90 Persen Bahan Baku Obat Indonesia Diimpor
Kamis, 19 Juli 2012 | 10:12
Ilustrasi obat farmasi [google] [JAKARTA]
Ketergantungan industri farmasi nasional sebagai tulang punggung bidang
kesehatan terhadap bahan baku impor hingga saat ini masih mengkhawatirkan.
Hampir 90 persen bahan baku obat diimpor dari negara lain seperti Tiongkok dan
India.
Padahal Indonesia sesungguhnya berpotensi mengembangkan bahan baku obat
antibiotik sekaligus memproduksi amoksisilin sebagai salah satu jenisnya.
Secara teknologi pun sudah siap, hanya saja kepastian pasar dan regulasi masih
belum menunjukan dorongan ke arah itu.
Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi
Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti mengaku optimis Indonesia
mampu memproduksi bahan baku bahkan obat antiobiotik di dalam negeri.
Sejak tahun 1990an lanjutnya Indonesia sesungguhnya sudah memulai, tetapi
karena tidak ada yang mengawal jadi seolah mati suri.
"Saat ini BPPT dari sisi teknologi sudah sangat siap. Hanya saja butuh
komitmen dari seluruh stakeholder. Jangan hanya mempertimbangkan sisi
keekonomiannya tetapi nationnya (rasa kebangsaan) juga harus diperhatikan
ketika kita mampu membuat bahan baku obat," katanya di sela focus group
discussion Tindak Lanjut Upaya Mendorong Kemandirian Bahan Baku Obat Antibiotika
Amoksisilin, di Jakarta, Rabu (18/7).
Untuk menuju kemandirian bahan baku obat antibiotik, BPPT melakukan pengkajian
dan penerapan teknologi obat generik dan herbal. Rekomendasi teknologi yang
dibuat yakni proses produksi penisilin G menjadi 6-APA serta amoksisilin untuk
mendukung kemandirian obat generik beta laktam.
Direktur Teknologi Farmasi Medika BPPT Bambang Marwoto mengungkapkan bahan baku
yang digunakan dalam pengembangan pilot skill teknologi bahan baku obat
antibiotika tersebut 80 persennya adalah kandungan lokal.
Saat ini intermediate atau salah satu unsur bahan baku obat antiobiotika masih
diimpor. "Kita ingin mendorong intermediate dibuat sendiri dengan cara
fermentasi seperti membuat kecap, sumbernya bisa berasal dari karbon, gula
hidrolisis, pati-patian dan kacang-kacangan," paparnya.
Bahan baku tersebut menghasilkan elemen 6-APA yang jika digabung dengan
danesalt (golongan betalaktam) akan menghasilkan amoksisilin. BPPT melakukan
riset pembuatan 6-APA dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama Institut
Teknologi Bandung membuat danesaltnya.
Dalam pilot skill atau skala riset, kapasitas pembuatan obat mencapai 1 ton per
tahun. Padahal diperkirakan kebutuhannya mencapai 800-1.000 ton per tahun.
Direktur Bina Produksi dan Distribusi Kefarmasiaan Kementerian Kesehatan Bahdar
J Hamid mengatakan dari 25 kelas terapi antiobiotika, amoksisilin yang paling
banyak dipakai.
Ia menegaskan meski banyak anggapan bahwa amoksisilin membuat tubuh resisten,
menurutnya sepanjang pengobatan rasional dilakukan, resistensi masih bisa
dicegah.
"Memang penggunaan antibiotik berlebihan harus dikurangi. Tetapi untuk
beberapa tahun lagi amoksisilin masih menjadi primadona," ucapnya.
[R-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
Berdharma Wisata Ke Tanah Lot, Siswa SMP Lumajang Nyolong Motor
Klewang Libatkan Keluarga Bentuk Kerajaan Geng Motor
Pesawat Lion JT 0535 Rusak Lagi, Penumpang Kecewa
Orang Miskin Dipersulit Masuk PTN di Jawa
Dahlan: Gaji Outsourcing 10% Di Atas UMP
Elpiji 3 Kg Rp 27.000/Tabung, Warga Mulai Beralih ke Kayu Api
Menag: Kementerian Agama Sendiri Tidak Bisa Bubarkan Ahmadiyah
