Kenny G, Sang Maestro Itu Kembali Lagi
Rabu, 2 November 2011 | 15:47
Kenny G [google] Pencinta musik instrumental, pasti mengenal sosok pria
berambut keriting ini. Kenneth Bruce Gorelick atau yang lebih dikenal dengan
nama Kenny G, itulah nama peniup saksofon yang paling terkenal di dunia musik,
khususnya instrumental dan jaz. Selama hampir 38 tahun, Kenny G mencoba
mengukir industri musik dengan segudang karya dan prestasi.
Terdapat satu prestasi Kenny G, yang tak terlupakan di era
kebangkitan musik jaz, sekitar tahun 1997. Saat itu, Kenny memecahkan
rekor Guinness dengan memainkan satu nada terlama menggunakan saksofon. Lewat
pernapasan sempurna, Kenny mampu menahan nada E flat selama 45 menit dan 47
detik.
Saat ini, nama Kenny masuk dalam kategori pemusik jaz
terkenal di dunia. Meskipun ia tidak rutin menelurkan album, karya-karya Kenny
jelas tidak bisa diremehkan. Pembuktian bahwa karya Kenny kerap ditunggu oleh
penikmat musik instrumental dan jaz, terjadi di Indonesia.
Tak lama lagi, tepatnya pada pertengahan November 2011,
Kenny kembali menyapa penggemarnya. Sebuah konser bertajuk “The Maestro is
Back”, akan digelar di Balai Sarbini, Jakarta.
Rencananya, konser yang memakai
konsep eksklusif ini menyajikan tontonan tak terlupakan. Sebab, dua musisi
papan atas Indonesia, yakni Tompi dan Mike Mohede diajak sebagai musisi
pembuka, sebelum nantinya Kenny tampil ke tengah-tengah penonton.
Kedatangan Kenny ke Jakarta, sebenarnya terbilang masih
segar di ingatan. Pada 26 Oktober 2010 lalu, Kenny baru saja selesai menggelar
konser tunggal di Jakarta.
Konser yang terkait dengan peluncuran album terbaru
Kenny itu dihadiri sekitar 2.500 penonton, di Ballroom Central Park, Jakarta
Barat.
Kini, selang satu tahun, promotor Liam Mipro kembali
memboyong Kenny ke Jakarta. Alasannya, penggemar Kenny yang pada 2010 tidak
sempat menonton, bisa terpuaskan dengan kehadiran konser “The Maestro is Back”.
Bahkan, pihak promotor sengaja memberikan harga yang tidak jauh beda dengan
tahun lalu. Tiket yang tersedia sebanyak 1.400 lembar ini dijual dengan harga
bervariasi, mulai dari Rp 500.000 sampai Rp 5 juta.
Untuk kedatangannya kembali, pria kelahiran Seattle,
Washington, AS pada 5 Juni 1956 itu sudah menyiapkan banyak hal, khususnya
berbagai kejutan untuk penggemar di Indonesia. Dipastikan, konser “The Maestro
is Back”, tidak sama dengan konser terdahulu.
Sukses Kenny sebagai peniup saksofon, jelas tidak lepas dari
peranan masa lalunya. Ia
besar di keluarga yang menganut ajaran Yahudi. Kenny
mengenal dan memainkan saksofon sejak berumur 10 tahun, tepatnya pada 1966.
Awalnya ia melihat sebuah permainan saksofon dalam pertunjukan The Ed Sullivan.
Sejak itulah Kenny yakin, bahwa alat musik yang paling cocok dengannya adalah
saksofon.
Hari-hari sekolah Kenny juga diwarnai saksofon. Bahkan, ia
sempat bergabung dengan sebuah band jaz. Saat masih duduk di bangku SMA, Kenny
juga mengikuti kursus saksofon dan klarinet.
Sementara untuk urusan karier, Kenny mulai dikenal sebagai
seorang pemain cadangan pada Barry White's Love Unlimited Orchestra, pada 1973.
Kala itu ia masih berusia 17 tahun. Berkat tampil sebagai pemain cadangan,
Kenny memutuskan untuk tetap bermain saksofon secara profesional.
Selama kuliah
di jurusan akuntansi University of Washington, hingga saat Kenny meraih
gelarnya dengan predikat magna cum laude,
saksofon selalu menemaninya.
Sebelum bersolo karier, Kenny sempat bergabung dengan band
beraliran funk bernama Cold, Bold & Together. Ia pun menjadi anggota
kehormatan The Jeff Lorber Fusion. Pada 1982, Kenny menandatangani kontrak
pertamanya dengan Arista Records, setelah sang presiden rumah rekaman tersebut
mendengarnya memainkan lagu ABBA Dancing Queen.
Kenny meluncurkan begitu banyak album. Sebagian besar
dikerjakan dengan bekerja sama penyanyi terkenal seperti Andrea Bocelli,
Whitney Houston, Peabo Bryson, Natalie Cole, Steve Miller, Michael Bolton, dan
Celine Dion.
Album kedua dan ketiganya pun berhasil meraih platinum di
AS. Sukses album pertama menular di album keempat dan kelimanya.
Bahkan album
keenamnya menjadi album instrumental paling laku sepanjang sejarah, dengan
terjual lebih dari 15 juta kopi di dunia.
Di luar kebiasaan Kenny meniup saksofon, ternyata ada
kesenangan lain yang kerap disembunyikan. Ia adalah pemain golf, semasa
SMA-nya. Kenny masuk dalam tim golf di sekolahnya. Beberapa kali ia ikut serta
dalam beberapa kejuaraan golf. Tidak hanya itu, Kenny pun ahli menerbangkan
pesawat, juga peran sertanya sebagai pendiri dan pemilik modal Starbucks.
Secara keseluruhan, hidup Kenny nyaris sempurna.
Ia menikah dengan Lyndie Benson, dan memiliki dua orang anak, Max (16 tahun)
dan Noah (11 tahun). Berkat dukungan keluarga, hingga saat ini Kenny sudah
hampir mempersembahkan sekitar 30 album ke jajaran musik jaz dan instrumental.
[berbagai sumber/Elvira Anna Siahaan]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
