Ditolak di Kalteng, FPI Mau Ngadu ke Mabes Polri
Senin, 13 Februari 2012 | 11:21
Kombes Pol Boy Rafli Amar [google] [JAKARTA] Pihak Front Pembela Islam (FPI) sampai
Senin (13/2) pukul 10.30 WIB belum terlihat di Mabes Polri, terkait rencana
organisasi tersebut akan melaporkan melaporkan Gubernur Kalimantan Tengah,
Agustin Teras Narang dan Kapolda Damianus Zacky ke Mabes Polri.
Kepala Bidang Penerangan Umum Divisi Humas Mabes
Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar membenarkan adanya informasi pihak FPI akan
mendatangi Mabes Polri terkait pengaduan penolakan delegasi FPI di Kalimantan
Tengah.
“Sampai saat ini, saya belum terima informasi soal kehadiran FPI yang
akan mengadu ke Mabes Polri. Pada prinsipnya, kita semua harus menghormati
keberagaman untuk bangsa dan negara,” ujar Boy kepada SP, Senin (13/2).
Rencana pengaduan FPI itu dilatar-belakangi oleh
aksi unjuk rasa oleh ribuan masyarakat Suku Dayak di Bundaran Besar, yang
menyatakan secara tegas menolak keberadaan FPI berada di Palangka Raya,
Kalteng. Ormas tersebut, ditolak keras melebarkan sayapnya ke wilayah Provinsi
Kalteng.
Gerakan massa yang menolak FPI, bergerak sejak Jumat
(10/2) dengan pawai kendaraan keliling Kota Palangka Raya sambil sweeping spanduk yang bertuliskan FIP.
Aksi memuncak Sabtu (11/2).
Ribuan masa berdemo berkumpul di Bundaran Besar
yang berada persis di tengah kota.
Mereka sebagian besar memasang pakaian adat dan
atribut suku Dayak sambil berorasi dan berteriak menyuarakan kata-kata
penolakannya. Mendengar informasi bahwa akan ada sebagian utusan FPI datang
menggunakan pesawat terbang siap mendarat di Bandara Tjilik Riwut, menyebabkan
secara spontan salah seorang yang memegang pengeras suara memberi petunjuk agar
sebagian massa melakukan pengadangan .
Alhasil, massa bergerak menuju bandara, yang
jaraknya sekitar 7 km. Mereka menguasai beberapa line dan berhasil masuk ruang
bandara untuk melakukan pengadangan.
Dalam suasana hiruk-pikuk, terlihat Kapolda Kalteng
Brigjen Pol Drs Damianus Jackie. Dia hanya mengenakan baju kaos dan topi,
menyusup masuk menembus barisan pendemo, langsung menuju kelompok para tokoh
Dayak yang berkumpul di lokasi Bundaran Besar.
Beberapa tokoh Dayak, diantaranya Siun Jarias dan
Lukas Tingkes yang berada di tengah kerumunan, langsung memberikan hormat
melihat kehadiran sosok Kapolda yang mereka kenal.
Mereka berembuk mencari solusi menghentikan langkah
massa, terutama yang telah membuat penumpang pesawat sudah lebih dari setengah
jam tidak ada yang berani turun.
Kapolda dan tokoh Dayak menjamin penumpang
aman dan bisa turun, dengan catatan kalau ada utusan dari FPI yang ikut dalam
rombongan penumpang, yang berhasil lolos, tidak dijamin keamanannya.
Empat orang anggota FPI yang ikut dalam pesawat itu,
terpaksa tidak turun pesawat dan kembali diterbangkan ke Jakarta.
Rencana para
utusan FPI dari Jakarta itu, ingin menghadiri pelantikan pengurus organisasi
mereka yang diagendakan hari Minggu (12/2).
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD), Sabran Achmad di
tempat terpisah mengatakan, penolakan FPI itu bukan karena sistem agama, karena
di DAD tidak ada membedakan agama yang satu dengan lainnya.
“Kami dalam
organisasi DAD ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik maupun Hindu
Kaharingan. Tapi, DAD bergabung dengan organisasi lain serta tokoh dari berbagai
suku yang ada di Kalteng menilai FPI identik dengan kekerasan dan anarkis,
sepertri yang kerap diketahui dari hasil pemberitaan media massa cetak maupun
elektronik,” katanya.
Dikatakan, khusus untuk organiosasi DAD, yang
menolak bukan saja dari Palangka Raya, tetapi juga datang berkumpul dari 14
kabupaten/kota se-Kalteng.
“DAD juga sudah bertemu dengan perwakilan dari suku
dan peguyuban yang ada di Kalteng sepakat menolak kehadiran FPI,” katanya.
Presiden Dayak, yang juga Gubernur Kalteng, Teras
Narang mengatakan, dia tidak pernah mengundang kehadiran massa yang berdemo.
Seperti ada beredar melalui SMS yang mengatasnamakan dirinya mengundang
mengadakan demo menolak kehadiran PFI, yang akan mengokohkan kelembagaan
kepengurus di Palangka Raya.
Demo
itu secara spontan bergerak dari akar rumput, termasuk dari warga Dayak.
“Secara organisasi tidak mungkin menyumbat arus aspirasi dari bawah,” katanya.
[106]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Kapal Pengangkut Batubara Tenggelam di Perairan Merak
Subak Diakui Dunia, Masyarakat Bali Gembira
Larangan Beribadah Harus Dilaporkan ke Dewan PBB
BBM Langka di Lampung, Pertamina ‘Ngapain Aja?’
Duit Kencan Kurang Rp 20 Ribu, Pria Bunuh Wanita Penghibur
Rusuh di Jambi, 60 Rumah Karyawan Perusahaan Sawit Dibakar
Jika Tak Kuat Mental, Keluarga Disarankan Tidak Lihat Jasad Korban Sukhoi
Duel di Kafe, Satu Tewas Ditebas Pedang
