SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Kamis, 20 Juni 2013
Pencarian Arsip

Jeremy Lin, Sukses Tak Bisa Dinikmati Sendirian
Jumat, 17 Februari 2012 | 9:58

Jeremy Lin [AP] Jeremy Lin [AP]

Meski masih 23 tahun, Jeremy Lin memiliki pemikiran cemerlang mengenai kesuksesan. Baginya, sukses tidak bisa dinikmati seorang diri. Itu sebabnya dia berbagi keberhasilan yang diraihnya kepada banyak orang, terutama mereka yang berlatar belakang minoritas Amerika Serikat. Lin membagi semangat, pengalaman, mimpi, dan uangnya.

Yayasan Jeremy Lin berdiri tidak lama setelah Lin berkarier secara profesional di kancah NBA dua tahun lalu. Lin menyisihkan sedikit pendapatannya dan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membentuk yayasan guna membantu anak-anak kurang mampu yang kebanyakan berasal dari keluarga imigran. Lin juga selalu menyempatkan diri menghadiri acara amal yang digelar yayasannya.

Beberapa waktu lalu, dia datang ke tiga sekolah di California untuk memberikan pelatihan basket. Lin juga memberikan makanan gratis kepada ratusan warga keturunan Turki yang ada di negara bagian itu.

Bagi Lin, para  imigran memang memiliki warna khusus dalam hidupnya. Pebasket yang pernah ingin menjadi seorang pendeta itu kerap mengalami kekerasan isu ras. Lin lahir dari pasangan imigran Taiwan Gie Ming dan Shirley yang pindah ke Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970. Kedua orangtua Lin bekerja di California. Ia pun diasuh sang nenek Chu Lin.

Sejak kecil, Lin memang sudah menggilai basket. Setiap kali menangis atau merengek minta dibelikan sesuatu, Lin kecil akan langsung terdiam jika disodori bola basket. Ia pun berani mengejar mimpinya dan menjadi bintang seperti saat ini. Tetapi ketika remaja, Lin kerap menanggung cemooh karena dia bermata sipit dan berkulit kuning di lapangan basket. Ketika bertanding memperkuat tim Universitas Harvard, dia kerap diolok-olok pebasket lawan.

“Maaf, di sini bukan pertandingan bulutangkis, atau tidak ada pertandingan bola voli sekarang. Tidak ada yang yakin kalau saya bisa bermain basket dengan baik. Bahkan ada yang mengatakan hal yang kasar; “Kembali ke Tiongkok”. “Buka matamu”, “Orkestra ada di bagian kampus lain”.Tetapi, saya memang tipe pemain yang tidak bisa langsung terlihat permainannya ketika itu,” ujarnya.

Lin mendefinisikan dirinya sebagai pebasket, bukan pemain basket Amerika keturunan Asia. Masalah ras membuatnya bersemangat menunjukkan kemampuan. “Banyak yang bilang kalau saya berkulit putih atau keturunan Afrika, karier saya akan lebih bagus. Saya ingin mematahkan pemikiran ini. Kehidupan dan basket bukan soal warna kullit, bentuk mata, atau darimana Anda berasal, tetapi bagaimana Anda menginginkan masa depan,” kata pebasket yang lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Harvard dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,1 itu.

Kekerasan ras terbaru yang dialami Lin yaitu ketika petinju Amerika Boxer Floyd Mayweather Jr menulis pesan tidak pantas di akun Twitternya. Mayweather menilai keberhasilan Lin tidak bisa disamakan dengan pebasket berkulit hitam. "Jeremy Lin merupakan pemain yang hebat, tetapi semua sensasi itu hanya karena dia seorang Asia. Pemain berkulit hitam melakukan apa yang dia lakukan setiap malam dan mendapat sambutan yang sama,” tulis Mayweather yang juga pernah melontarkan isu ras terhadap petinju Filipina Manny Pacquiao. [Berbagai Sumber/Y-8]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN