merupakan persyaratan ideologis yang harus dimiliki pemimpin.

Artinya, kepemimpinan bangsa dimulai melalui semangat ideologis. Jangan pernah meremehkan arti dan makna ideologi suatu bangsa.

"Sangat sulit memang membuat sosok negarawan itu terukur. Presiden Indonesia siapapun orangnya harus berdiri tegak tanpa pernah ragu dengan berdasarkan ideologi bangsa," kata Presiden Kelima Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato utama dalam seminar nasional dengan "Merindukan Negarawan" yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII), di Jakarta, Kamis (24/5).

Megawati mengemukakan, pemimpin bangsa harus bisa memberikan inspirasi dan mampu menggelorakan kembali kebanggaan sebagai bangsa melalui nation dan character building. "Kita seharusnya berdiri kokoh di atas keanekaragaman sebagai bangsa," ujarnya.

Menurutnya, bangsa ini kini semakin mudah terkoyak oleh perbedaan agama dan suku. Padahal kepribadian bangsa telah begitu lama mengenal falsafah bangsa dalam Bhineka Tunggal Ika. "Hal itu terjadi karena tiadanya kepemimpinan yang efektif dan lemahnya penegakkan hukum. Inilah yang saya khawatirkan, negara dikalahkan oleh aksi premanisme, oleh massa," tegasnya.

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan ini menuturkan, pembangunan negara diperlukan untuk mengurus rakyat, mewujudkan tujuan nasional oleh institusi negara. "Di sinilah kepemimpinan dan manajemen bangsa sangat diperlukan," imbuhnya.

Dikatakan, kepemimpinan dan manajemen dengan corak ideologi selanjutnya diterjemahkan dalam kerja, strategi, kebijakan, operasional dan teknis. Seperti halnya dalam peningkatan produksi pangan. "Peningkatan produksi pangan bukan hanya soal teknis, tapi soal ideologis, yaitu dengan memupuk rasa bangga, hormat dan berpihak terhadap petani," katanya.

Dia berpendapat, ideologi memerlukan pemimpin yang negarawan. Karena ideologi adalah tata pergaulan hidup yang membebaskan manusia dari berbagai belenggu penjajahan baik secara politik maupun ekonomi. "Pemimpin berjuang bukan untuk diri sendiri dan kelompoknya. Pemimpin sejati mempersembahkan hidupnya untuk negeri," tegasnya. [CKP/]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN