Hary Tanoe: Sertifikasi Guru Harus Pertimbangkan Pengalaman
Rabu, 23 Mei 2012 | 17:58
Hary Tanoesoedibjo [google] [DENPASAR] Ketua Dewan Pakar Partai NasDem, Hary Tanoesoedibjo
berpendapat, pemberian sertifikasi guru harus
mempertimbangkan pengalaman mengajar para guru tersebut.
Saat berkunjung ke Bali dan menerima pengaduan para guru, Rabu (23/5),
Hary Tanoe mengatakan bahwa untuk mengatasi persoalan terkait program
sertifikasi guru itu diperlukan satu kebijakan pemerintah, yang
mempertimbangkan pula masa kerja dan pengalaman guru tersebut.
Menurut dia, bagi para guru yang sudah senior dan masa tugasnya hanya
tersisa 5-7 tahun lagi, maka kepada mereka sertifikasi harus diberikan dengan
mempertimbangkan pengalaman mengajarnya.
Kegagalan para guru senior itu untuk
mendapatkan sertifikasinya, kata Hary Tanoe, bisa membawa dampak psikologis
yang tidak baik bagi murid maupun guru itu sendiri.
Di sisi lain, Hary juga berharap pemerintah memberikan sosialisasi dan
pelatihan yang lebih jelas kepada para guru, sehingga mereka mengetahui bagaimana proses
sertifikasi itu, dan dapat menyiapkan
diri sebaik-baiknya untuk menghadapi ujian sertifikasi.
Dia juga menyatakan bahwa permasalahan semacam itu tidak hanya dialami
oleh guru-guru di Bali saja, tetapi tetapi juga di seluruh Indonesia, sehingga
pemerintah harus mencari solusi untuk menanggulanginya.
Sesaat sebelumnya, para guru yang beraudiensi dengan Hary Tanoe itu mengadukan persoalannya sertifikasi, yang
akan berdampak pada peningkatan penghasilan mereka.
Menurut mereka, para guru
yang tidak lulus sertifikasi pada umumnya adalah yang sudah berusia 50-an tahun
keatas, dan karena kegagalan itu banyak di antara mereka yang terganggu secara
psikologis.
Optimis
Ketika memberikan kuliah umum di
hadapan mahsiswa dan dosen di Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Rabu
(23/5) siang, Hary Tanoe menyatakan
optimismenya terhadap Partai NasDem untuk membawa perubahan terhadap bangsa dan
negara di masa mendatang.
Karena itu, ia mengajak mahasiswa
sebagai kelompok intelektual supaya jangan bersikap apatis terhadap kondisi
bangsa sekarang ini.
“Kami menyadari karena mahasiswa yang begitu besar
pengaruhnya dalam memperjuangkan nasib bangsa termasuk dalam memperjuangkan
reformasi, banyak yang kecewa. Namun, jangan kekecewaan tersebut membuat
mahasiswa patah semangat, justru lebih
bersemangat,” tegas Harry Tanoe.
Menurut Hary, sebagai kelompok elite
atau intelektual, mahasiswa umumnya punya idealisme tinggi dalam memperjuangkan
kehidupan bangsa dan negara. Hal itu bukan saja dibuktikan sekarang, melainklan
sejak zaman perjuangan, zaman Orde Lama, Orde Baru, dan reformasi sekarang ini.
“Memang harus diakui pasreformasi
1998 sampai sekarang, belum mampu
membawa bangsa kita ke hal yang lebih baik dari sebelumnya,” katanya.
Penegakan hukum di Indonesia,
misalnya, masih tampak abu-abu. Artinya, penegakaan hukum di Indonesia kurang
tegas, sehingga masih banyak terjadi ketimpangan.
“Harusnya hukum itu sama untuk semua
warga, apa warganya kaya atau miskin harus diberlakukan sama. Demikian juga
apakah mereka dari kalangan minoritas atau mayoritas,” katanya. [137]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Klewang Libatkan Keluarga Bentuk Kerajaan Geng Motor
Pesawat Lion JT 0535 Rusak Lagi, Penumpang Kecewa
Berdharma Wisata Ke Tanah Lot, Siswa SMP Lumajang Nyolong Motor
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
Dahlan: Gaji Outsourcing 10% Di Atas UMP
Menag: Kementerian Agama Sendiri Tidak Bisa Bubarkan Ahmadiyah
Elpiji 3 Kg Rp 27.000/Tabung, Warga Mulai Beralih ke Kayu Api
