Basarnas Tetap Lanjutkan Pencarian FDR Pesawat Sukhoi
Senin, 28 Mei 2012 | 14:41
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Daryatmo [tribunnews] [JAKARTA] Kepala Badan SAR Nasional
(Basarnas) Daryatmo menegaskan bahwa pihaknya tetap meneruskan pencarian flight
data recorder (FDR) pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak,
Kabupaten Bogor pada Rabu, 9 Mei 2012.
"Pencarian FDR dengan dalam tim besar dan gabungan dengan tim Rusia sudah
dihentikan pada 21 Mei. Tapi hingga saat ini kami tetap mencari bagian dari
'black box tersebut yang dilakukan oleh tim kecil," kata Daryatmo dalam
rapat dengar pendapat dengan Komisi V DPR di Jakarta, Senin.
Sedangkan bagian lain kotak hitam pesawat Sukhoi Superjet 100 yaitu perekam
suara kokpit cockpit voice recorder (CVR) telah ditemukan pada Selasa (15/5).
"Radius pencarian FDR diperluas dari lokasi kami menemukan ekor pesawat,
perangkat tersebut kecil yaitu hanya sekitar 4,5 kilogram dan mungkin
tersembunyi di semak-semak jadi kondisinya sulit tapi kami belum
menyerah," jelas Marsekal Madya TNI Daryatmo.
Sesuai prosedur Dalam kesempatan tersebut, Direktur PT Angkasa Pura II Tri
Sunoko juga menegaskan bahwa air traffic control (ATC) Bandar Udara Soekarno-
Hatta, Banten sudah melakukan tindakan sesuai prosedur yang ada saat
berkomunikasi dengan pilot pesawat Sukhoi.
"ATC sudah melakukan sesuai prosedur yang ada termasuk saat pesawat dari
ketinggian 10 ribu kaki meminta izin untuk turun menjadi 6.000 kaki dan
melakukan manuver di atas training center Atang Sanjaya Bogor," kata Tri
Sunoko.
Izin tersebut diberikan karena kawasan udara di atas Atang Sanjaya dianggap
aman.
"Namun saat pesawat tidak masuk ke radar dan kami mencoba untuk melakukan
kontak berulang kali dan tidak mendapat respon hingga akhirnya pesawat
dipastikan tidak mendarat di Halim, maka ATC on duty melapor ke ATC regional di
Atang Sanjaya," ungkap Tri.
Pasca pelaporan itu maka pesawat ditetapkan dalam fase darurat dan sampai akhir
kemampuan pesawat terbang tidak ada informasi tentang keberadaan pesawat maka
ATC melaporkan ke Basarnas.
"Kondisi peralatan ATC kami juga masih handal karena kami melakukan
perawatan setiap dua minggu, kami juga memiliki dua 'back-up system' yaitu
Jakarta Automated Air Traffic Service dan emergency-JATS," tambah Tri.
Akibat dari jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 saat melakukan penerbangan
demo untuk promosi (joy flight) adalah tewasnya 45 orang penumpang dan awak
pesawat, terdiri atas 31 pria dan 14 wanita, 35 orang WNI dan 10 orang WNA.
[Ant/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Tolak Kenaikkan BBM, Polisi Tahan Rektor Universitas HKBP Nommensen
Wartawan Jambi Aksi Damai Protes Aparat Keamanan
Mendagri: Gubernur Sumut Layak Raih MURI
DPR Dukung Kenaikkan BBM, Dua Pos Polisi dan Restoran KFC Dibakar Massa
Antisipasi Mahasiswa Ngamuk, Kampus Nommensen Diliburkan Selama Sepekan
Anggaran Pelantikan Gubernur Jateng Rp 1 Miliar
Sidang Kasus Cebongan Digelar 20 Juni
Wow..Anggaran Interior Rumah Dinas Gubernur Banten Rp 5,9 Miliar
