Wawancara Eksklusif
Prof Dr Vincent Houben: Kasus Korupsi Selalu Politis
Senin, 13 Februari 2012 | 9:58
Prof Dr Vincent Houben dari Universitas Humboldt, Jerman. [google] Partai Demokrat (PD) didirikan pada 2001, atas inisiasi sejumlah orang,
seperti Jenderal TNI Angkatan Darat (AD), Susilo Bambang Yudhoyono.
Pada Pemilu 2004, partai ini meraih suara
sekitar 3%, tidak begitu signifikan dibanding partai menengah dan partai besar
lain, seperti Partai Golkar dan PDI-P. Tetapi sebagai partai politik baru,
perolehan itu cukup mengagumkan. Capres yang diusung Partai Demokrat
memenangkan Pilpres 2009 setelah berkoalisi dengan Partai Golkar.
Yang paling mengejutkan banyak kalangan,
termasuk para peneliti partai politik, pada Pemilu 2009, partai ini menjadi
pemenang telak pemilu dengan perolehan 20,29% mengalahkan Partai Golkar dan PDI-P,
yang sebelumnya diduga tak mungkin posisi mereka digeser oleh partai baru.
Ada kalangan akademisi dan pengamat politik yang menilai, kemenangan
ini terkait dengan money politics dan voters fraud yang tidak
pernah terselediki oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Ditambah lagi dengan
keberadaan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang nota bene adalah presiden incumbent.
Pada tahun 2010, partai ini kembali mengejutkan publik Indonesia.
Ketika partai lain masih mempertahankan sistem kepartaian feodal, partai ini
justru memilih orang muda, bekas aktivis reformasi 1998, Anas Urbaningrum
sebagai ketua umum.
Publik Indonesia
mengagumi regenerasi politik yang dirintis oleh Partai Demokrat. Tetapi
sayangnya, setelah kasus korupsi yang melibatkan Bendahara Umum Partai Demokrat
M Nazaruddin terungkap, partai ini
dilanda badai. Bahkan Ketua Umum PD Anas Urbaningrum diduga terlibat, dan akan
segera diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Untuk mengelaborasi
lebih jauh soal ini, Wartawan SP Gusti Lesek melakukan wawancara per email dengan Prof Dr Vincent Houben dari Universitas
Humboldt Jerman. Beliau adalah ahli Indonesia
dan Asia Tenggara.
SP : Faktor apa yang membuat para
pendiri membentuk Partai Demokrat dan tiba-tiba menjadi partai besar?
VH (Vincent Houben): Transisi
demokrasi di Indonesia sejak tahun 1998 memungkinkan muncul kembali politik
multipartai, yang sejak Pemilu 1955 sampai sebelum fusi partai tahun 1973 sudah
ada. Sehingga selain partai-partai yang ada sejak Orde Baru, juga muncul
partai-partai baru.
Pemilih yang tidak puas dengan
partai-partai lama, bisa memilih yang baru, yang menyebabkan peningkatan besar
dalam jumlah partai baru. Tetapi karena banyak dari mereka hanya berorientasi
pada pemilu, maka mereka sangat tidak efektif dalam mengatasi problem
sosial-ekonomi negara.
Partai Demokrat bisa meningkatkan jumlah kursi
secara substansial antara Pemilu 2004 dan Pemilu 2009, karena banyak yang
berpikir, partai ini akan melakukan lebih baik dari partai lain, baik
yang lama maupun yang baru yang kebanyakan memiliki basis dukungan
terbatas.
Partai Demokrat terlihat khusus, karena
tampaknya mau menyeimbangkan kepentingan banyak kelompok pada saat yang sama,
dan menawarkan alternatif yang baik supaya partai lebih berorientasi pada
tujuan yang partikular, yang akhirnya membantu menjamin stabilitas negara
yang lebih baik.
SP: Apakah hal itu ada hubungannya dengan budaya politik tertentu?
VH: Dalam hal tertentu,
budaya politik telah berubah, karena tak lagi fokus pada elite dan teknokrat,
tapi lebih diarahkan pada masyarakat umum atau mungkin bahkan populis. Saat ini,
yang ada lebih merupakan budaya politik kesempatan (a political culture of opportunity)
yang ditentukan oleh dinamika pemilu yang bebas dan kewenangan parlemen.
Namun, dalam hal
tertentu juga, budaya politik tak berubah. Dalam arti, bahwa partai masih tak
berbasis program, tetapi lebih bergantung pada siapa yang memimpin dan pada
kepentingan kelompok.
Sebagian
mengatakan bahwa politik Indonesia adalah politik aliran, tapi saya rasa,
politik di Indonesia terutama didorong oleh aliansi yang sifatnya sementara,
dan berubah begitu cepat, antara politisi dan berbagai kelompok kepentingan.
