SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 20 Mei 2013
Pencarian Arsip

90 Persen Bahan Baku Obat Indonesia Diimpor
Kamis, 19 Juli 2012 | 10:12

Ilustrasi obat farmasi [google] Ilustrasi obat farmasi [google]

[JAKARTA] Ketergantungan industri farmasi nasional sebagai tulang punggung bidang kesehatan terhadap bahan baku impor hingga saat ini masih mengkhawatirkan. Hampir 90 persen bahan baku obat diimpor dari negara lain seperti Tiongkok dan India.

Padahal Indonesia sesungguhnya berpotensi mengembangkan bahan baku obat antibiotik sekaligus memproduksi amoksisilin sebagai salah satu jenisnya. Secara teknologi pun sudah siap, hanya saja kepastian pasar dan regulasi masih belum menunjukan dorongan ke arah itu.

Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti mengaku optimis Indonesia mampu memproduksi bahan baku bahkan obat antiobiotik di dalam negeri.

Sejak tahun 1990an lanjutnya Indonesia sesungguhnya sudah memulai, tetapi karena tidak ada yang mengawal jadi seolah mati suri.

"Saat ini BPPT dari sisi teknologi sudah sangat siap. Hanya saja butuh komitmen dari seluruh stakeholder. Jangan hanya mempertimbangkan sisi keekonomiannya tetapi nationnya (rasa kebangsaan) juga harus diperhatikan ketika kita mampu membuat bahan baku obat," katanya di sela focus group discussion Tindak Lanjut Upaya Mendorong Kemandirian Bahan Baku Obat Antibiotika Amoksisilin, di Jakarta, Rabu (18/7).

Untuk menuju kemandirian bahan baku obat antibiotik, BPPT melakukan pengkajian dan penerapan teknologi obat generik dan herbal. Rekomendasi teknologi yang dibuat yakni proses produksi penisilin G menjadi 6-APA serta amoksisilin untuk mendukung kemandirian obat generik beta laktam.

Direktur Teknologi Farmasi Medika BPPT Bambang Marwoto mengungkapkan bahan baku yang digunakan dalam pengembangan pilot skill teknologi bahan baku obat antibiotika tersebut 80 persennya adalah kandungan lokal.

Saat ini intermediate atau salah satu unsur bahan baku obat antiobiotika masih diimpor. "Kita ingin mendorong intermediate dibuat sendiri dengan cara fermentasi seperti membuat kecap, sumbernya bisa berasal dari karbon, gula hidrolisis, pati-patian dan kacang-kacangan," paparnya.

Bahan baku tersebut menghasilkan elemen 6-APA yang jika digabung dengan danesalt (golongan betalaktam) akan menghasilkan amoksisilin. BPPT melakukan riset pembuatan 6-APA dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Institut Teknologi Bandung membuat danesaltnya.

Dalam pilot skill atau skala riset, kapasitas pembuatan obat mencapai 1 ton per tahun. Padahal diperkirakan kebutuhannya mencapai 800-1.000 ton per tahun.

Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasiaan Kementerian Kesehatan Bahdar J Hamid mengatakan dari 25 kelas terapi antiobiotika, amoksisilin yang paling banyak dipakai.

Ia menegaskan meski banyak anggapan bahwa amoksisilin membuat tubuh resisten, menurutnya sepanjang pengobatan rasional dilakukan, resistensi masih bisa dicegah.

"Memang penggunaan antibiotik berlebihan harus dikurangi. Tetapi untuk beberapa tahun lagi amoksisilin masih menjadi primadona," ucapnya. [R-15]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN