SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Minggu, 19 Mei 2013
Pencarian Arsip

Penutupan Terminal Bayangan Sebab Kerusuhan
Jumat, 27 Juli 2012 | 13:38

Kerusuhan di Tol Jatibening, Bekasi Barat, disebabkan penutupan terminal bayangan yang dilakukan oleh pihak pengelola tol yakni  PT Jasa Marga. [google] Kerusuhan di Tol Jatibening, Bekasi Barat, disebabkan penutupan terminal bayangan yang dilakukan oleh pihak pengelola tol yakni PT Jasa Marga. [google]

[JAKARTA]  Pihak Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mengatakan, kerusuhan di Tol Jatibening, Bekasi Barat, disebabkan penutupan terminal bayangan yang dilakukan oleh pihak pengelola tol, PT Jasa Marga.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Rikwanto di Jakarta, Jumat (27/7), menjelaskan kronologis berawal ketika petugas Jasa Marga menutup akses masyarakat yang biasa masuk ke terminal bayangan.

"Awalnya pada pukul 02.00 WIB tadi pagi, Jasa Marga menutup akses masyarakat yang biasa masuk terminal bayangan," kata Rikwanto.

Rikwanto menuturkan, pihak Jasa Marga memasang pagar besi pada bagian kiri dan kanan di terminal bayangan arah Jakarta maupun Cikampek.

Selanjutnya, masyarakat mulai berdatangan ke terminal bayangan pada pukul 05.00 - 05.30 WIB, namun kondisinya sudah terpasang pagar besi.

"Karena ditutup dan makin lama makin banyak mulai muncul reaksi, sampai akhirnya spontan membakar mobil pick-up milik Jasa Marga," ujar Rikwanto.

Bahkan, masyarakat membakar ban dan menutup tol dengan cara duduk, serta tiduran di badan jalan tol.

Rikwanto menyatakan, Wakil Kepala Polda Metro Jaya, Brigadir Jenderal Polisi Suhardi Alius dan Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Agung Budi Maryoto memimpin langsung mediasi dengan masyarakat.

Akhirnya disepakati, pagar besi yang menutup terminal bayangan dibuka kembali, agar tidak terjadi kemacetan dan situasi keamanan dapat dikendalikan.  "Ini solusi dipakai untuk jangka pendek, supaya mencairkan kondisi pada saat itu," ujar Rikwanto.

Rikwanto mengungkapkan, pihaknya berencana mengadakan pertemuan dengan instansi terkait, seperti Jasa Marga, kepolisian, bupati, dan tokoh masyarakat.

Rikwanto menyatakan, Jasa Marga tidak berkoordinasi dengan kepolisian saat memasang pagar besi hingga terjadi kerusuhan.  "Kemudian kita isolasi supaya tidak berkembang dan mencari jalan keluarnya setelah terjadi kerusuhan," tutur Rikwanto. [Ant/L-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN