‘Flying Health Care’ Perlu Dikembangkan untuk Daerah Terpencil dan Perbatasan
Selasa, 21 Februari 2012 | 15:59
Endang Rahayu Sedyaningsih [google] [JAYAPURA] Pemerintah daerah diminta
untuk mengembangkan layanan kesehatan bergerak atau "Flying Health
Care" untuk menjangkau daerah terpencil dan daerah perbatasan.
"Kemarin di Pontianak sudah dikerjakan juga, sekarang di Papua, juga Papua
Barat dan NTT. Tiap daerah beda-beda konsepnya," kata Menteri Kesehatan
Endang Rahayu Sedyaningsih ketika melepas tim layanan kesehatan bergerak di
Puskesmas Sentani, Jayapura, Selasa (21/2).
"Flying health care" itu disebut Menkes adalah pelayanan kesehatan
bergerak, tidak hanya menggunakan pesawat terbang namun juga mobil atau kapal.
Satu tim akan terdiri atas dokter, perawat dan bidan serta tenaga medis lainnya
dan akan mengunjungi sebuah kampung terpencil selama tiga bulan dengan
memberikan dua pelayanan.
Pelayanan utama disebut Menkes adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi
masyarakat sedangkan tugas lainnya adalah memberikan pelatihan bagi tenaga
kader setempat.
"Kita minta agar jelas apa yang mau dilakukan disana, dan terutama kita
minta pelatihan kader, karena nanti kalau ditinggal orangnya sakit lagi, jadi
kan percuma," ujarnya.
Dengan melakukan pelatihan bagi kader, maka diharap agar sepeninggal tim
"flying health care" itu maka kader yang telah dilatih dapat terus
melakukan promosi kesehatan dan mensosialisasikan tindakan preventif.
"Kita juga akan meninggalkan bangunan jika nanti ada uangnya (untuk
membangun gedung) atau pelatihan bagi kader yang penting untuk promosi
kesehatan," ujar Menkes.
Sebanyak 13 kabupaten di Papua telah menyusun tim layanan kesehatan bergerak
yang dibiayai bersama oleh pemerintah pusat dan daerah.
Menkes mengharapkan tim serupa dapat dibentuk di daerah-lain bahkan jika
dipandang perlu dapat dibentuk hingga lebih dari dua tim dari satu kabupaten.
"Tergantung (pemda) berapa tim yang dibentuk. Disini ada 13 kabupaten,
jadi minimal ada 13 tim. Tapi kalau ada daerah yang mau dua tim juga
bisa," kata Menkes. [Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kapal Pengangkut Batubara Tenggelam di Perairan Merak
Subak Diakui Dunia, Masyarakat Bali Gembira
Larangan Beribadah Harus Dilaporkan ke Dewan PBB
BBM Langka di Lampung, Pertamina ‘Ngapain Aja?’
Duit Kencan Kurang Rp 20 Ribu, Pria Bunuh Wanita Penghibur
Rusuh di Jambi, 60 Rumah Karyawan Perusahaan Sawit Dibakar
Jika Tak Kuat Mental, Keluarga Disarankan Tidak Lihat Jasad Korban Sukhoi
Duel di Kafe, Satu Tewas Ditebas Pedang
