SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Biaya Kanker di Jamkesmas Meningkat, Ani Minta Kunyit Putih Diriset Lebih
Rabu, 22 Februari 2012 | 14:12

Kunyit putih [google] Kunyit putih [google]

[JAKARTA] Keanekaragaman hayati Indonesia yang tinggi, seperti Kunyit Putih diharapkan bisa menjadi alternatif obat bagi penyakit kanker. Manjurnya khasiat kunyit putih inipun diminta Ibu Negara Ani Yudhoyono untuk diriset lebih lagi oleh para peneliti.

”Akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak orang menyebut-nyebut bahwa kunyit putih di Indonesia dapat untuk menyembuhkan kanker. Nah, ini perlu diadakan riset. Untuk itu, saya mengimbau kepada seluruh peneliti dan pabrik obat untuk meneliti benarkah kunyit putih bisa menyembuhkan kanker,” ungkapnya Pada peringatan Hari Kanker Sedunia “Bersama Kita Atasi Kanker” di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/2).

Dalam peringatan yang dihadiri oleh Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, dan Ketua Yayasan Kanker Indonesia Nila Moeloek, Ibu Negara menyerukan, kanker bukan hanya menjadi ancaman di Indonesia, tapi juga nyata bagi penduduk dunia. Di mana, jumlah pengidap kanker dari tahun ke tahunnya mengalami peningkatan.

Endang Rahayu menyebutkan, pada tahun 2011 terjadi lonjakan bermakna dalam pembiayaan kanker program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) sebesar 8% menjadi Rp 154,4 miliar dari tahun sebelumnya Rp 143 miliar untuk rawat inap. Di mana, pada tahun lalu, 30 persen pembiayaan didominasi oleh kanker payudara dan 24 persen kanker serviks. “Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan prevalensi tumor atau kanker adalah 4,3 per 1.000 penduduk, artinya dari setiap 1.000 orang Indonesia sekitar 4 orang di antaranya menderita kanker,” jelasnya.

Di mana, prevalensi tumor atau kanker tertinggi dilaporkan di Provinsi DIY yaitu 9,6 per 1.000 penduduk, terendah di Provinsi Maluku yaitu 1,5 per 1.000 penduduk. Prevalensi tumor atau kanker juga umumnya lebih tinggi terjadi pada perempuan sebesar 5,7 per 1.000 penduduk dibandingkan dengan laki-laki 2,9 per 1.000 penduduk.

Ibu Negara menambahkan, setiap 12 juta orang di dunia terserang kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal atau dengan kata lain 13 persen kematian dunia disebabkan oleh kanker. Dan, bila tidak dilakukan pengendalian maka pada 2030 diperkirakan bahwa 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta diantaranya meninggal terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Melihat proyeksi itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sambung Ani,  memandang perlu untuk dilakukan kerjasama yang konstruktif antara pemerintah dan para pakar untuk bersama-sama menemukan cara yang tepat untuk mengatasi kanker di masa depan. Dalam mengatasi dan mencegah kanker, Pemerintah mengaku tidak bisa berjalan sendiri untuk menekan angka kematian dan kesakitan akibat kanker.

Penyakit kanker, dijelaskannya, menjadi momok yang menakutkan di setiap negara mengingat penyakit ini tak hanya menyangkut kesehatan, melainkan menimbulkan dampak sosial dan ekonomi masyarakat karena tingginya biaya pengobatan. Sehingga tak heran PT Askes tahun 2010 menyebutkan pengobatan kanker menempati urutan ke-4 dalam penyerapan biaya.

Komponen Herbal
Lebih lanjut, Ani mengharapkan agar herbal di Indonesia dapat menjadi alternatif sebagai pelengkap dan juga komponen terapi bagi penderita kanker, terutama untuk menjaga kualitas hidupnya. Ani mencontohkan, kebiasaan warga Tiongkok mengkonsumsi obat-obatan herbal perlu ditiru. “Para penderita kanker di Tiongkok yang menjalankan kemoterapi, radiasi atau bedah mendapatkan komponen herbal. Sehingga kualitas hidup mereka menjadi baik. Rambut tidak rontok, nafsu makan meningkat,” ucapnya.
 
Selain budaya, pola hidup sehat, juga sangat diperlukan untuk mengatasi kanker, masyarakat Indonesia, menurut Ani sebenarnya memiliki peluang untuk sembuh lebih tinggi dibandingkan bangsa lainnya mengingat Indonesia dikenal sebagai negara mega biodiversity karena memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa. ”Oleh karena itu, bisa dibangun kerja sama yang tepat antara kita dan negara lain untuk meneliti kemungkinan obat untuk mengatasi kanker. Jutaan jenis tumbuhan dan hewan di Indonesia, siapa tahu suatu saat nanti dari sini lahir obat penyembuh kanker yang cespleng,” imbuhnya.

Di sisi lain, Ani mengaku sistem penatalaksanaan penyakit kanker di Indonesia masih belum optimal. Ketersediaan tenga medis yang profesional belum cukup dan belum tersebar secara merata. Sementara fasilitas yang memadai dan terjangkau tidak mudah untuk diwujudkan. ”Ini yang harus dijawab oleh Kemenkes dan perguruan tinggi, bagaimana mencetak tenaga medis yang handal untuk mengatasi penyakit kanker,” kata Ibu Negara. [O-2]
 

 




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN