Tim Ekspedisi 7 Summit Siap Taklukan Gunung Tertinggi Dunia
Selasa, 20 Maret 2012 | 8:30
Handaka Santosa, Wakil Presiden Direktur III Agung Podomoro Land dan Ketua Panitia 7 Summits Expedition Endriartono Sutarto berfoto bersama Tim Ekspedisi 7 Summits Indonesia. [SP/Hendro Situmorang] [JAKARTA] Tim 7 Summits Expedition Wanadri (Perhimpunan Penempuh Rimba dan
Pendaki Gunung) siap mengangkat dan mensejajarkan Bangsa Indonesia dengan
bangsa lain di dunia yang telah berhasil mendaki tujuh puncak dunia.
Pendakian ke puncak tujuh gunung tertinggi di dunia (Seven Summits)
mencapai perjuangan terakhir yakni Puncak Sagarmatha-Everest (8.848 mdpl) di
perbatasan Tibet dan Nepal.
Untuk mendaki puncak gunung paling tinggi sedunia itu, tim ekspedisi tujuh
puncak dunia dari Wanadri itu pun mendapat dukungan penuh dari perusahaan
properti PT Agung Podomoro Land (APL) Tbk.
Presiden Direktur APL Trihatma Kusuma Haliman mendukung panitia 7 Summits
Expedition yang diketuai Endriartono Sutarto untuk mengharumkan nama bangsa di
dunia dan peduli terhadap lingkungan.
“Perusahaan kami yang terbuka sudah peduli terhadap lingkungan sekitar
seperti tidak mamakai air tanah tapi air dari PAM. Namun, ternyata ada masalah
yang lebih luas yakni mencairnya es di puncak gunung," jelas Handaka
Santosa, Wakil Presiden Direktur III Agung Podomoro Land di Jakarta, Senin
(19/3).
Dengan membantu ekspedisi tersebut, perusahaan menunjukkan perhatian
terhadap pemanasan global. Selain itu, pihaknya berharap keberhasilan tersebut
nantinya dapat memberikan motivasi dan inspirasi kepada anak muda lainnya untuk
menjaga lingkungan.
Dukungan APL berupa bantuan dana untuk melanjutkan kegiatan pendakian ke
puncak yang terakhir, yaitu Gunung Everest.
Handaka mengatakan dukungannya
merupakan salah satu wujud kepedulian terhadap kelestarian lingkungan alam dan
krisis pemanasan global serta dapat mengharumkan nama bangsa di dunia
internasional.
Ketua Panitia 7 Summits Expedition Endriartono Sutarto mengakui bahwa
rangkaian ekspedisi yang sudah berlangsung sejak Januari 2010 hingga 2012 ini,
tentu tidak lepas karena dukungan dari pihak beberapa sponsor yang salah
satunya adalah APL.
Dia mengatakan ada tiga tujuan ekspedisi ini dilakukan oleh
para pendaki muda Indonesia.
“Pertama, untuk mengangkat dan mensejajarkan pendaki Indonesia dengan
pendaki gunung negara lain. Kedua, kami ingin mengkampanyekan fakta tentang
global warming dan climate change yang kian memburuk. Terakhir, kita akan
mempersiapkan dan melatih para pendaki tropis selanjutnya untuk mendaki gunung
es dengan metodologi dan program latihan yang terukur,” ungkap dia.
Ditambahkan bahwa sekarang Indonesia bisa dikatakan tidak memiliki prestasi
yang membanggakan. Sebelumnya, masyarakat bangga dengan menjuarai Piala Thomas
dan Uber tapi setelah reformasi semua hilang. Padahal diperlukan sesuatu yang
bisa dibanggakan.
Ia berharap dengan pendakian terakhir nanti di Sagarmatha-Everest pada 29
Maret hingga 9 Juni 2012 akan menjadi prestasi yang dapat membanggakan di mata
dunia.
S
ebelum ke Sagarmatha-Everest, tim telah menyelesaikan enam pendakian yaitu
Vinson Massif (4.897 mdpl) di Antartika, Denali (6.194 mdpl) di Amerika Utara,
Acocagua (6.962 mdpl) di Argentina, Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Kilimanjaro
(5.892 mdpl) di Tanzania, serta Puncak Ndugu-Ndugu atau Cartenz Pyramid (4.884
mdpl) di Papua. [H-15]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
