INA Geoportal Siap Dukung Ketahanan Pangan
Jumat, 27 Juli 2012 | 15:57
Ilustrasi laboratorium pangan dan gizi [google]
[JAKARTA] INA Geoportal produk geospasial berbasis teknologi yang dibuat
Badan Informasi Geospasial (BIG) sebuah badan yang sebelumnya bernama
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional harus digunakan sebagai
peta dasar untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Data geospasial berupa peta dasar ini sudah diolah sehingga dapat
digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan
keputusan dan atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang
kebumian.
Kepala Bidang Metadata BIG Antonius Bambang Wijanarko mengatakan
penggunaan Ina Geoportal sangat direkomendasikan karena data dasar yang
disajikan akurat dan mempertimbangkan geometri. Sehingga pembuat
kebijakan tidak menggunakan data yang kebenarannya diragukan.
"Peta dasar dalam INA Geoportal berisi peta jalan, hidrologi, nama-nama
geografis seperti gunung, selain itu juga ada batas wilayah, garis
pantai, kontur atau ketinggian dan tutupan lahan atau land cover. Untuk
pangan data spasial yang diacu adalah land cover," katanya di Jakarta
dalam media gathering Ina Geoportal: Gerbang Pentingnya Data dan
Informasi Geospasial, di Jakarta, Jumat (27/7).
Peta yang bisa diakses melalui situs atau portal tanahair.net ini
lanjutnya meski dalam fase pengembangan (prototipe) pengguna bisa
mengakses secara gratis peta dasar tersebut. Ditargetkan tahun 2013,
geoportal ini sudah siap diakses dengan sempurna. "Saat ini masih terus
disempurnakan dengan aplikasi yang dibutuhkan seperti e-commerse,
download dan upload," ucapnya.
Selain di bidang pangan, kehadiran INA Geoportal ini juga untuk
menghindari duplikasi data. Sebagai negara dengan didominasi kepulauan
diperlukan satu referensi nasional untuk mendukung penataan ruang,
pengelolaan sumber daya alam, perlindungan lingkungan, mitigasi bencana
dan bisa berkontribusi untuk pembangunan ekonomi.
Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi Muhammad Sadli menyatakan BPPT mendukung
hadirnya INA Geoportal. Apalagi BPPT sudah memiliki Nusantara Earth
Observation Network (Neo-net) yang merupakan integrasi information
communication technology (ICT), remote sensing dan spatial base.
Salah satu implementasinya melalui teknologi hyperspectral untuk
mendukung ketahanan pangan bisa diketahui jenis padi, umur tanaman,
terkena hama atau tidak. Pengembangan pemetaan tematik untuk ketahanan
pangan berbasis hyperspectral itu tingkat akurasinya tinggi. Tahun 2010
BPPT sudah mulai menerapkan teknologi itu. Di tahun 2012 BPPT
bekerjasama dengan litbang pertanian se Jawa untuk mendukung ketahanan
pangan dari sektor padi.
"Selain itu dibuat juga sistem informasi berbasis remote sensing untuk
melihat potensi ikan di suatu kawasan. Sudah dikerjasama dengan
Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kementerian itu kemudian menyebar
informasi tentang potensi ikan ke koperasi nelayan," ungkapnya.
Neo-net ini bisa diintegrasikan dengan INA Geoportal.
Sekjen Asosiasi Instansi Penanaman Modal Propinsi Syamsul Hadi mengaku
informasi INA Geoportal tentunya sangat menguntungkan bagi investor.
"Bagi investor, INA Geoportal informasi yang efisien tanpa perlu survei langsung ke lapangan," ucapnya. [R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
