Angki Purbandono, Naluri Bereksperimen yang Menghasilkan Karya Seni
Senin, 19 September 2011 | 14:47
Angki Purbandono [wordpress.com] Scannography.
Mendengar namanya saja orang awam akan berpikir keras untuk memahami artinya.
Apakah itu merupakan perpaduan antara scan (memindai) dengan fotografi? Bisa
saja. Karena Scannography posisinya tak jauh dari fotografi, meski memiliki
sejumlah perbedaan dalam banyak penilaian.
Namun
dengan scannography, Anda diajak melihat sekeliling kita melalui sebuah cara
baru. Ini bukan sesuatu yang makro tetapi bisa juga disebut makro. Ini bukan
gambar dokumentasi, tetapi kadang memiliki kesamaannya. Ini juga bukan
fotografi tetapi juga mereproduksi realitas yang sama seperti gambar foto.
Scannography
sudah ada sejak era 1800-an, yang dimulai dari teknologi sinar-X hingga
akhirnya tercipta mesin scan. Sejak lama seniman-seniman di Amerika dan Eropa
menggunakan media scan dan menuangkannya di media datar.
Adalah
seniman asal Yogyakarta Angki Purbandono yang menonjol dalam seni
scannography. Karena aliran seni yang
ditekuninya itu masih terbilang langka di Tanah Air, pria kelahiran 24
September 1971 ini kerap mendapat undangan pameran di manca negara sendirian.
Tahun
lalu, ia diundang oleh Museum Seni Fukuoka di Jepang, dan di bulan September
ini ia juga disibukan dengan kegiatan pameran di London, Inggris.
Angki
merupakan jebolan sekolah Institut Kesenian Indonesia di Yogyakarta, Ia memulai
melakukan karya seni scannography pada tahun 2005. Ketika itu ia tinggal di
Korea selama setahun saat mendapatkan beasiswa untuk belajar di Museum Nasional
Seni di Seoul.
Ia
melatarbelakangi aliran seninya sekarang ini dengan bekal pendidikan jurusan
fotografi di Institut Kesenian Yogyakarta.
“Dari awal aku sudah suka bereksperimen, seperti kolase, animasi, dan
stop motion. Pada saat aku mengenal fotogram, salah satunya teknik kamar gelap
dimana obyek yang diletakan di atas kertas lalu disinari, dan kemudian kertas
foto itu akan merekam bayangan dari obyek foto,” ungkapnya dalam sebuah
wawancara.
Kemudian dari fotogram itu, Angki mengaku menambah ilmu dari
teman-temannya sesama seniman. Ia membuat obyek yang kemudian ditaruh di atas
kertas. “Namun ternyata aku lebih suka hasil bayangannya dari pada obyeknya.
Nah, untuk mendapatkan obyek yang sama, akhirnya aku taruh di atas scan,” jelas
Angki mengenai asal-muasal seni yang ditekuninya tersebut.
Karya-karya yang dihasilkan Angki dengan scannography sangat
unik. Salah satu contoh adalah karyanya berjudul Bihun Park (taman bihun) yang
menggambarkan ikan paus tengah tenggelam diantara gelombang putih yang ternyata
adalah sperma dari mamalia terbesar di laut tersebut. Untuk membuat gelombang
putih sperma itu, Angki meletakan sejumlah bihun alias mie putih.
Atau karyanya yang lain yang terinspirasi dari kunjungannya
ke Fukuoka, Jepang berjudul Soldier (tentara). Angki meletakan sebuah foto lama
mengenai seorang berpakaian tentara Jepang, dan di belakangnya ia meletakan
boks makanan berisi ikan-ikan kering dan tempelan tulisan Jepang.
“Ini merupakan oleh-oleh kunjungan ke Jepang selama 50 hari.
Foto tentara aku beli di pasar loak di sana. Kemudian aku juga meletakan
makanan instan Jepang. Aku ingin memadukan sejarah masa lalu Jepang dengan
diwakili gambar tentara dan masa kini yang diwakili makanan kemasan,”
ungkapnya.
Sebagai seorang seniman, Angki sudah sembilan kali menggelar
pameran tunggal, di Indonesia seperti Yogyakarta, Bali dan Jakarta. Juga di
manca negara, seperti di Seoul, Korsel, Kuala Lumpur, Malaysia, dan baru saja
di Singapura. Itulah Angki, seniman yang menggunakan teknik sederhana, namun
menghasilkan sesuatu yang mengagumkan. [Berbagai Sumber/SP/L-9]
Komentar Untuk Artikel Ini
Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!