SP:
Mungkinkah akan terjadi migrasi pemilih pada Pemilu 2014 mendatang, dimana pemilih
Partai Demokrat akan berpindah ke partai lain, karena kasus korupsi yang melibatkan
mantan Bendahara Umum Nazarudin dan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum?
VH: Volatilitas politik di
negara-negara transisi sangat tinggi, dan tahun 2014 mungkin banyak partai baru
bersaing, sementara yang ada, seperti Partai Demokrat, mungkin mengalami
penurunan dukungan, karena pemilih melihat bahwa ternyata elite partainya tidak
bersih.
Namun, 2014 masih
relatif jauh dan itu tergantung pada bagaimana perkembangan lebih lanjut kasus
korupsi yang mengaitkan Nazarudin dan Anas Urbaningrum, dan belum pasti apakah
pemilih akan masih ingat pada kasus ini di pemilu berikutnya.
Transisi politik tidak selalu berarti sebuah jalan satu arah ke arah demokrasi
yang sempurna. Transisi bisa juga berarti perubahan mundur (lagi). Di Thailand, misalnya, ilmuwan politik sepakat bahwa transisi
politik sukses, namun kini negeri ini tengah mengalami kebuntuan politik
panjang.
Apakah Indonesia
akan maju terus atau terus mundur? Sangat tergantung
pada bagaimana pembangunan politik secara keseluruhan berjalan.
SP: Anas Urbaningrum adalah
dilema bagi elite Partai Demokrat, termasuk bagi Presiden SBY sebagai ketua dewan pembina. Kalau dia dibiarkan diperiksa dan dipenjara, maka
reputasi partai ini hancur dan memberi peluang bagi pemeriksaan elite lain di
tubuh partai demokrat. Kalau tidak diperiksa oleh KPK dan tidak dihukum,
politisasi terhadap kasus korupsi yang melibatkan elite Partai Demokrat sulit
dihindari.
Pemerintahan Yudhoyono akan terancam
karena isu ini bisa dipakai oleh oposisi di parlemen maupun di luar parlemen
untuk mendesak Presiden mundur dari jabatan (impeachment). Apa yang harus
dilakukan Partai Demokrat terhadap Anas Urbaningrum,?
VH: Sulit untuk memprediksi bagaimana serius
dampak percobaan ini terhadap Partai Demokrat dan terhadap presiden. Di masa
lalu juga terjadi banyak kasus korupsi dengan profil tinggi dan kadang-kadang,
bahkan justru seringkali, hasil akhir dari proses hukum agak mengejutkan,
setidaknya bagi pengamat luar.
Kasus korupsi dengan profil media yang
tinggi seperti ini selalu sangat politis, dalam arti bahwa kasus-kasus seperti
ini seringkali mencerminkan adanya konflik internal dalam partai. Lebih dari
itu, terungkapnya kasus seperti ini tentu saja menjadi bukti dari cara kerja
negara hukum yang efektif untuk memastikan bahwa keadilan ditegakkan. Namun latar belakang nyatanya seperti
apa, sering masih tidak jelas.
SP: Korupsi politik masih menjadi persoalan utama Indonesia. Apakah ini
hal yang biasa di negara transisi, atau kasus Indonesia sudah di luar wilayah
teori yang berlaku umum?
VH: Korupsi bukan hanya masalah
Indonesia maupun Asia Tenggara, dengan pengecualian mungkin Singapura. Juga di
Eropa, korupsi dapat ditemukan dan saya sedikit kritis dengan indeks korupsi
internasional (yang menempatkan negara maju selalu lebih bersih), karena
mungkin saja beberapa negara maju jauh lebih baik menyembunyikan korupsi
ketimbang negara berkembang.
Saat ini ada
diskusi di Jerman, mengapa negara ini telah menandatangani konvensi PBB melawan
korupsi, tetapi tidak pernah diimplementasikan dengan membuat undang-undang.
Tentu saja, korupsi dapat menjadi begitu besar, sehingga merusak politik,
fungsi negara, dan melanggar hak-hak warga negara.
Di Indonesia
sejumlah lembaga dibentuk (KPK, Komisi Judisial, Makamah Konstitusi, dan
lain-lain) untuk menjamin politik yang bersih, pers yang menyelidiki dan
melaporkan kasus-kasus korupsi. Jadi visibilitas dan kesadaran korupsi
telah tumbuh.
Di sisi lain,
hubungan antara politik dan korupsi juga nampaknya masih kuat, dengan alasan
bahwa akses ke pengambilan keputusan merupakan peluang untuk mencari keuntungan
individual.
Hanya integritas
pribadi yang kuat dari orang-orang berkarakter dan independensi lembaga negara
dapat menjamin penurunan kadar korupsi. Seberapa jauh Indonesia maju dalam hal
ini adalah sebuah tema yang menarik kita diskusikan. *
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
