SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 20 Mei 2013
Pencarian Arsip

INA Geoportal Siap Dukung Ketahanan Pangan
Jumat, 27 Juli 2012 | 15:57

Ilustrasi laboratorium pangan dan gizi [google] Ilustrasi laboratorium pangan dan gizi [google]


[JAKARTA] INA Geoportal produk geospasial berbasis teknologi yang dibuat Badan Informasi Geospasial (BIG) sebuah badan yang sebelumnya bernama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional harus digunakan sebagai peta dasar untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Data geospasial berupa peta dasar ini sudah diolah sehingga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perumusan kebijakan, pengambilan keputusan dan atau pelaksanaan kegiatan yang berhubungan dengan ruang kebumian.

Kepala Bidang Metadata BIG Antonius Bambang Wijanarko mengatakan penggunaan Ina Geoportal sangat direkomendasikan karena data dasar yang disajikan akurat dan mempertimbangkan geometri. Sehingga pembuat kebijakan tidak menggunakan data yang kebenarannya diragukan.

"Peta dasar dalam INA Geoportal berisi peta jalan, hidrologi, nama-nama geografis seperti gunung, selain itu juga ada batas wilayah, garis pantai, kontur atau ketinggian dan tutupan lahan atau land cover. Untuk pangan data spasial yang diacu adalah land cover," katanya di Jakarta dalam media gathering Ina Geoportal: Gerbang Pentingnya Data dan Informasi Geospasial, di Jakarta, Jumat (27/7).

Peta yang bisa diakses melalui situs atau portal tanahair.net ini lanjutnya meski dalam fase pengembangan (prototipe) pengguna bisa mengakses secara gratis peta dasar tersebut. Ditargetkan tahun 2013, geoportal ini sudah siap diakses dengan sempurna. "Saat ini masih terus disempurnakan dengan aplikasi yang dibutuhkan seperti e-commerse, download dan upload," ucapnya.

Selain di bidang pangan, kehadiran INA Geoportal ini juga untuk menghindari duplikasi data. Sebagai negara dengan didominasi kepulauan diperlukan satu referensi nasional untuk mendukung penataan ruang, pengelolaan sumber daya alam, perlindungan lingkungan, mitigasi bencana dan bisa berkontribusi untuk pembangunan ekonomi.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Muhammad Sadli menyatakan BPPT mendukung hadirnya INA Geoportal. Apalagi BPPT sudah memiliki Nusantara Earth Observation Network (Neo-net) yang merupakan integrasi information communication technology (ICT), remote sensing dan spatial base.

Salah satu implementasinya melalui teknologi hyperspectral untuk mendukung ketahanan pangan bisa diketahui jenis padi, umur tanaman, terkena hama atau tidak. Pengembangan pemetaan tematik untuk ketahanan pangan berbasis hyperspectral itu tingkat akurasinya tinggi. Tahun 2010 BPPT sudah mulai menerapkan teknologi itu. Di tahun 2012 BPPT bekerjasama dengan litbang pertanian se Jawa untuk mendukung ketahanan pangan dari sektor padi.

"Selain itu dibuat juga sistem informasi berbasis remote sensing untuk melihat potensi ikan di suatu kawasan. Sudah dikerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kementerian itu kemudian menyebar informasi tentang potensi ikan ke koperasi nelayan," ungkapnya.

Neo-net ini bisa diintegrasikan dengan INA Geoportal.

Sekjen Asosiasi Instansi Penanaman Modal Propinsi Syamsul Hadi mengaku informasi INA Geoportal tentunya sangat menguntungkan bagi investor.

"Bagi investor, INA Geoportal informasi yang efisien tanpa perlu survei langsung ke lapangan," ucapnya. [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN