Jeremy Lin, Sukses Tak Bisa Dinikmati Sendirian
Jumat, 17 Februari 2012 | 9:58
Jeremy Lin [AP] Meski masih 23 tahun, Jeremy Lin memiliki pemikiran
cemerlang mengenai kesuksesan. Baginya, sukses tidak bisa dinikmati seorang
diri. Itu sebabnya dia berbagi keberhasilan yang diraihnya kepada banyak orang,
terutama mereka yang berlatar belakang minoritas Amerika Serikat. Lin membagi
semangat, pengalaman, mimpi, dan uangnya.
Yayasan Jeremy Lin berdiri tidak lama setelah Lin berkarier
secara profesional di kancah NBA dua tahun lalu. Lin menyisihkan sedikit pendapatannya
dan bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk membentuk yayasan guna membantu
anak-anak kurang mampu yang kebanyakan berasal dari keluarga imigran.
Lin juga selalu menyempatkan diri menghadiri acara amal yang
digelar yayasannya.
Beberapa waktu lalu, dia datang ke tiga sekolah di
California untuk memberikan pelatihan basket. Lin juga memberikan makanan
gratis kepada ratusan warga keturunan Turki yang ada di negara bagian itu.
Bagi
Lin, para imigran memang memiliki warna
khusus dalam hidupnya.
Pebasket yang pernah ingin menjadi seorang pendeta itu kerap
mengalami kekerasan isu ras. Lin lahir dari pasangan imigran Taiwan Gie Ming
dan Shirley yang pindah ke Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970.
Kedua orangtua Lin bekerja di California. Ia pun diasuh sang
nenek Chu Lin.
Sejak kecil, Lin memang sudah menggilai basket. Setiap kali
menangis atau merengek minta dibelikan sesuatu, Lin kecil akan langsung terdiam
jika disodori bola basket.
Ia pun berani mengejar mimpinya dan menjadi bintang seperti
saat ini. Tetapi ketika remaja, Lin kerap menanggung cemooh karena dia bermata
sipit dan berkulit kuning di lapangan basket. Ketika bertanding memperkuat tim
Universitas Harvard, dia kerap diolok-olok pebasket lawan.
“Maaf, di sini bukan pertandingan bulutangkis, atau tidak
ada pertandingan bola voli sekarang. Tidak ada yang yakin kalau saya bisa
bermain basket dengan baik. Bahkan ada yang mengatakan hal yang kasar; “Kembali
ke Tiongkok”. “Buka matamu”, “Orkestra ada di bagian kampus lain”.Tetapi, saya
memang tipe pemain yang tidak bisa langsung terlihat permainannya ketika itu,”
ujarnya.
Lin mendefinisikan dirinya sebagai pebasket, bukan pemain
basket Amerika keturunan Asia. Masalah ras membuatnya bersemangat menunjukkan
kemampuan. “Banyak yang bilang kalau saya berkulit putih atau keturunan Afrika,
karier saya akan lebih bagus. Saya ingin mematahkan pemikiran ini. Kehidupan
dan basket bukan soal warna kullit, bentuk mata, atau darimana Anda berasal,
tetapi bagaimana Anda menginginkan masa depan,” kata pebasket yang lulus dari
Fakultas Ekonomi Universitas Harvard dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,1
itu.
Kekerasan ras terbaru yang dialami Lin yaitu ketika petinju
Amerika Boxer Floyd Mayweather Jr menulis pesan tidak pantas di akun
Twitternya. Mayweather menilai keberhasilan Lin tidak bisa disamakan dengan
pebasket berkulit hitam. "Jeremy Lin merupakan pemain yang hebat, tetapi
semua sensasi itu hanya karena dia seorang Asia. Pemain berkulit hitam
melakukan apa yang dia lakukan setiap malam dan mendapat sambutan yang sama,”
tulis Mayweather yang juga pernah melontarkan isu ras terhadap petinju Filipina
Manny Pacquiao. [Berbagai Sumber/Y-8]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
