SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Jumat, 19 September 2014
Pencarian Arsip

Empat Balita di Tanjung Duren Gizi Buruk
Sabtu, 16 April 2011 | 11:44

Ilustrasi balita gizi buruk. [Antara] Ilustrasi balita gizi buruk. [Antara]

[JAKARTA] Empat orang batita (bawah tiga tahun), warga Jalan Kali Sekretaris I, RT 15, RW 07, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogolpetamburan, Jakarta Barat menderita gizi buruk. Keempatnya menjalani perawatan di Pusat Pemulihan Gizi Buruk di Puskesmas Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, sejak Jumat (15/4).

Keempat penderita gizi buruk ini, yaitu Salimatun Hasanah (2,3), Tirta (2,8), Damar (1,2), dan Bintang (10 bulan). Para batita ini berasal dari keluarga berekonomi lemah. Kakak beradik, Tirta dan Damar masing-masing hanya memiliki berat badan 9 kilogram dan 6,1 kilogram. Sedangkan Bintang berat badannya hanya mencapai 6,4 kilogram.

Kondisi terparah dialami Salimatun, dengan tinggi 77 sentimeter dia hanya memiliki berat badan 6,2 kilogram, atau setengah dari berat anak-anak normal seusianya. Tak hanya menderita gizi buruk, Salimatun juga menderita berbagai penyakit seperti paru-paru. Tubuhnya yang kurus tampak lemah, kedua kakinya terlihat hanya bisa menjuntai lemah.
Menurut ayahnya, Saefullah ketika ditemui di Puskemas Kalideres, meski telah berusia lebih dari 2 tahun, putri keduanya ini belum mampu berjalan maupun merangkak. Sehari-hari Salimatun hanya mampu tidur ataupun tengkurap.
“Padahal kakaknya yang berusia 5 tahun dulu tumbuh normal. Pada saat usia satu tahun sudah bisa berjalan,” tuturnya.

Saefullah menuturkan, putrinya ini baru satu bulan yang lalu keluar dari Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat. Di rumah sakit tersebut Salimatun dirawat selama dua minggu, karena menderita gizi buruk dan penyakit lainnya.

Hampir satu bulan di rumah setelah dirawat di rumah sakit, kata Saefullah, putri kecilnya tidak mampu makan maupun minum susu. Terpaksa selang dipasang lewat hidungnya sebagai jalan masuk bagi makanan yang telah dihaluskan maupun susu.

“Salimatun juga mendapat banyak bantuan obat-obatan. Tapi beberapa obat tidak dapat saya tebus karena tidak ada di RSUD Tarakan, sehingga saya diminta menebus di apotik luar. Saya tidak punya uang untuk menebusnya, jadi beberapa resep obat hanya saya simpan di rumah,” tuturnya.

Sehari-hari, Saefullah bekerja sebagai buruh serabutan. Jika ada panggilan menjadi kuli bangunan ia lakoni. Tapi jika panggilan tak kunjung datang demi memenuhi kebutuhan istri dan dua anaknya, ia bekerja sebagai penjual remote kontrol, keset, dan lain-lain dengan berkeliling dari kampung ke kampung.

Saefullah dan keluarga tinggal di sebuah kamar berlantai dan berdinding kayu. Baru empat bulan ia memboyong keluarganya di sana.Kamar berukuran 2x3 meter ini disewanya sebesar Rp200.000 per bulan. Tidak ada barang berharga terlihat di sana, kecuali sehelai kasur dan lemari. Ruangannya pun terlihat pengap dan gelap.

Sementara itu ibu Damar dan Tirta, bernama Sisca (27) yang tinggal hanya berjarak beberapa meter dari tempat tinggal Saefullah mengaku anaknya menderita gizi buruk sejak satu tahun yang lalu. Suaminya yang bernama Hendra (31) bekerja sebagai juru parkir dengan pendapatan per hari Rp40.000-Rp50.000. “Hanya hari Minggu suami saya bisa bawa pulang uang sampai Rp70.000,” urainya.

Wulan (23) ibu dari Bintang mengaku suaminya tak memiliki pekerjaan tetap. Sementara ia hanya seorang buruh cuci dengan penghasilan sekitar Rp300.000 perbulan. Kondisi keuangan keluarganya yang pas-pasan membuat Wulan tak mampu memperhatikan asupan gizi bagi putranya.

Kasudin Kesehatan Jakarta Barat, dr.Agung Sagung Parwanthi mengatakan, kasus gizi buruk yang menimpa Salimatun anak kedua dari pasangan Syaefullah (30) dan Djubaedah (21) ditemukan pertama kali pada tanggal 3 Mei 2010 ketika sang anak dibawa ibunya ke Posyandu.

“Salimatun kemudian dirujuk petugas ke Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan dan melakukan konfirmasi ulang dengan menggunakan metode WHO NCHS dan anak tersebut termasuk ke dalam kategori kurus sekali. Petugas puskemas memberikan terapi diantaranya memberikan konsultasi gizi dan memberikan paket PMT pemulihan berupa Pan Enternal, serta setiap 2 minggu sekali petugas mengontrol anak tersebut,” jelasnya.

Namun selanjutnya, jelas parwanthi, orangtua Salimatun tidak pernah membawa anaknya ke puskesmas. Bahkan saat petugas datang ke rumahnya mereka sudah pindah tidak bertempat tinggal dialamat yang lama. Baru tanggal 9 Desember 2010, orangtua Salimatun datang ke Puskesmas dengan kondisi yang sama namun berat badan naik menjadi 6,7 Kg dengan tinggi badan 77 cm.  [Y-6]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»