SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 24 April 2014
Pencarian Arsip

2.000 Bendera Merah Putih Dikibarkan di Ujung Batas Negara
Rabu, 14 Agustus 2013 | 11:46

Bendera Merah Putih berkibar [google] Bendera Merah Putih berkibar [google]

[PONTIANAK] Nasionalisme masyarakat di perbatasan akan ditunjukkan dengan mengibarkan bendera Merah Putih setidaknya 2.000 heai. Bendera akan berkibar tanggal 17 Agustus 2013 mendatang di desa paling ujung perbatasan Indonesia-Malaysia, yaitu di Desa Suluh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

“Lokasi ini dipilih karena beberapa waktu lalu, di daerah ini pernah dikibarkan bendera Malaysia,” kata H Thalib, salah seorang tokoh masyarakat perbatasan, yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Perbatasan Indonesia (AP3I), kepada SP di Pontianak belum lama ini,

Ia mengatakan, pihaknya sudah mempersiapkan 2.000 helai Bendera Merah Putih. “Semua bendera itu, akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat di Desa Suluh Tembawang. Selanjutnya akan dikibarkan dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI,” katanya.

Kegiatan ini juga dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme masyarakat perbatasan. Sebab selama ini, ada dugaan dan persepsi yang kurang baik terhadap masyarakat perbatasan.

Diharapkan, dengan perayaan HUT RI, yang dipusatkan di Desa Suluh Tembawang ini, rasa nasionalisme masyarakat perbatasan akan semakin kokoh dan NKRI tetap utuh. “Jadi, nasionalisme masyarakat perbatasan tidak diragukan lagi,” katanya.

Infrastruktur
Namun, segenap masyarakat meminta kepada pemerintah pusat agar dapat memberikan perhatian khusus kepada daerah perbatasan, dengan membagun sarana imfrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. “Salah satunya adalah jalan menuju daerah atau Desa Suluh Tembawang, yang hingga saat ini belum tersedia dengan baik. Desa ini memiliki jarak sekitar 49 km dari ibu kota Kecamatan Entikong,” katanya.

Untuk menempuh daerah ini, harus menggunakan jalur sungai, dengan menggunakan speed boat selama 9 jam. Sementara jalan darat belum tersedia. “Kami berharap, pemerintah, baik kabupaten, provinsi, maupun pusat agar memperhatikan kondisi daerah perbatasan. Artinya, sarana infrastruktur seperti jalan, jembatan, air minum, kesehatan listrik, harus dibangun memadai. Dengan demikian, masyarakat akan memiliki nasionalisme yang tingg, sesuai dengan yang diharapkan,” tandasnya.

Dikatakan, jika pembangunan tidak ada, masyarakat akan memiliki kesan yang negatip terhadap Pemerintah RI. “Hal itu akan berdampak negatip bagi masyarakat perbatasan,” katanya.

H Thalib berharap, jalan paralel perbatasan, yang sudah pernah dijanjikan kepada masyarakat, dapat segera direalisasikan pembangunannya. “Hal itu sangat penting membuka pedesaan di sepanjang perbatasan agar tidak terisolasi lagi,” katanya.

Selain itu, desa atau daerah perbatasan banyak yang lebih mudah aksesnya ke daerah Malaysia. Sehingga masarakat lebih cenderung bepergian atau berhubungan dengan Malaysia. “Hal inilah yang harus diangtisipasi, dengan membangun sarana dan prasarana infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat. Pengibaran bendera di desa Suluh Tembawang ini, merupakan satu kegiatan dalam rangka meningkatkan rasa nasionalisme masyarakat perbatasan,” katanya.  
Memprihatinkan
Menurut pengamatan SP, kondisi perbatasan Kalbar dengan Sarawak Malaysia di wilayah Kalbar, masih memprihatinkan. Sebab, masih ada daerah di perbatasan yang masih sulit dijangkau atau ditempuh, baik lewat darat maupun sungai. Mantan Kapolda Kalbar, Irjen Pol (Purn) Erwin TPL Tobing kepada SP saat mengadakan ramah tamah dengan masyarakat Batak di Pontianak, Selasa (30/7) lalu mengatakan, saat bertugas menjadi Kapolda Kalbar beberapa tahun yang lalu, pihaknya sudah berkunjung ke seluruh wilayah Kabar.

“Secara khusus, saya sudah melihat secara dekat wilayah perbatasan Kalbar dengan Sarawak Malaysia. Selama melaksanakan tugas itu, saya banyak melihat kondisi perbatasan yang cukup prihatin. Karena sarana dan prasarana di perbatasan sangat minim,” katanya.

Diakui, masih banyak daerah yang masih terisolasi dan sulit dijangkau karena belum ada infrastruktur jalan. Secara khusus infrastruktur jalan di sepanjang perbatasan belum tersedia seperti yang diharapkan. “Kondisi ini, perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan seluruh masyarakat. Hendaknya wilayah perbatasan dapat segera dibangun sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua Forum Masyarakat Perbatasan, Krisantus Heru.  “Ada daerah di perbatasan yang sangat jauh dan untuk dijangkau. Untuk menuju ke sana, tak cukup hanya menggunakan transportasi darat, tetapi harus ditambah juga dengan berjalan kaki. Kondisi itu mengakibatkan masyarakat perbatasan lebih cenderung berhubungan dengan Malaysia,” tandasnya.

Apalagi katanya, akses ke wilayah Malaysia lebih dekat dan lebih mudah untuk dicapai. Sementara untuk mencapai ke daerah ibukota terdekat di wilayah Kalbar sangat jauh dan sulit karena ketiadaan sarana jalan. [146]      




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN