SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Ellen Johnson Sirleaf, Peraih Nobel Perdamaian yang Tak Populer di Negaranya
Selasa, 11 Oktober 2011 | 13:17

Ellen Johnson Sirleaf [AP] Ellen Johnson Sirleaf [AP]

[OSLO] Rakyat Liberia melaksanakan pemilihan umum ketiganya, Selasa (11/10), dengan 16 kandidat presiden bersaing untuk masa jabatan lima tahun ke depan, termasuk Presiden Ellen Johnson Sirleaf, yang akan mempertahankan jabatannya untuk periode kedua. Sirleaf memang memenangi hadiah nobel perdamaian dunia, 2011, tapi popularitasnya saat ini tengah merosot.

Perempuan 72 tahun dinilai terlalu sedikit melakukan perubahan, untuk mengangkat kesejahteraan rakyat di salah satu negara termiskin dunia itu, dengan tingkat pengangguran mencapai 80 persen. Sirleaf mengakui lambatnya proses pembangunan, tapi berdalih hal itu diluar kendalinya.

“Kemajuan membutuhkan waktu dan kapasitas kami terbatas untuk melaksanakan hal-hal dengan kecepatan yang diinginkan,” katanya. Kemenangan Sirleaf untuk hadiah Nobel Perdamaian juga tidak mendapat sambutan di negerinya. Pesaingnya menuding, presiden wanita pertama Liberia itu tidak pantas menerimanya.

 “Setiap satu dari tiga orang Liberia tidak dapat menghidupi dirinya sendiri. Mereka hidup dalam kemiskinan, dan mereka tidak mungkin peduli tentang hadiah Nobel,” kata Charles Brumskine, salah satu kandidat yang akan bersaing dengan Sirleaf. “Tidak ada sinkronisasi antara bagaimana dia terlihat di luar negeri, dan bagaimana dia terlihat di sini.  Dia akan sangat beruntung jika bisa mendapatkan 10 persen saja suara dalam pemilihan,” tambahnya.

Pemimpin oposisi juga meminta pertanggung jawaban Sirleaf, atas 14 tahun konflik sipil yang meninggalkan banyak kuburan massal di negara itu. Sirleaf yang merupakan mantan pendukung Taylor, diketahui juga pernah menerima uang darinya. Komisi Rekonsiliasi dan Pencari Kebenaran Afrika Selatan (Afsel), memutuskan perempuan lulusan Harvard itu dilarang memegang jabatan publik selama 30 tahun. Tetapi larangan itu diabaikannya. Sirleaf membela diri dengan menyebut dirinya telah menjadi musuh Taylor yang paling vokal.

“Saya telah membayar harga atas itu. Peristiwa dari pemerintah Taylor tidak menghapus dua dekade pekerjaan memperjuangkan hak rakyat di negara ini,” katanya.

Oposisi juga menilai Sirleaf gagal dalam menciptakan Liberia yang bersatu. Presiden yang telah berkuasa sejak 2006 itu juga dituding telah menyalahgunakan kekuasaannya. Hal itu terkait keinginannya mengamandemen masa jabatan presiden dan memperlama masa jabatan anggota mahkamah agung.

Akan tetapi, amademen itu gagal karena tidak memenuhi jumlah suara yang ditetapkan, yaitu minimal dua pertiga. Pencapaian Sirleaf selama berkuasa adalah dihapusnya hutang negara sebesar US$ 5 juta, yang menaikkan rating kredit Liberia sehingga dapat menerbitkan obligasi.

Pemerintahannya juga telah membangun klinik, sekolah dan jalan meski jumlahnya dinilai masih terlalu sedikit. Ia juga dipuji berhasil mempertahankan perdamaian, setelah 14 tahun perang sipil yang mendera negaranya. Sirleaf berjanji akan kembali fokus pada pembangunan jalan-jalan yang rusak akibat konflik.

“Sekali lagi, saya akan menjadi seseorang yang mencoba melaksanakan aspirasi dan harapan dari perempuan terutama di Afrika dan seluruh dunia. Itu merupakan tanggung jawab besar saya,” ucapnya.  [Berbagai Sumber/D-11]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN