SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 2 September 2014
Pencarian Arsip

Buku Bung Karno Bapakku, Kawanku, Guruku
Senin, 19 November 2012 | 11:03

Guntur Soekarnoputra [antara] Guntur Soekarnoputra [antara]

“Ini dadaku, mana dadamu? …….”. Cuplikan kalimat pendek yang punya sejarah penting ini diucapkan dengan penuh semangat oleh Guntur Soekarno di Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Sabtu  (17/11) malam.  Guntur dengan bergaya dan lantang mengucapkannya persis seperti Bung Karno berpidato dalam dokumentasi sejarah.

Kalimat itu pernah diucapkan mendiang Bung Karno pada pidato di Semarang tahun 1963 ketika terjadi konfrontasi dengan Malaysia. Dan pidato alah Bung Karno itu, seolah membangkitkan kenangan dan semangat heroic Presiden pertama RI tersebut.

Guntur Soekarno adalah putra tertua Bung Karno yang selama ini banyak diam sejak rezim Orde Baru. Tetapi, malam itu Guntur tampil seperti dipenuhi darah segar dan roh mendiang ayahnya yang tegas.

Suasana itu seolah membuat sempurna acara peluncuran buku Bung Karno, Bapakku, Kawanku, Guruku  karya Guntur Soekarno. Peluncuran buku edisi revisi ini mendapat sambutan luar biasa.

Sejumlah tokoh politisi, anggota dewan, rohaniwan, artis dan mantan petinggi militer. Sebutlah politisi kawakan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Sabam Sirait, Wakil Ketua Umum Golkar Theo L Sambuaga, Ketua PDI-P Tjahyo Kumolo, Panda Nababan, Ketua Partai Demokrat Hayono Isman, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono, Ketua DPD AM Fatwa.

Hadir pula, Yenny Wahid, putri mantan Presiden Abdurrahman Wahid, politisi muda PDI-P, Maruarar Sirait, Gandjar Pranowo, Rieke Diah Pitaloka yang kini calon gubernur Jawa Barat, rohaniwan Romo Benny Susetyo, psikolog Seto Mulyadi, peneliti Sugeng Sarjadi, pengusaha Arifin Panigoro, Eros Djarot.

Dari pihak keluarga besar Bung Karno, Guruh Soekarno, ada Puan Maharani, Puti Guntur Soekarno Putri, putrid semata wayang Guntur. Namun, anggota keluarga lainnya seperti Megawati Sokeranoputri dan suaminya Taufiq Kiemas, tidak kelihatan.   Rekonsiliasi Menurut Guntur, Megawati dan Taufiq diundang dalam peluncuran buku tersebut. Hanya saja, Megawati tidak hadir karena sedang berada di luar negeri. Selain keluarga Proklamator Bung Karno, hadir pula anggota keluarga proklamtor Bung Hatta, yakni Kemala Hatta yang menurut Guntur sudah seperti adiknya.

Tidak hanya itu, peluncuran buku Bung Karno ini juga istimewa dengan kehadiran keluarga mantan Presiden Soeharto seperti Tutut atau Siti Hardiyanti Rukmana, dan Siti Hutami Endang Adiningsih alias Mamiek. Soeharto. Mamiek bahkan naik ke panggung menerima buku Bung Karno karya Guntur tersebut.

Guntur sendiri menyampaikan terima kasih atas kehadiran keluarga Soeharto tersebut. Guntur juga menceriterakan bagaimana dia khususnya istrinya mempunyai hubungan khusus dengan Mamiek yang mempunyai hobi sama menjaga kelestarian tumbuhan langka Indonesia sejak beberapa tahun lalu.

Namun, kehadiran keluarga Soeharto ini dimaknai banyak kalangan sebagai sebuah ajang rekonsiliasi antara keluarga Bung Karno dengan Soeharto. Mamiek sendiri mengaku belum membaca buku karya putra tertua Bung Karno tersebut.
Tetapi, dalam penuturannya kepada SP, Mamiek mengapresiasi buku tersebut. Menurutnya, buku tersebut pastilah sesuatu yang sangat berharga bagi generasi bangsa ini untuk mengenal sosok seorang mantan presiden, tokoh besar Bung Karno.

Dia berharap, buku Bung Karno ini akan menginspirasi generasi Indonesia dan juga para pemimpin bangsa ini. “Sudah pasti buku ini sangat bermanfaat bagi generasi muda kita,” ujar Mamiek.

Berbagai komentar muncul atas peluncuran buku Bung Karno Bapakku, Kawanku, Guruku yang pernah diterbitkan tahun 1977. Umumnya mereka menilai, buku ini akan menjadi inspirasi yang bagus bagi generasi muda bangsa.

Psikolog Seto Mulyadi misalnya mengaku, telah membaca buku sebelumnya yang terbit tahun 1977. Disebutkan, dia telah terinspirasi buku yang ditulis sendiri putra tunggal Bung Karno, yakni Guntur Soekarno.

Seto bahkan mengaku telah membuat buku dengan judul Anakku, Sahabat, dan Guruku setelah membaca buku karya Guntur. Seto pun berharap para generasi muda membaca buku ini, karena ide-ide Soekarno yang dikenal dengan marhaenisme“ Saya sendiri sejak usia 12 tahun sudah membaca buku-buku Soekarno berjudul Di Bawah Panji Revolusi,” ujarnya.

Pengakuan serupa juga dilontarkan Rieke Diah Pitaloka. Menurutnya, dia sudah lama melahap buku Di Bawah Panji Revolusi tersebut.

“Saya terinspirasi banyak. Bahkan, hampir seluruh aktivitas saya sebagai LSM dan kini anggota DPR, saya terinspirasi dari karya Bung Karno Di Bawah Panji Revolusi,” Oneng, panggilan calon Gubernur Jabar ini.   Lanjutkan Revolusi Guruh Soekarno ketika menerima buku dari kakaknya Guntur ini mengatakan, dia selalu ingat pesan Bung Karno, yakni tentang revolusi. Menurutnya, Bung Karno sendiri menyatakan revolusi bangsa Indonesia belum selesai,karena itu generasi sekarang perlu melanjutkannya.

Romo Benny juga menilai, buku tersebut berisi tentang sosok dan peran Bung Karno tokoh bangsa yang relasinya tetap bagus dengan keluarga. Menurutnya, buku ini merupakan salah satu bentuk buku warisan bagi generasi muda dalam menafsirkan kekinian.

Sugeng Sarjadi pun berharap buku ini bisa dibaca banyak orang agar generasi bangsa sekarang bisa mendalami ide-ide Sokerno, sehingga generasi muda mengerti akarnya sediri. Misalnya, bisa mempunyai paradigma untuk mendiri dan berdaulat secara ekonomi, dan budaya.

Tjahyo pun menilai buku Bung Karno ini sangat bagus yang menceriterakan perannya sebagai pemimpin bangsa, dan rakyatnya. Menurutnya, buku ini tidak hanya perlu bagi generasi muda, tetapi semua pemimpin di Indonesia juga perlu meneladani Soekarno.
Acara peluncuran buku Bung Karno dilakukan secara istimewa, yakni diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selajutnya, diputar pula film dokumen sejarah yang memperlihatkan bagiamana keseharian Soekarno sebagai Presiden dan juga sekaligus ayah bagi anak-anaknya.

Guntur sendiri sebagai anak tertua Soekarno tampak dalam beberapa cuplikan film yang memperlihatkan begitu dekatnya dia dengan Soekarno. Panggung tempat acara ini dirancang secara khusus dengan warna merah dan dihiasi gambar bunga teratai yang di tengah tertulis logo PGS yang tak lain adalah inisial Puti Guntur Soekarno Putri.

Putri tunggal Guntur, yakni Puti Guntur Soekarno Putri menyebutkan, dia berinisiatif menerbitkan kembali buku karya bapaknya itu. Alasannya, buku dengan cerita lucu dan bahasa lugas dan sederhana tersebut mempunyai makna filosofis yang sangat bagus dan perlu diwarisi generasi bangsa.

Puti senang, karena ayahnya yang selama ini banyak berdiam diri, kini lebih cerah dan banyak mendorong Puti sendiri melakukan aktivitas politiknya. Buku ini kata Puti, mengisahkan kehidupan seorang Presiden, yang tak lain manusia biasa sebagai seorang bapak.

Buku dengan cover Sokerno bersama Guntur di istana negara tersebut, harganya cukup murah, yakni Rp 50.000. Dengan harga itu, Puti berharap bisa dibeli dan dibaca serta menginspirasi banyak orang.

Buku karya Guntur ini juga menjadi hadiah ulang tahun ke-67 Guntur, yang jatuh pada Sabtu 3 November 2012. Buku edisi pertama sendiri tahun 1977 menurut penuturan Guntur, terbit setelah mendapat izin dari kepolisian ketika itu. Namun, buku edisi revisi ini tidak lagi harus seizin polisi.

Setelah buku ini, Guntur menyatakan akan segera merampungkan buku berikutnya dengan tajuk surat-surat merah. Lalu apa gerangan isi buku surat-surat merah itu? “Tunggu aja dulu setelah terbit,” ujar Guntur singkat. [SP/Marselius Rombe Baan]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Pemilu 2014

selengkapnya »»

Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.