SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Senin, 20 Mei 2013
Pencarian Arsip

Simon Santoso Berjuang di Lapangan untuk Mendiang Ayah
Senin, 18 Juni 2012 | 10:39

Simon Santoso [google] Simon Santoso [google]

Pasang surut pencapaian mungkin sudah menjadi hal yang lumrah bagi seorang atlet. Bak roda pedati yang selalu berputar, ada kalanya memenangi turnamen, tetapi tidak jarang juga tampil dengan buruk. Hal itu juga dirasakan pebulutangkis asal Jawa Tengah, Simon Santoso.

Sejak menjuarai Taipei Open 2010, karier Simon bisa dibilang tidak begitu spektakular. Pencapaian tertingginya hanya merebut medali emas SEA Games 2011. Hasil tersebut boleh dikata tidak bisa berbicara banyak mengingat SEA Games merupakan persaingan olahraga regional, hanya untuk negara-negara Asia Tenggara.

Berbicara aspek yang lebih luas, yang melibatkan pebulutangkis dunia, pencapaian tertinggi pebulutangkis berusia 26 tahun itu hanya mencapai semifinal Malaysia Open Super Series, Victor Korea Open Super Series Premier, dan Swiss Open 2011. Awal tahun ini juga kurang menguntungkan bagi Simon. Setelah menjadi runner-up German Open pada Maret lalu, ia harus mengundurkan diri dari Kejuaraan Asia karena cedera otot perut.

Selanjutnya, Simon yang memperkuat tim Piala Thomas harus puas melangkah ke perempat final setelah dikalahkan Jepang.
Warna-warni. Namun, ia tidak mau putus asa. Pebulutangkis peringkat sembilan dunia itu terus mengasah kemampuannya di tengah kritikan terhadap prestasi pemain pelatnas Cipayung yang dinilai banyak pihak menurun. Simon tetap memiliki kekuatan yang ternyata bersumber dari sang ayah, Hosea Lim, yang meninggal pada Maret lalu.

“Walaupun ayah sudah tidak ada, saya selalu ingin menjadi yang terbaik untuk beliau. Saya seperti sekarang berkat dukungan dan kerja keras beliau,” ujar pebulutangkis yang hobi membaca komik itu.

Perjuangan Simon membuahkan hasil. Pebulutangkis kelahiran Tegal, 29 Juli 1985 itu akhirnya merebut gelar pertamanya  tahun ini dengan menjuarai turnamen Djarum Indonesia Open Super Series Premier (DIOPSS) 2012 setelah mengalahkan unggulan kedelapan asal Tiongkok Du Pengyu 21-18, 13-21, 21-11 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (17/6).   Simon pun mempersembahkan kemenangan pada turnamen berhadiah total US$ 650.000 itu untuk sang ayah.

“Kemenangan ini untuk ayah saya. Saya ingin membuktikan kepada almarhum kalau saya mampu juara di sini. Ini memang sudah lama saya nanti-nantikan,” kata juara Taiwan Open Super Series 2008 itu.

Kemenangan Simon pada DIOPSS kali ini juga mencatatkan prestasi tersendiri. Pebulutangkis yang juga hobi berenang itu mengakhiri paceklik gelar tunggal putra. Sony Dwi Kuncoro yang terakhir kali menjadi juara Djarum Indonesia Open 2008 lalu. Saat itu, Sony mengalahkan Simon di final.

Kali ini, Simon mengaku cukup mendapat tekanan untuk menang. Absennya pebulutangkis nomor satu dan dua dunia Lee Chong Wei dan Lin Dan membuat banyak orang berharap banyak padanya. Jalan Simon cukup mulus ketika pemain peringkat tiga dunia Chen Long dan unggulan lainnya berguguran di DIOPSS.

Namun, pebulutangkis yang saat ini menjadi tunggal putra pertama Indonesia itu harus bekerja keras menghadapi Du Pengyu pada babak final DIOPSS. Du seperti tipikal pemain Tiongkok lainnya, memiliki stamina yang kuat dan pukulan berbahaya. Simon sempat kewalahan menghadapi Du. Tetapi, tekad untuk memberikan yang terbaik bagi mendiang sang ayah menjadi penyemangatnya. Kemenangan itu membuat rekor Simon menjadi imbang 2-2 atas Du.

Sebagai juara pertama DIOPSS, Simon mendapatkan hadiah senilai US$ 48,750. Selain itu, dia juga memperoleh bekal manis menjelang Olimpiade London 2012 pada 27 Juli-12 Agustus mendatang. Sebelumnya, Simon akan berlaga pada turnamen Singapore Open yang akan berlangsung 19-24 Juni ini.

“Sekarang, saya lebih enjoy dan berpikir untuk olimpiade. Banyak pelajaran yang saya petik di DIOPSS. Saya memang sudah berkomitmen agar bisa memberikan yang terbaik untuk mendiang ayah dan keluarga. Peluang olimpiade masih terbuka dan saya akan mempersiapkan diri dengan lebih optimal karena ini olimpiade pertama saya,” katanya.

Sementara itu, ganda campuran terbaik Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir harus puas menjadi finalis DIOPSS 2012 setelah dikalahkan pasangan Thailand Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam rubber game 21-17, 17-21, 21-13. Tiongkok membawa satu gelar di ganda putri setelah unggulan pertama Wang Xiaoli/Yu Yang menang atas kompatriotnya Tiang Qing/Zhao Yunlei 17-21, 21-9, 21-16.

Pebulutangkis terbaik India Saina Nehwal merebut gelar ketiganya pada DIOPSS kali ini setelah menumbangkan unggulan keempat asal “Negeri Tirai Bambu” Li Xuerui 13-21, 22-20, 21-19. Ganda putra unggulan kedua asal Korea Selatan Jung Jae Sung/Lee Yong Dae keluar sebagai yang terbaik setelah mengalahkan unggulan ketiga dari Denmark Mathias Boe/Carsten Mogensen 23-21, 19-21, 21-11. [Y-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN