Simon Santoso Berjuang di Lapangan untuk Mendiang Ayah
Senin, 18 Juni 2012 | 10:39
Simon Santoso [google] Pasang surut
pencapaian mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bagi seorang atlet. Bak roda
pedati yang selalu berputar, ada kalanya memenangi turnamen, tetapi tidak
jarang juga tampil dengan buruk. Hal itu juga dirasakan pebulutangkis asal Jawa
Tengah, Simon Santoso.
Sejak menjuarai Taipei Open 2010, karier Simon bisa dibilang tidak begitu
spektakular. Pencapaian tertingginya hanya merebut medali emas SEA Games 2011.
Hasil tersebut boleh dikata tidak bisa berbicara banyak mengingat SEA Games
merupakan persaingan olahraga regional, hanya untuk negara-negara Asia
Tenggara.
Berbicara aspek yang
lebih luas, yang melibatkan pebulutangkis dunia, pencapaian tertinggi
pebulutangkis berusia 26 tahun itu hanya mencapai semifinal Malaysia Open Super
Series, Victor Korea Open Super Series Premier, dan Swiss Open 2011. Awal tahun
ini juga kurang menguntungkan bagi Simon. Setelah menjadi runner-up German Open pada Maret lalu, ia harus
mengundurkan diri dari Kejuaraan Asia karena cedera otot perut.
Selanjutnya, Simon
yang memperkuat tim Piala Thomas harus puas melangkah ke perempat final setelah
dikalahkan Jepang.
Warna-warni. Namun, ia tidak mau putus asa. Pebulutangkis peringkat sembilan
dunia itu terus mengasah kemampuannya di tengah kritikan terhadap prestasi
pemain pelatnas Cipayung yang dinilai banyak pihak menurun. Simon tetap
memiliki kekuatan yang ternyata bersumber dari sang ayah, Hosea Lim, yang
meninggal pada Maret lalu.
“Walaupun ayah sudah tidak ada, saya selalu ingin menjadi yang terbaik untuk
beliau. Saya seperti sekarang berkat dukungan dan kerja keras beliau,” ujar
pebulutangkis yang hobi membaca komik itu.
Perjuangan Simon
membuahkan hasil. Pebulutangkis kelahiran Tegal, 29 Juli 1985 itu akhirnya
merebut gelar pertamanya tahun ini dengan menjuarai turnamen Djarum
Indonesia Open Super Series Premier (DIOPSS) 2012 setelah mengalahkan unggulan
kedelapan asal Tiongkok Du Pengyu 21-18, 13-21, 21-11 di Istora Senayan,
Jakarta, Minggu (17/6).
Simon pun mempersembahkan
kemenangan pada turnamen berhadiah total US$ 650.000 itu untuk sang ayah.
“Kemenangan ini untuk ayah saya. Saya ingin membuktikan kepada almarhum kalau
saya mampu juara di sini. Ini memang sudah lama saya nanti-nantikan,” kata
juara Taiwan Open Super Series 2008 itu.
Kemenangan Simon
pada DIOPSS kali ini juga mencatatkan prestasi tersendiri. Pebulutangkis yang
juga hobi berenang itu mengakhiri paceklik gelar tunggal putra. Sony Dwi
Kuncoro yang terakhir kali menjadi juara Djarum Indonesia Open 2008 lalu. Saat
itu, Sony mengalahkan Simon di final.
Kali ini, Simon
mengaku cukup mendapat tekanan untuk menang. Absennya pebulutangkis nomor satu
dan dua dunia Lee Chong Wei dan Lin Dan membuat banyak orang berharap banyak padanya.
Jalan Simon cukup mulus ketika pemain peringkat tiga dunia Chen Long dan
unggulan lainnya berguguran di DIOPSS.
Namun, pebulutangkis yang saat ini menjadi tunggal putra pertama Indonesia itu
harus bekerja keras menghadapi Du Pengyu pada babak final DIOPSS. Du seperti
tipikal pemain Tiongkok lainnya, memiliki stamina yang kuat dan pukulan berbahaya.
Simon sempat kewalahan menghadapi Du. Tetapi, tekad untuk memberikan yang
terbaik bagi mendiang sang ayah menjadi penyemangatnya. Kemenangan itu membuat rekor Simon menjadi imbang 2-2 atas Du.
Sebagai juara pertama DIOPSS, Simon mendapatkan hadiah senilai US$ 48,750.
Selain itu, dia juga memperoleh bekal manis menjelang Olimpiade London 2012
pada 27 Juli-12 Agustus mendatang. Sebelumnya, Simon akan berlaga pada turnamen
Singapore Open yang akan berlangsung 19-24 Juni ini.
“Sekarang, saya lebih enjoy dan berpikir untuk olimpiade. Banyak pelajaran yang
saya petik di DIOPSS. Saya memang sudah berkomitmen agar bisa memberikan yang
terbaik untuk mendiang ayah dan keluarga. Peluang olimpiade masih terbuka dan
saya akan mempersiapkan diri dengan lebih optimal karena ini olimpiade pertama
saya,” katanya.
Sementara itu, ganda
campuran terbaik Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir harus puas menjadi
finalis DIOPSS 2012 setelah dikalahkan pasangan Thailand Sudket Prapakamol/Saralee
Thoungthongkam rubber game 21-17, 17-21, 21-13. Tiongkok membawa satu gelar di
ganda putri setelah unggulan pertama Wang Xiaoli/Yu Yang menang atas kompatriotnya Tiang
Qing/Zhao Yunlei 17-21, 21-9, 21-16.
Pebulutangkis terbaik
India Saina Nehwal merebut gelar ketiganya pada DIOPSS kali ini setelah
menumbangkan unggulan keempat asal “Negeri Tirai Bambu” Li Xuerui 13-21, 22-20,
21-19. Ganda putra unggulan kedua asal Korea Selatan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae
keluar sebagai yang terbaik setelah mengalahkan unggulan ketiga dari Denmark Mathias Boe/Carsten
Mogensen 23-21, 19-21, 21-11. [Y-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
