SP Logo
Selamat datang Tamu   |   
Rabu, 22 Mei 2013
Pencarian Arsip

Andrea Hirata Tanda Tangani 2.000 Novel Bajakannya
Rabu, 9 Mei 2012 | 11:00

Andrea Hirata [google] Andrea Hirata [google]

[JAKARTA] Penulis buku best seller tetralogi “Laskar Pelangi”, novel sastra yang paling laris di Indonesia dari tahun 2006 sampai 2007, Andrea Hirata mengaku kecewa saat menandatangani sebanyak 2.000 novelnya yang ternyata adalah bajakan.

“Suatu ketika saya datang di acara toko buku, saya tandatangani 2.000 buku semuanya bajakan lho. Saya harus tanda tangan dengan hati
berderai-derai karena mereka (penggemar) tidak tahu kalau itu bajakan,” ungkapnya usai menghadiri puncak perayaan Hari Kekayaan
Intelektual se-Dunia ke-12 Tahun 2012 di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (8/5).

Dahulu dipikirnya, penjualan buku bajakan tidak apa-apa karena itu berkaitan dengan perut orang. Namun, ketika diketahui bahwa pembajak
buku di Indonesia ternyata pemain besar, Andrea Hirata mengaku sakit hati.

“Suatu ketika ditemukan bajakan Laskar Pelangi satu kontainer dan saya berkali-kali makan di pinggir jalan di Jakarta ditawari bajakan buku
saya sendiri. Bang, abang harus baca ini buku, katanya. Dulu saya berpikir, tidak apa-apalah buku dibajak karena orang cari makan,
tetapi kemudian pembajak buku di Indonesia ternyata big player. Susah jadinya,” jelasnya.

Bahkan, karena novelnya pernah dibajak empat kali lipat dari yang aslinya, pria kelahiran Belitung, 24 Oktober 1982 silam itu pernah
ditawari oleh penerbit di Amerika Serikat seperti Farrar Straus and Giroux (FSG) untuk tidak lagi menulis novel dalam bahasa Indonesia
atau diedarkan di Indonesia.

Laskar Pelangi sendiri, kata Andrea sudah diterjemahkan hampir ke dalam 23 bahasa asing . November sudah diterbitkan FSG di New York
setelah di Tiongkok dan Korea. Sementara, Brazil, Portugal, dan Jerman akan diterbitkan dalam bulan ini. ”Begitu terbit di luar negeri tenang
karena tidak ada pembajakan,” imbuhnya.

Andrea yang terpilih diantara 15 tokoh yang dinilai memberikan kontribusi terhadap perkembangan sistem Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
di Indonesia, melanjutkan, kedatangannya ke Istana Wakil Presiden karena pemerintah dianggap masih peduli dengan HKI, tinggal hanya
bagaimana penegakan hukum yang jadi masalah. Karena bajakan juga terkait masalah kultural dan ekonomi.

”Saya berterima kasih, bukan karena dapat penghargaannya. Tapi, kita dapat momentum untuk penegakan hukumnya,” tukasnya yang mengatakan di Indonesia ada tiga yang tidak bisa dilawan yakni Allah SWT, wartawan, dan pembajak buku. [O-2]  




Kirim Komentar Anda

Silahkan login untuk memberi komentar

Hanya teks dan link yang diperbolehkan.


Komentar Untuk Artikel Ini

Jadilah yang pertama untuk menulis pendapat Anda!



Data tidak tersedia.
Data tidak tersedia.
AKTIVITAS & REKOMENDASI TEMAN