Ellen Johnson Sirleaf, Peraih Nobel Perdamaian yang Tak Populer di Negaranya
Selasa, 11 Oktober 2011 | 13:17
Ellen Johnson Sirleaf [AP] [OSLO] Rakyat Liberia melaksanakan pemilihan umum ketiganya,
Selasa (11/10), dengan 16 kandidat presiden bersaing untuk masa jabatan lima
tahun ke depan, termasuk Presiden Ellen Johnson Sirleaf, yang akan
mempertahankan jabatannya untuk periode kedua. Sirleaf memang memenangi hadiah
nobel perdamaian dunia, 2011, tapi popularitasnya saat ini tengah merosot.
Perempuan 72 tahun dinilai terlalu sedikit melakukan
perubahan, untuk mengangkat kesejahteraan rakyat di salah satu negara termiskin
dunia itu, dengan tingkat pengangguran mencapai 80 persen. Sirleaf mengakui
lambatnya proses pembangunan, tapi berdalih hal itu diluar kendalinya.
“Kemajuan membutuhkan waktu dan kapasitas kami terbatas
untuk melaksanakan hal-hal dengan kecepatan yang diinginkan,” katanya.
Kemenangan Sirleaf untuk hadiah Nobel Perdamaian juga tidak
mendapat sambutan di negerinya. Pesaingnya menuding, presiden wanita pertama
Liberia itu tidak pantas menerimanya.
“Setiap satu dari tiga orang Liberia
tidak dapat menghidupi dirinya sendiri. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan
mereka tidak mungkin peduli tentang hadiah Nobel,” kata Charles Brumskine, salah
satu kandidat yang akan bersaing dengan Sirleaf.
“Tidak ada sinkronisasi antara bagaimana dia terlihat di
luar negeri, dan bagaimana dia terlihat di sini. Dia akan sangat beruntung jika bisa mendapatkan 10 persen saja
suara dalam pemilihan,” tambahnya.
Pemimpin oposisi juga meminta pertanggung jawaban Sirleaf,
atas 14 tahun konflik sipil yang meninggalkan banyak kuburan massal di negara
itu. Sirleaf yang merupakan mantan pendukung Taylor, diketahui juga pernah
menerima uang darinya. Komisi Rekonsiliasi dan Pencari Kebenaran Afrika Selatan
(Afsel), memutuskan perempuan lulusan Harvard itu dilarang memegang jabatan
publik selama 30 tahun.
Tetapi larangan itu diabaikannya. Sirleaf membela diri
dengan menyebut dirinya telah menjadi musuh Taylor yang paling vokal.
“Saya
telah membayar harga atas itu. Peristiwa dari pemerintah Taylor tidak menghapus
dua dekade pekerjaan memperjuangkan hak rakyat di negara ini,” katanya.
Oposisi
juga menilai Sirleaf gagal dalam menciptakan Liberia yang bersatu.
Presiden yang telah berkuasa sejak 2006 itu juga dituding
telah menyalahgunakan kekuasaannya. Hal itu terkait keinginannya mengamandemen
masa jabatan presiden dan memperlama masa jabatan anggota mahkamah agung.
Akan
tetapi, amademen itu gagal karena tidak memenuhi jumlah suara yang ditetapkan,
yaitu minimal dua pertiga.
Pencapaian Sirleaf selama berkuasa adalah dihapusnya hutang
negara sebesar US$ 5 juta, yang menaikkan rating kredit Liberia sehingga dapat
menerbitkan obligasi.
Pemerintahannya juga telah membangun klinik, sekolah dan
jalan meski jumlahnya dinilai masih terlalu sedikit. Ia juga dipuji berhasil
mempertahankan perdamaian, setelah 14 tahun perang sipil yang mendera
negaranya. Sirleaf berjanji akan kembali fokus pada pembangunan jalan-jalan
yang rusak akibat konflik.
“Sekali lagi, saya akan menjadi seseorang yang
mencoba melaksanakan aspirasi dan harapan dari perempuan terutama di Afrika dan
seluruh dunia. Itu merupakan tanggung jawab besar saya,” ucapnya. [Berbagai Sumber/D-11]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
