SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 21 Mei 2013
Pencarian Arsip

Forum Ilmiah Perubahan Iklim Dibentuk
Kamis, 14 Juni 2012 | 15:34

Gedung Bank BNI di Jalan Jenderal Sudirman tertutup kabut, sesaat setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, Rabu (6/10). (Foto: SP/Alex Suban)

 

Gedung Bank BNI di Jalan Jenderal Sudirman tertutup kabut, sesaat setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, Rabu (6/10). (Foto: SP/Alex Suban)

[JAKARTA] Kajian sinergis untuk mengetahui paparan dan dampak perubahan iklim di Indonesia diperlukan. Menjawab hal itu, forum ilmiah perubahan iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Indonesia dibentuk.  

Pembentukan IPCC Indonesia tersebut ditandai penandatanganan naskah kesepahaman bersama (MoU) antara Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi serta Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, di Jakarta, Kamis (14/6).  

"IPCC Indonesia kita bentuk, IPCC internasional juga ada. Kita mencoba lihat dunia bicara apa. Kita lihat sendiri Indonesia, seperti apa," kata Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya, di sela pembukaan pekan lingkungan hidup, di Jakarta, Kamis (14/6).  

Kelompok peneliti yang memiliki keahlian di bidang iklim lanjutnya, akan membuat analisis, bagaimana perubahan iklim serta dampaknya.

Hasil penelitian tersebut akan menjadi referensi pembuatan kebijakan.   Indonesia termasuk salah satu negara yang akan mengalami kerugian besar atas terjadinya perubahan iklim seperti banjir, kekeringan dan gagal panen.

Indonesia juga negara kepulauan dengan panjang kawasan pesisir mencapai 80.000 kilometer. Diperkirakan sekitar 41,6 juta jiwa tinggal di kawasan pesisir pantai. Kenaikan air laut akibat pemanasan global berpotensi menciptakan kerugian bagi mereka.  

Deputi Bidang Penggendalian Kerusakan Lingkungan dan Perubahan  Iklim KLH Arief Yuwono mengatakan dengan adanya IPCC, Indonesia memiliki informasi yang lebih akurat tentang perubahan iklim (climate change) di Indonesia dan melihat dengan pasti kondisi lokasi-lokasi yang terkena dampak.  

"Misalnya saja wilayah Jakarta dengan Bogor berbeda keadaanya. Dalam hal cuaca pun berbeda-beda. Dengan IPCC Indonesia ada referensi lebih detail perkawasan," ucapnya.  

Saat ini, Indonesia memiliki dua tantangan besar yakni upaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan menjaga keberlanjutan pembangunan. Pembangunan seperti itu harus dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi tanpa merusak ekologi.  

Indonesia telah berkomitmen menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 26 persen pada tahun 2020. Penurunan tersebut dilakukan dari lima sektor yakni kehutanan dan gambut 22,78 persen, limbah 1,63 persen, pertanian 0,27 persen, industri 0,03 persen serta energi dan transportasi 1,29 persen.

Melihat kondisi geografis, Indonesia tergolong negara yang rentan terhadap perubahan iklim dan memberi kontribusi peningkatan emisi GRK. [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN