SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Selasa, 22 Mei 2012
Pencarian Arsip

Angki Purbandono, Naluri Bereksperimen yang Menghasilkan Karya Seni
Senin, 19 September 2011 | 14:47

Angki Purbandono [wordpress.com] Angki Purbandono [wordpress.com]

Scannography. Mendengar namanya saja orang awam akan berpikir keras untuk memahami artinya. Apakah itu merupakan perpaduan antara scan (memindai) dengan fotografi? Bisa saja. Karena Scannography posisinya tak jauh dari fotografi, meski memiliki sejumlah perbedaan dalam banyak penilaian.

Namun dengan scannography, Anda diajak melihat sekeliling kita melalui sebuah cara baru. Ini bukan sesuatu yang makro tetapi bisa juga disebut makro. Ini bukan gambar dokumentasi, tetapi kadang memiliki kesamaannya. Ini juga bukan fotografi tetapi juga mereproduksi realitas yang sama seperti gambar foto.

Scannography sudah ada sejak era 1800-an, yang dimulai dari teknologi sinar-X hingga akhirnya tercipta mesin scan. Sejak lama seniman-seniman di Amerika dan Eropa menggunakan media scan dan menuangkannya di media datar.


Adalah seniman asal Yogyakarta Angki Purbandono yang menonjol dalam seni scannography.  Karena aliran seni yang ditekuninya itu masih terbilang langka di Tanah Air, pria kelahiran 24 September 1971 ini kerap mendapat undangan pameran di manca negara sendirian.

Tahun lalu, ia diundang oleh Museum Seni Fukuoka di Jepang, dan di bulan September ini ia juga disibukan dengan kegiatan pameran di London, Inggris.

Angki merupakan jebolan sekolah Institut Kesenian Indonesia di Yogyakarta, Ia memulai melakukan karya seni scannography pada tahun 2005. Ketika itu ia tinggal di Korea selama setahun saat mendapatkan beasiswa untuk belajar di Museum Nasional Seni di Seoul.
Ia melatarbelakangi aliran seninya sekarang ini dengan bekal pendidikan jurusan fotografi di Institut Kesenian Yogyakarta. 

“Dari awal aku sudah suka bereksperimen, seperti kolase, animasi, dan stop motion. Pada saat aku mengenal fotogram, salah satunya teknik kamar gelap dimana obyek yang diletakan di atas kertas lalu disinari, dan kemudian kertas foto itu akan merekam bayangan dari obyek foto,” ungkapnya dalam sebuah wawancara.


Kemudian dari fotogram itu, Angki mengaku menambah ilmu dari teman-temannya sesama seniman. Ia membuat obyek yang kemudian ditaruh di atas kertas. “Namun ternyata aku lebih suka hasil bayangannya dari pada obyeknya. Nah, untuk mendapatkan obyek yang sama, akhirnya aku taruh di atas scan,” jelas Angki mengenai asal-muasal seni yang ditekuninya tersebut.

Karya-karya yang dihasilkan Angki dengan scannography sangat unik. Salah satu contoh adalah karyanya berjudul Bihun Park (taman bihun) yang menggambarkan ikan paus tengah tenggelam diantara gelombang putih yang ternyata adalah sperma dari mamalia terbesar di laut tersebut. Untuk membuat gelombang putih sperma itu, Angki meletakan sejumlah bihun alias mie putih.

Atau karyanya yang lain yang terinspirasi dari kunjungannya ke Fukuoka, Jepang berjudul Soldier (tentara). Angki meletakan sebuah foto lama mengenai seorang berpakaian tentara Jepang, dan di belakangnya ia meletakan boks makanan berisi ikan-ikan kering dan tempelan tulisan Jepang.

“Ini merupakan oleh-oleh kunjungan ke Jepang selama 50 hari. Foto tentara aku beli di pasar loak di sana. Kemudian aku juga meletakan makanan instan Jepang. Aku ingin memadukan sejarah masa lalu Jepang dengan diwakili gambar tentara dan masa kini yang diwakili makanan kemasan,” ungkapnya.

Sebagai seorang seniman, Angki sudah sembilan kali menggelar pameran tunggal, di Indonesia seperti Yogyakarta, Bali dan Jakarta. Juga di manca negara, seperti di Seoul, Korsel, Kuala Lumpur, Malaysia, dan baru saja di Singapura. Itulah Angki, seniman yang menggunakan teknik sederhana, namun menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. [Berbagai Sumber/SP/L-9]




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN